. Indonesia tetap komitmen untuk berkontribusi dalam aksi global menurunkan emisi, meskipun memiliki kondisi geografis yang rentan terhadap perubahan iklim; dua per tiga wilayah terdiri dari laut, memiliki 17 ribu pulau, banyak diantaranya pulau-pulau kecil, 60 persen penduduk tinggal di pesisir, 80 persen bencana selalu terkait dengan perubahan iklim.
Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika menyampaikan Pernyataan ‎Kepala Negara pada Konferensi Perubahan Iklim Dunia atau Conference of the Parties (COP) 21 UNFCCC di Ruang Loire Area Parc Des Expositions Du Bourget, Paris, Perancis, Senin sore (30/11) waktu setempat.
"Indonesia berkomitmen m‎enurunkan emisi sebesar 29 persen di bawah business as usual pada tahun 2030 dan 41 persen dengan bantuan internasional," kata Presiden Jokowi.
Penurunan emisi itu, menurut Presiden Jokowi, akan dilakukan pada beberapa bidang. Di bidang energi misalnya, dilakukan dengan pengalihan subsidi harga bahan bakar minyak (BBM) ke sektor produktif, peningkatan penggunaan sumber energi terbarukan hingga 23 persen dari konsumsi energi nasional tahun 2025, dan pengolahan sampah menjadi sumber energi.
Di bidang tata kelola hutan dan sektor lahan, lanjut Presiden Jokowi, dilakukan melalui: penerapan one map policy, penetapkan moratorium dan review izin pemanfaatan lahan gambut, dan pengelolaan lahan dan hutan produksi lestari.
Sementara di bidang maritime, dilakukan dengan mengatasi perikanan ilegal/IUU Fishing, dan perlindungan keanekaragaman hayati laut.
"Upaya ini melibatkan seluruh masyarakat, termasuk masyarakat adat," kata Presiden Jokowi seperti dikutip dari laman
setkab.go.id.
Presiden Jokowi yang berbicara dalam bahasa Indonesia mengatakan, bahwa sebagai salah satu negara pemilik hutan terbesar yang menjadi paru-paru dunia, Indonesia hadir di Paris, Perancis itu untuk menjadi bagian dari solusi.
"Sebagai salah satu negara pemilik hutan terbesar yang menjadi paru paru dunia, Indonesia telah memilih untuk menjadi bagian dari solusi. Pemerintah yang saya pimpin, akan membangun Indonesia dengan memperhatikan lingkungan," tegas Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi juga mengemukakan, bahwa baru-baru ini, Indonesia mengalami kebakaran hutan dan lahan gambut. El Nino yang panas dan kering, dan telah menyebabkan upaya penanggulangan menjadi sangat sulit. Namun Presiden Jokowi bersyukur karena hal itu telah dapat diselesaikan.
Menurut Presiden Jokowi, penegakan hukum secara tegas dilakukan, langkah preventif telah disiapkan dan sebagian mulai diimplementasikan, restorasi ekosistem gambut dengan pembentukan Badan Restorasi Gambut.
Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi juga menginginkan agar kesepakatan Paris yang akan dicapai dalam konferensi tersebut harus mencerminkan keseimbangan, keadilan serta sesuai prioritas dan kemampuan nasional. "Mengikat, jangka panjang, ambisius, namun tidak menghambat pembangunan negara berkembang," pesan Presiden Jokowi.
Ia menambahkan, untuk mencapai kesepakatan Paris, semua pihak harus berkontribusi lebih dalam aksi mitigasi dan adaptasi, terutama negara maju, melalui: mobilisasi pendanaan 100 miliar dolar AS hingga 2020 dan ditingkatkan untuk tahun-tahun berikutnya, transfer teknologi ramah lingkungan dan peningkatan kapasitas.
"Mencapai kesepakatan di Paris adalah suatu keharusan. Saya mengharapkan kita semua menjadi bagian dari solusi, menjadikan bumi ini menjadi tempat yang nyaman bagi anak cucu kita, menjadikan bumi menjadi tempat yang sejahtera bagi kehidupan mereka," tutur Presiden Jokowi mengakhiri pernyataannya.
[rus]