Berita

Bisnis

Waspada, Indonesia Jadi Incaran Penjual Teknologi Batubara

JUMAT, 06 NOVEMBER 2015 | 12:25 WIB | LAPORAN:

Selama periode 2004-2014, total pinjaman dan penjaminan untuk perusahaan di sektor energi terbarukan meningkat dari 95 miliar dolar AS pada lima tahun pertama menjadi 119 miliar dolar AS pada lima tahun kedua.

Namun, jumlah ini masih sangat tidak berarti dibandingkan dengan total pinjaman dan penjaminan untuk perusahaan berbasis bahan bakar fosil yang jumlahnya hampir 10 kali lipat yaitu sebesar 1.023 miliar dolar AS.

Hal ini didasarkan dari hasil penelitian bersama oleh Jaringan Fair Finance Guide International (FFGI) yang bertajuk 'Hancurnya Masa Depan Kita'. Kajian ini menyoroti pentingnya lembaga keuangan membuat komitmen untuk meningkatkan dampak positif dan mengurangi dampak negatif investasi mereka terhadap perubahan iklim.


Laporan kajian ini diluncurkan sebulan menjelang pertemuan United Nations Climate Summit (COP21) di Paris pada bulan Desember 2015 mendatang.

"Penelitian dilakukan dengan menganalisis tren pembiayaan 75 lembaga keuangan terhadap sektor bahan bakar fosil (batubara dan minyak dan gas), perusahaan peralatan energi terbarukan (solar panel, pembangkit listrik tenaga surya, turbin angin, turbin listrik, dan rekayasa panas bumi), proyek-proyek energi terbarukan dan perusahaan utilitas, yang berada di 8 Negara Koalisi FFGI," papar Sustainable Development Officer dari Perkumpulan Prakarsa, Rotua Tampubolon melalui siaran pers.

Di Indonesia, lanjut dia, penelitian dilakukan terhadap 11 lembaga keuangan yakni Citibank, UFJ Mitsubshi, OCBC NISP, HSBC, CIMB Niaga, BNI, BRI, Mandiri, BCA, Danamon, Panin dan juga delapan perusahaan yang bergerak di sektor tambang batu bara serta utilitas.

"Walaupun sudah ada bank yang mulai mengurangi proporsi pembiayaan bahan bakar fosil, seperti UFJ Mitsubishi, yang sudah mengurangi investasi sebesar delapan persen, tapi peminjaman dan penjaminan bank untuk bahan bakar yang paling polutif, seperti batu bara dan minyak bumi, masih jauh lebih tinggi," kata dia.

CIMB dan Panin misalnya, masih 100 persen berinvestasi di bahan bakar fosil. Bank jumbo lainnya seperti Mandiri masih 99 persen, sedangkan BRI dan BCA masing-masing masih 98 persen, Rotua menambahkan.

"Penggunaan bahan bakar fosil seperti batu bara sebenarnya sudah mulai ditinggalkan. Amerika Serikat. Dalam masa pemerintahan Obama misalnya, ia merinci, telah menutup sekitar 200 PLTU batubara. Tiongkok juga telah mengurangi impor batu bara. Praktis, Indonesia kini menjadi incaran penjual teknologi batubara.

Dalam kondisi seperti ini, menurut Manajer Kajian dari Walhi, Pius Ginting, Indonesia semestinya tidak menjadikan dirinya sebagai pasar. Seluruh bank dan institusi finansial lainnya, baik dari dalam dan luar negeri harus menghentikan dukungan investasinya pada teknologi batu bara.[wid]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya