Berita

Marsekal Agus Supriatna:net

Wawancara

WAWANCARA

Marsekal Agus Supriatna: Kalau Mau Helikopter Antirudal Seperti Dipakai Obama, Anggarannya 1,6 Triliun

JUMAT, 27 NOVEMBER 2015 | 08:23 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), berencana membeli tiga unit helikopter angkut Agusta Westland (AW) 101 buatan Inggris, untuk menggantikan helikopter Super Puma buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) untuk menunjang mobilitas Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla.

AW-101 merupakan helikopter angkut menengah antikapal se­lam yang dapat digunakan untuk kepentingan militer dan sipil. AW-101 dikembangkan oleh perusahaan patungan Westland Helicopters asal Inggris dan Agusta asal Italia. Helikopter ini diproduksi untuk memenuhi kebutuhan alat utama sistem sen­jata angkatan laut modern.

Selama ini, sejumlah pejabat negara, termasuk Presiden RI, mengunakan helikopter Super Puma. Memang jika ditilik dari sisi teknologi dan desain AW-101 lebih unggul jika dibanding­kan dengan Super Puma. Namun tentunya keunggulan teknologi itu harus dibayar dengan harga yang lebih mahal. Salah satu situs industri penerbangan dunia menyebut helikopter AW-101 minimal dibanderol dengan harga 21 juta dolar AS atau sekitar Rp 288 miliar (kurs: Rp 13.732 per dolar).


Selain mahal, biaya perawa­tannya kelak juga terlalu tinggi sebab Indonesia belum memi­liki teknisi untuk merawat atau memperbaiki helikopter AW 101 jika mengalami kerusakan. Sedangkan Super Puma, selain harganya lebih murah dan dibuat di dalam negeri, helikopter ini juga sudah cukup teruji karena terus mengalami perbaikan. Jika sewaktu-waktu Super Puma mengalami kendala teknis cukup tinggal mengontak PT DI di Bandung saja.

Untuk menjawab soal itu Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Agus Supriatna menjelaskan, alasan­nya mendatangkan helikopter AW-101.

Sebenarnya apa urgensinya pengadaan helikopter baru itu?
Karena sesuai dengan Rencana Strategis (Renstra) TNI AU 2015-2019, kita akan menda­tangkan enam unit helikopter. Semuanya didasarkan dari hasil kajian, yang karena memang saat ini skuadron VIP juga perlu untuk mengganti helikopter VIP.

Lantas kenapa memilih AW-101 yang jelas mesti impor, mengapa tidak Super Puma yang buatan PT DI?
Kita ada kajian membeli helikopter angkut yang kuali­fikasinya beratnya enam ton. Pastinya semua sudah melalui kajian. Setelah dikaji dengan baik, saya memutuskan untuk membeli helikopter itu. Dan Sebagai Komisaris PT. DI, saya punya alasan kenapa lebih memilih AW-101.

Selain itu?
Kita kaji juga bagaimana he­likopter itu bisa lebih baik dari sebelumnya. Seperti misalnya baling-balingnya supaya tidak sampai menerbangkan atap rumah. Semuanya sudah dikaji seperti juga rencana mendatang­kan pengganti untuk Hercules dan F-5 punya kita.

Helikopter itu nantinya akan digunakan khusus buat presiden dan wapres saja?
Bukan. Helikopter ini nanti­nya tidak hanya dipakai untuk presiden atau wakil presiden saja. Tapi juga bisa dipakai tamu negara atau pejabat tinggi negara. Bahkan Panglima TNI juga bisa. Yang jelas, untuk kegiatan presiden dan wapres, alat angkutnya harus aman dan nyaman.

Bagaimana spesifikasinya?
Nanti yang kita pasang di helikopter kita ada radar cuaca, infra merah dan alat monitoring di kokpit.

Soal antipeluru?
Nah itu juga yang kita kaji. Akan kita pasang di bagian mana. Karena tidak mungkin dipasang di seluruh badan. Itu akan menambah berat helikopter secara keseluruhan.

Apakah sama dengan yang dipakai presiden Amerika Serikat?
Kalau dengan helikopter Presiden (Barack) Obama tidak bisa disamakan. Kan helikopter AW-101 Presiden AS dipasang segala macam. Ada anti jam­ming, anti rudal dan lain seba­gainya. Anggarannya bisa men­capai 120 juta dolar AS (sekitar Rp 1,6 triliun).

AW-101 ini kan import, tidak khawatir nanti akan bernasib seperti pesawat F-16 yang ketika rusak kita kesuli­tan untuk mendatangkan suku cadangnya?

Nanti kita juga akan melatih teknisi, pilot untuk mengop­erasikan helikopter-helikopter tersebut. Jadi semuanya sudah dirancang dan dikaji dengan seksama.  ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya