Republik China atau yang dikenal dengan Taiwan tak ingin kembali ke pangkuan Republik Rakyat China di daratan. Bahkan, Taiwan tak pernah menjadi bagian dari RRC. Kedua negara memilih jalan hidup sendiri setelah perang saudara yang memisahkan para pendukung Mao Tse Tung dan Chiang Kai Shek pada 1949 silam.
Pertemuan kepala negara RRC dan Taiwan pertama kali sejak perang saudara itu di Singapura akhir pekan lalu (Sabtu, 7/11) tidak dimaksudkan sebagai upaya menyatukan kedua negara.
Taiwan dan juga RRC masih memegang teguh konsensus yang dihasilkan dalam pertemuan di Hong Kong pada 3 November 1992. Dalam pertemuan yang dihadiri dua organisasi dari kedua negara, ARATS dan SEF, disepakati kedua negara mengakui prinsip One China dengan intepretasi masing-masing.
Kepala Kantor Ekonomi dan Dagang Taipei di Indonesia (TETO), Liang-jen Chang, kembali menyampaikan hal ini ketika berbicara di kantor TETO, di Artha Graha, SCBD, Jakarta, Selasa siang (10/11).
Liang-jen Chang mengatakan, dalam dua dekade terakhir, setiap kali ada jajak pendapat mengenai kemungkinan Taiwan dan China bersatu, sekitar 75 persen warganegara Taiwan memilih status quo, atau kedua negara terpisah.
"Hanya 10-15 persen orang yang ingin merdeka atau reunifikasi," kata Liang-jen Chang.
Pertemuan antara Presiden Taiwan Ma Ying-jeou dan Presiden RRC Xi Jinping digambarkan secara dramatis. Keduanya datang dari arah yang berbeda dan bertemu di tengah ruangan, lalu berjabatan tangan selama satu menit sebelum masuk ke ruang pertemuan.
Menurut Liang-jeng Chang, pertemuan kedua presiden itu memberikan keuntungan tersendiri kepada Taiwan yang selama ini sulit diterima masyarakat internasional.
Dia juga berharap, pertemuan Ma dan Xi itu menjadi modal yang cukup bagi pemerintah Indonesia untuk mau menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan.
Sejauh ini Indonesia tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan. Namun demikian, pemerintah Indonesia tetap berusaha menjalin hubungan baik. TETO menjadi semacam kantor yang menghubungkan kepentingan kedua negara.
"Jika Taiwan dan China daratan bisa melakukan itu (menjalin hubungan baik) mengapa kita (Indonesia dan Taiwan) tidak? Kita bisa membangun hubungan lebih baik, kita bisa memperluas relasi dengan Taiwan," demikian Liang-jen Chang.
[dem]