Berita

ilustrasi:net

On The Spot

Warga Kramat Jati Pasang Karung Pasir Penahan Air

Situasi Pinggir Ciliwung Saat Katulampa Siaga I
SELASA, 17 NOVEMBER 2015 | 10:30 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

"Tong...tong...tong..." suara tiang listrik yang dipukul kayu dan besi menggema di Gang Haji Njun, RT 01, RW 01, Kramat Jati, Jakarta Timur, dini hari kemarin.

Puluhan warga yang bangun dari tidurnya, lantas berkumpul ke pusat suara. "Air mulai ting­gi," ujar Fajar, warga setempat yang ikut terjaga ketika suara tiang listrik dibunyikan.

Tepat pukul 1 pagi, air sudah tumpah dari Kali Ciliwung. Saluran air selebar 2,5 meter dengan kedalaman 4-5 meter itu, tidak mampu menahan kiriman air dari Bogor.


Seolah terbiasa dengan banjir, warga tanpa instruksi langsung mengangkut puluhan karung berisi pasir hingga triplek untuk meninggikan dinding turap yang sudah kelebihan air. Karung-karung pasir itu, sudah disiapkan warga jika banjir datang.

Setiap tahun, warga setempat kebanjiran ketika musim hujan datang. Penyebabnya, selain in­tensitas hujan yang meninggi, wilayah itu juga dekat dengan Kali Ciliwung. Jika ketinggian dinding tidak sebanding dengan keting­gian air, maka terjadilah banjir.

Padahal, tahun lalu, pemerin­tah telah merevitalisasi saluran air tersebut dengan dinding beton dan ditinggikan sekitar satu meter. Kendati begitu, tidak mampu menahan air yang volu­menya jauh lebih besar.

Tapi, dengan tambahan kar­ung-karung pasir yang sudah disiapkan, air tidak sampai masuk ke rumah-rumah warga. "Paling parah tahun 2007, saat itu sedeng­kul orang dewasa," katanya.

Perlu waktu satu jam, pulu­han warga bergotong royong membuat tambahan dinding turap seadanya. Meskipun sudah terpasang turap, warga masih cemas, apakah karung-karung pasir itu mampu menahan laju air hingga tidak masuk ke pe­mukiman.

Alhasil, warga memilih ber­kumpul di Pintu Air Hek, Kramat Jati, Jakarta Timur. Lokasinya berseberangan dengan rumah warga. Biasanya, di dalam ruan­gan petugas pintu air yang hanya 2x2 meter, warga bersama petu­gas pintu air berkumpul untuk mendapatkan informasi terkini.

Pintu air yang terletak tepat di perbatasan Kecamatan Kramat Jati dan Ciracas, Jakarta Timur itu selalu ramai ketika banjir datang. Pasalnya, baik warga Kramat Jati maupun Ciracas, memiliki kepentingan soal kiri­man air dari Bogor.

Di area pintu air yang be­ralamat di Jalan Raya Bogor itu, terdapat dua buah pintu air baja dengan masing-masing lebar 1,5 meter. Posisi pintu air menuju pemukiman warga di Kecamatan Ciracas, Pasar Rebo, dan seki­tarnya, berada di salah satu sisi aliran Kali Ciliwung.

Kedua daun pintu itu sejak malam hari kemarin dibuka lebar oleh petugas pintu air. Pasalnya, jika tidak dibuka, air akan me­luap dan membanjiri warga Kramat Jati yang berada di sisi sungai. Sesuai prosedur yang berlaku, pintu itu pun dibuka.

Tidak hanya pintu menuju kawasan Ciracas maupun Pasar Rebo yang dibuka, dua buah daun pintu yang melintangi Kali Ciliwung, terbuka lebar. Air leluasa mengalir dari hulu yang berada di Bendungan Katulampa Bogor, hingga Jakarta. Memang, belum ada jalan lain selain mem­buka lebar pintu dan berharap kiriman air segera berkurang.

