Berita

ilustrasi/net

Hukum

Dicurigai, Petinggi Polri Intervensi Penyidikan Sengketa Saham Hotel BCC Batam

JUMAT, 18 DESEMBER 2015 | 04:22 WIB | LAPORAN:

RMOL. Mabes Polri harus segera menuntaskan kasus dugaan penipuan dan pemberian keterangan palsu pada akta otentik serta penggelapan dalam kasus dugaan kepemilikan tidak sah Hotel BCC Batam, yang menjadikan Tjipta Fudjiarta, pengusaha Batam, menjadi tersangka.

Begitu dikatakan Kepala Bidang Intel Investigasi Lembaga Pemantau Penyelenggara Negara Republik Indonesia (LPPNRI) , Budi Prihyono, dalam surat elektronik yang diterima redaksi, Jumat (18/12).

Menurut dia, LPPNRI melihat tidak ada keseriusan dari penyidik kepolisian Dit Tipideksus Bareskrim Polri untuk menuntaskan kasus tersebut. "Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kasus tersebut bolak-balik antara kejaksaan ke kepolisian. Kenapa tidak segera dilengkapi petunjuk yang diminta kejaksaan? Karena itu melalui surat terbuka ini, kami minta bantuan Kapolri dan Kabareskrim untuk menginstruksikan jajaran Dit Tipideksus untuk segera menuntaskan kasus tersebut," kata Budi.


Dia jelaskan, apabila pihak Dit Tipideksus tidak dapat menemukan pelanggaran pidana di kasus itu, maka sebaiknya perkara ini dilimpahkan lagi kepada Dit Tipidum Bareskrim Polri yang telah menetapkan tersangka. "Dit Tipidum menyatakan kalau kasus itu ada unsur pidananya, sedangkan Dit Tipideksus malah menyimpulkan bahwa kasus ini bukan kasus pidana? Ada apa ini? Kok ada perbedaan? Ada kekhawatiran ini ada 'pesanan' dari pihak tertentu," duga Budi.

Dengan adanya dua hasil penyidikan yang berbeda ini, pihaknya menangkap kesan adanya 'keberpihakan'. "Kalau dalam satu kasus ada dua hasil berbeda, tidak salah kalau kami menduga ada keberpihakan dari oknum tertentu dalam kasus tersebut. Ada indikasi mau melemahkan atau menghentikan kasus tersebut," ujar Budi.

LPPNRI sendiri menduga dalam kasus tersebut, ada dugaan intervensi dari salah satu oknum petinggi Bareskrim Polri. Menurut Budi, adanya dugaan intervensi tersebut telah dilaporkan ke Propam pada 4/11 lalu. "Kami telah mengkroscek penanganan perkara tersebut di Propam, namun ternyata tidak sesuai harapan. Seharusnya pelapor mendapat SP2HP setelah dalam waktu 25 hari laporan masuk. Kenyataannya sampai sekarang belum mendapatkan suratnya. Saya sudah dijanjikan kembali akan mendapatkan SP2HP setelah 25 hari dari kemarin (17/12). Kita tunggu," jelas Budi.

Informasinya, Dit Tipideksus akan melakukan permohonan kembali gelar perkara kasus tersebut ke Karo Wasidik Bareskrim Polri. "OK, tapi tolong jangan lupa diundang juga pelapor dan Dit Tipidum Bareskrim Polri, biar jelas duduk persoalannya, sehingga tidak berlarutâ€"larut seperti ini," kata Budi.

Ditegaskannya, apabila Dit Tipideksus tidak mampu menangani perkara ini, maka sebaiknya dilimpahkan ke penyidik awal, yang telah mampu memproses penetapan tersangka atas nama Tjipta Fidjiarta dan melakukan penyitaan barang bukti yaitu Hotel BCC Batam melalui Pengadilan Negeri Batam,

Pihaknya juga mempertanyakan kemana hasil operasional Hotel BCC selama ini. "Kasus ini masih sengketa, dan menurut Conti Candra, hitungan penghasilan hotel itu kurang lebih enam miliar per bulan, kemana saja uang hasil keuntungan hotel tersebut. Jangan sampai jadi bancakan, karena nanti pasti akan terbuka dengan sendirinya," ujar Budi.

Sebelumnya, kata Budi, penyidik Bareskrim telah melakukan penghentian penyidikan dengan dikeluarkannya SP3 terhadap kasus tersebut, melalui surat No.S.Tap/55b/VII/2015/Dit Tipideksus tertanggal 1 Juli 2015. Namun, SP3 tersebut dinyatakan tidak sah dan cacat hukum oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, dalam sidang praperadilan yang diajukan Conty Chandra.

"Dalam hal ini, harusnya penyidik malu atas tidak keprofesionalannya, namun apa yang terjadi, tetap tidak dapat melengkapi berkas yang diminta kejaksaan sampai sekarang, mohon perhatian khusus oleh Bapak Kapolri dan Kabareskrim untuk dapat membina penyidik â€" penyidik kita agar dapat seprofesional mungkin dalam menangani perkara," demikian Budi.

Seperti diketahui, dalam putusan praperadilan di PN Jakarta Selatan, Hakim tunggal Tursinah Aftianti telah memerintahkan termohon (Polri) untuk melanjutkan penyidikan dan selanjutnya melimpahkan kembali berkas perkara tindak pidana No: LP/587/VI/2014/Bareskrim, tertanggal 9 Juli 2014 ke Kejagung.

Dalam pertimbangan hakim, disebutkan, bahwa tersangka Tjipta Fudjiarta sebagaimana dilaporkan,tidak membayar kewajibannya dalam pembelian saham hotel BCC tersebut.
Namun secara fakta, Tjipta Fujiarta beserta keluarganya telah menguasai hotel senilai Rp 400 miliar tersebut.

Conti Chandra sendiri pernah menyatakan akan melaporkan kasus ini ke Propam Mabes Polri terkait dugaan penyidik menghilangkan barang bukti penyerahaan berkas kepada jaksa penuntut umum,  terutama lampiran berkas bukti transfer asli yang direkayasa Tjipta. Conti Chandra berharap pihak Kepolisian dapat menjalankan amanat rakyat yang tidak terkontaminasi dengan kepentingan-kepentingan pribadi atau golongan, sehingga masyarakat makin percaya terhadap Intitusi Kepolisian. [sam]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya