Berita

foto :net

Bisnis

Indonesia Harus Contoh Kelola Lahan Gambut Di Malaysia

RABU, 18 NOVEMBER 2015 | 16:50 WIB | LAPORAN:

Director of Tropical Peat Research Laboratory Unit (TPRL) Malaysia, Lulie Melling menegaskan, semua pihak baik pemerintah dan masyarakat perlu diberi pemahaman bahwa tidak semua kebakaran di lahan gambut disebabkan oleh korporasi. Pasalnya, publik seringkali tidak bisa membandingkan antara gambut yang terkelola dengan gambut yang tidak terkelola.  

"Perlu komunikasi lebih baik agar tidak ada persepsi yang keliru," kata Lulie di Jakarta, Rabu (18/11).

Di Malaysia, lanjut dia, gambut bisa dikelola dengan baik sehingga sulit terbakar. Melling memaparkan, di Sarawak terdapat 1,2 juta hektar lahan gambut atau 13 persen dari luas daratan. Sarawak yang merupakan kawasan gambut terbesar di Malaysia, dapat terhindar dari kebakaran karena mempunyai teknologi pemadatan dan tata kelola air yang baik.


Menurut Lulie, persoalan kebakaran seperti yang terjadi di Kalimantan Tengah, tidak terjadi di Sarawak karena ada kesadaran bersama mengenai pentingnya menerapkan teknologi tata kelola air mulai dari petani kecil hingga korporasi.

Kesadaran mengenai pentingnya teknologi itu seharusnya dikomunikasikan akademisi kepada para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pengambil keputusan industri dan pekerja.

"Ketika tidak ada penelitian mengenai gambut maka yang terjadi fitnah. Penyelidikan tanah gambut itu kurang. Yang kita tahu tentang gambut masih kurang. Kita tidak boleh buat imajinasi tetapi diverifikasi di lahan gambut. Tanah gambut itu kekayaan Indonesia dan Malaysia karena tanah sumber penting  bagi sebuah negara, menentukan kekayaan sebuah negara," tegasnya.

Lulie mengingatkan bahwa tanah gambut bisa diubah menjadi lahan pertanian yang bisa ditanami kelapa sawit dan memberikan pendapatan kepada negara.

"Malaysia bisa terselamatkan krisis ekonomi tiga kali berkat sawit. Gambut ibarat itik mengeluarkan telur emas. Di serawak, jumlah areal perkebunan sawit naik dua kali lipat. Dari segi ekonomi di Sarawak, pendapatan secara langsung sawit di lahan gambut mencapai 400 juta RM-500 juta Ringgit per tahun," jelas Lulie.

Lulie mengatakan, sawit itu komoditi yang kena pajak paling tinggi. Sementara minyak nabati lain dapat subsisdi. Tapi, meski pajak tinggi, para pengusaha komitmen selalu bayar pajak. Dengan inovasi teknologi, kata Lulie, dapat menjadikan gambut sebagai lahan pertanian dan lahan perkebunan.

"Sekarang kita punya excavator untuk mengelola gambut. Dalam buku teks tanah tidak boleh dipadatkan tetapi kalau gambut itu harus dipadatkan," bebernya.

Sedangkan untuk memperbaiki gambut, Malaysia membuat drainase, pemadatan dan pengelolaan air.  Persiapan lahan ini perlu dilakukan sebelum digunakan lahan gambut untuk perkebunan. Persiapan antara lain  drainase, destumping, stacking, manajemen air dan dibuat tidak longgar.  

"Proses pemadatan tanah ini meningkatkan density soil bulk. Dengan hukum kapiler akan mengikuti ukuran lubang. Jika dipadatkan, muka air lebih lembab," paparnya.[wid]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Jauhkan Anasir Politik dari Persidangan Roy Suryo Cs

Kamis, 25 Juni 2026 | 08:18

Legislator PDIP Soroti Prinsip Gotong Royong Koperasi Buntut Meninggalnya Dua Calon Manajer KDMP

Kamis, 25 Juni 2026 | 08:12

Saham Teknologi Seret Nasdaq dan S&P 500

Kamis, 25 Juni 2026 | 08:03

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Emas Jatuh 3,3 Persen, Investor Waspadai Kenaikan Suku Bunga The Fed

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:46

DAX Tertekan Anjloknya Rheinmetall, Bursa Eropa Bergerak Mixed

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:30

Jejak Karir Listyo Sigit Diungkap dalam Buku 'Sang Arsitek Presisi Polri'

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:28

Misteri Rp250 Juta KDM, Taufik Hidayat Sudah Ditangkap, Eh ... Hadiahnya Malah Buron

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:00

Merayakan Hari Pelaut sebagai Sandera

Kamis, 25 Juni 2026 | 06:55

Tanpa Nurani

Kamis, 25 Juni 2026 | 06:33

Selengkapnya