Berita

Hafidz Abbas/net

Wawancara

WAWANCARA

Hafidz Abbas: Surat Edaran Kapolri Jangan Sampai Meredupkan Demokrasi Yang Telah 17 Tahun Kita Rawat

SELASA, 10 NOVEMBER 2015 | 08:47 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Hafidz Abbas menilai masih ada yang perlu disempurna­kan dari poin-poin Surat Edaran Kapolri yang memuat tentang prosedural penanganan kasus ujaran keben­cian alias hate speech. Dia mewanti-wanti upaya untuk menghidupkan kembali pasal-pasal karet melalui surat edaran berpotensi merusak tatanan demokrasi yang su­dah dirawat selama 17 tahun lebih. Berikut wawancara selengkapnya;

Bagaimana tinjauan Hak Asasi Manusia terhadap poin-poin dalam surat edaran Kapolri terkait penanganan ujaran kebencian?
Ya memang dalam Undang-undang Dasar 1945 itu Pasal 28, di situ ditegaskan silakan ya sebebas-bebasnya, tetapi jangan sampai kebebasan itu meng­ganggu hak orang lain. Jadi kalau kita ungkapkan teguran yang bisa membuat orang lain tersakiti, itu kan bertentangan dengan amanat ini. Jadi silakan sebebas-bebasnya, tapi jangan sampai menciptakan gangguan keamanan.

Contohnya?

Contohnya?
Misalnya memblok jalan, mengganggu ketertiban, keamanan,dan juga harus memperhatikan nilai-nilai agama budaya, moral, itu jelas sekali dibaca pasal 28 c itu.

Berarti dalam perspektif HAM, ujaran kebencian me­mang tidak dibenarkan?

Dalam perspektif HAM me­mang ada dua jenis crime, dua jenis kekejaman, dua jenis violence.

Apa saja itu?
Ada yang sifatnya fisik, ada yang sifatnya nonfisik. Kalau yang fisik itu orang yang dige­bukin, perang, dan pembakaran. Tetapi, ada kekejaman yang non fisik, misalnya orang yang difit­nah, surat kaleng dan macam-macam yang menurut pandan­gan kami itu seperti api dengan bensin. Jadi kalau kekejaman fisik ini dihindari, maka mudah. Jauhkan api dari bensin.

Maksudnya?
Benturan-benturan kebencian itu harus dihindari. Supaya ke­hidupan masyarakat itu interak­sinya lebih lembut, lebih menjun­jung tinggi dignity (martabat).

Nah dari sini perlu ditelaah, sebab kalau kita lihat beberapa waktu lalu ketika Inggris, dalam hal Salman Rushdi, membuat pernyataan mengenai adanya setan kan membawa kekisruhan global. Begitu juga film-film Fitna yang dibuat di Belanda, menimbulkan kekisruhan barat dengan Islam. Jadi ini memang harus dipahami, hanya saja pe­matangan dari bentuk hate speech itu, harus lebih elaboratif.

Apa masukan anda terkait surat edaran ini?
Jadi perlu dilihat dari negara-negara lain, bagaimana menerap­kan larangan hate speech, dan ham­pir seluruh negara di dunia sudah mengadopsi pendekatan ini.

Contohnya?
Bagi siapa menyebarkan ke­bencian tanpa didasari oleh bukti-bukti yang kuat, tidak ber­tanggung jawab, itu di Belanda dipidana tiga tahun. Di Belgia juga begitu, ada dua tahun. Saya lihat rata-rata dua atau tiga tahun. Di sinilah pentingnya sosialisasi, dan pemahaman budaya yang saling menghargai.

Tapi di surat itu justru disebut-sebut menghidupkan pasal karet, mengenai pence­maran nama baik. Padahal pasal yang memuat tentang itu sudah pernah dicabut oleh MK. Ini bagaimana?
Nah di situlah sebenarnya yang disayangkan. Lalu dengan poin itu meredupkan proses demokrasi yang telah kita rawat dan jalani 17 tahun terakhir ini. Jangan sampai surat edaran ini menyebabkan kebebasan berek­spresi mengalami keredupan.

Dia tetap harus kondusif, harus mendorong kebebasan itu, tapi kebebasan yang lebih bertanggung jawab.

Makanya perlu ada kajian, me­lihat pengalaman negara-negara lain bagaimana menumbuhkan kebudayaan yang berimbang antara kebebasan dan tanggung jawab. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Noel Pede Didampingi Munarman

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:17

Arief Hidayat Akui Gagal Jaga Marwah MK di Perkara Nomor 90, Awal Indonesia Tidak Baik-baik Saja

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:13

Ronaldo Masuki Usia 41: Gaji Triliunan dan Saham Klub Jadi Kado Spesial

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:08

Ngecas Handphone di Kasur Diduga Picu Kebakaran Rumah Pensiunan PNS

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:00

Pegawai MBG Jadi PPPK Berpotensi Lukai Rasa Keadilan Guru Honorer

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:51

Pansus DPRD akan Awasi Penyerahan Fasos-Fasum

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:32

Dubes Sudan Ceritakan Hubungan Istimewa dengan Indonesia dan Kudeta 2023 yang Didukung Negara Asing

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:27

Mulyono, Anak Buah Purbaya Ketangkap KPK

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:20

Aktivis Guntur 49 Pandapotan Lubis Meninggal Dunia

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:08

Liciknya Netanyahu

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:06

Selengkapnya