Guyuran hujan dan kiriman air dari Bogor tidak mampu ter­tampung dinding Kali Ciliwung. Alhasil, air mengalir ke dara­tan yang lebih rendah. Yakni, ke Jalan Raya Bogor. Dalam sekejap, akses jalan dari Jakarta Timur menuju Bogor itu ter­genang air berketinggian 30 centimeter.

Masih dianggap beruntung oleh Fajar, peristiwa air meluap itu terjadi pada dini hari, saat tidak banyak kendaraan melintasi jalan yang sudah dipastikan padat saat pagi hingga malam. Pasalnya, se­lain menjadi penghubung antara Bogor dan Jakarta, kawasan itu juga dekat dengan Pertigaan Hek, akses jalan menuju Pasar Rebo, ter­masuk Bekasi. "Jam dua pagi, air luber ke jalan-jalan," cerita Fajar.

Tapi, kiriman air dari Bogor kian lama kian berkurang. Meskipun laju air masih terlihat deras dengan suara khasnya. Tepat pukul 03.30, ketinggian air tidak lagi melewati dinding Kali Ciliwung. Namun, genangan air di Jalan Raya Bogor baru surut saat pagi menjelang.

Azan Subuh berkumandang, penanda shalat itu seperti penan­da warga untuk pulang ke rumah masing-masing. Laju air sudah dianggap normal. Tidak ada lagi air yang tumpah dari dinding Kali Ciliwung. Termasuk Fajar, pria 20 tahun itu kembali ke rumahnya untuk tidur.

Sementara, Muhammad Nur Cahyadi, satu di antara lima petugas Pintu Air Hek tetap berjaga di dalam pos pintu air. Dia terus mendengarkan radio rik yang saling mengomunikasi­kan seluruh petugas pintu air di Jakarta, hingga dari hulu air, yakni Bendungan Katulampa.

Tepat jam empat pagi, Cahyadi akhirnya bisa bernafas lega. Pasalnya, Bendungan Katulampa mengabarkan penurunan status dari Siaga I dengan ketinggian air 210 cm, hingga Siaga IV ketinggian air sekitar 40 cm.

"Semakin tinggi air dari Katulampa, maka di Jakarta se­makin besar risiko banjinya," kata Cahyadi.

Berdasarkan informasi yang dilansir akun Twitter Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta @BPBDJakarta, pada pukul 04.00 WIB (Senin, 16/11), Bendung Katulampa siaga 4 atau keting­gian air 40 cm. Sedangkan di Depok setinggi 85 cm. ***

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Duel Panas Timnas Indonesia Vs Malaysia, Ini Rekor Statistiknya

Minggu, 27 September 2026 | 02:22

Tak Peduli Teman, Prabowo Tegas Sikat Pencuri Duit Negara

Minggu, 27 September 2026 | 02:02

Di Balik Kemudahan QRIS, Merchant Tetap Wajib Terima Tunai

Minggu, 27 September 2026 | 01:46

Gugatan Denny Indrayana Cs Untungkan Seluruh Parpol di DPR

Minggu, 27 September 2026 | 01:20

Pemerintah Jangan Pukul Rata Evaluasi IUP

Minggu, 27 September 2026 | 01:07

Emas Rahmat Bawa Indonesia Lompat ke Posisi 14

Minggu, 27 September 2026 | 00:35

Kowani Apresiasi Penegasan Menteri Hukum soal SK Kepengurusan

Minggu, 27 September 2026 | 00:17

Rahmat Erwin Abdullah Persembahkan Emas Kedua Indonesia

Minggu, 27 September 2026 | 00:05

Bhayangkari Salurkan 6 Ribu Paket Sembako untuk Warga Aceh

Sabtu, 26 September 2026 | 23:49

Wamenag Protes Keras Pembebasan Bersyarat Bechi Pemerkosa Santriwati

Sabtu, 26 September 2026 | 23:20

Selengkapnya