Berita

Saifullah Yusuf/net

Wawancara

WAWANCARA

Saifullah Yusuf: Selama Ini Kita Nggak Berani Katakan Setuju Atau Tidak Setuju Madura Menjadi Provinsi

SENIN, 16 NOVEMBER 2015 | 09:15 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Dalam menanggapi tuntutan pemekaran wilayah Ma­dura, pria yang akrab disapa Gus Ipul ini mengaku tidak punya alasan untuk menolaknya jika tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namundemikian, keponakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberikan beberapa cata­tan. Dia bilang, sebelum Madura dimekarkan menjadi provinsi, ada beberapa hal strategis yang perlu dikaji secara mendalam terlebih dulu agar pemekaran provinsi tidak lari dari tujuan awal, yakni ingin menyejahtera­kan masyarat Madura.

Menurut kajian Anda, layak nggak sih Madura jadi provinsi?
Ya kita nggak ada kajian khusus ya, tapi aspirasi Madura untuk menjadi provinsi itu sudah cukup lama juga, yang sekarang ini menguat lagi.

Ya kita nggak ada kajian khusus ya, tapi aspirasi Madura untuk menjadi provinsi itu sudah cukup lama juga, yang sekarang ini menguat lagi.

Apa saja yang akan jadi bahan pertimbangan Pemprov Jawa Timur, terkait layak atau tidaknya Madura jadi provinsi?
Ada beberapa faktor ya pentingdijadikan ukuran. Pertama kan kondisi geografis, umum­nya kan kalau kita belajar dari pembentukan provinsi baru seperti kepulauan Riau, Bangka Belitung, Gorontalo itu kondis­inya memang secara geografis perlu dipecah sebagai daerah otonomi sendiri untuk mening­katkan pelayanan.

Lalu?
Yang kedua, faktor ekonomis. Seberapa jauh kalau ini otonom punya kekuatan ekonomi yang memadai untuk menjadi sebuah provinsi. Jangan sampai malah justru membebani keuangan negara dan pemerintah hingga jatah untuk pembangunan men­jadi semakin kecil.

Dari dua segi itu, apa Madura sudah cukup layak?
Saya belum mendalami pasti ya, tapi yang paling sering disebut itu dana bagi hasil dan gas bumi. Tapi ini kan tidak berlaku pada masyarakat Madura saja. Rumusan bagi hasil itu kan ber­laku untuk seluruh Indonesia. Kan nggak mungkin begitu Madura jadi provinsi terus men­gubah rumusan.

Katanya Madura punya banyak sumber-sumber kekuatan ekonomi yang bisa dieksploitasi jika jadi provinsi?

Saya belum mendalami kekua­tan ekonominya seperti apa, tetapi yang saya dengar ya itu dana bagi hasil dari sumber daya alam, minyak dan gas.

Yang saya belum tahu juga kekuatan yang lain, kan tidak hanya itu sebetulnya. Kayak PAD dan lainnya.

Efektivitas pemerintahan, SDM-nya bagaimana jika Madura menjadi provinsi?
Nah itu, apa akan diisi dari (pemerintah) kabupaten-kabu­paten atau didrop dari daerah lain. Itu memang masih perlu didiskusikan lebih lanjut. Orang Madura itu kan tidak hanya tinggal di Madura kan. Ada di daerah-daerah lain juga. Kita bilang ada 50 persen lah yang ada di dalam dan 50 persen ada di luar, ambil mudahnya saja. Kemudian harus diperiksa lagi juga daya dukungnya seperti sekolah, rumah sakit, banyak faktor lah ya.

Sejatinya apa sikap Pemprov dan DPRD Jatim menyikapi wacana pemekaran provinsi Madura. Mendukung apa tidak?
Ya kita belum berani ngomong sekarang ya, soalnya nanti bisa ditafsirkan macam-macam karena lagi semangat. Jadi kita ngi­kutin aja.

Prinsipnya?
Prinsipnya kalau memenuhi syarat kenapa tidak, silakan aja nggak masalah. Lebih-lebih ini kan semangatnya untuk mem­percepat kesejahteraan. Itu kan kita nggak bisa nggak setuju.

Kabarnya ketika deklarasi, seluruh Bupati di Madura kompak tidak hadir. Ini apa ada tekanan dari pemprov?
Oh nggaklah... Nggak. Zaman sekarang mana bisa lagi nekan-nekan pak. Kita malah ingin wacana ini didiskusikan oleh masyarakat Madura tanpa ada tekanan. Nggak zamannya lagi nekan-nekan. Selama ini kita ng­gak berani mengatakan setuju atau tidak setuju. Dikira nanti kita ini conflict on interest. Tapi prinsip­nya kalau itu untuk kesejahteraan dan syarat-syaratnya terpenuhi ya kenapa tidak. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Noel Pede Didampingi Munarman

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:17

Arief Hidayat Akui Gagal Jaga Marwah MK di Perkara Nomor 90, Awal Indonesia Tidak Baik-baik Saja

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:13

Ronaldo Masuki Usia 41: Gaji Triliunan dan Saham Klub Jadi Kado Spesial

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:08

Ngecas Handphone di Kasur Diduga Picu Kebakaran Rumah Pensiunan PNS

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:00

Pegawai MBG Jadi PPPK Berpotensi Lukai Rasa Keadilan Guru Honorer

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:51

Pansus DPRD akan Awasi Penyerahan Fasos-Fasum

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:32

Dubes Sudan Ceritakan Hubungan Istimewa dengan Indonesia dan Kudeta 2023 yang Didukung Negara Asing

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:27

Mulyono, Anak Buah Purbaya Ketangkap KPK

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:20

Aktivis Guntur 49 Pandapotan Lubis Meninggal Dunia

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:08

Liciknya Netanyahu

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:06

Selengkapnya