Berita

AM Fatwa/net

Wawancara

WAWANCARA

AM Fatwa: Pemerintah Kembalilah Ke Jalan Yang Benar, Batalkan Proyek Kereta Cepat

JUMAT, 06 NOVEMBER 2015 | 08:10 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Senator asal DKI Jakarta ini bersama 76 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) lainnya ajukan hak interpelasi alias hak bertanya kepada Presiden Jokowi terkait terbit­nya Peraturan Presiden Nomor 107 Tahun 2015 Tentang Proyek Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung. DPD sudah layangkan surat pemanggilan Presiden Jokowi beberapa hari lalu.

Mengapa Anda menolak proyek kereta cepat Jakarta-Bandung?
Ini kemubaziran, proyek mercusuar, yang membohongi kepentingan rakyat. Dan sep­erti janji Presiden Jokowi dalam kampanye pilpres lalu, ini tidak ada urgensinya. Ini semata-mata kepentingan tertentu atau tuntu­tan kepentingan tertentu.

Anda mengatakan proyek ini di latarbelakangi kepentin­gan tertentu, bisa dijelaskan?

Anda mengatakan proyek ini di latarbelakangi kepentin­gan tertentu, bisa dijelaskan?
Kepentingan tertentu atau tuntutan kepentingan tertentu. Karena informasi awal yang kita terima dulu, Jokowi sebenarnya tidak setuju. Justru Jokowi sebe­narnya ingin konsisten den­gan program utamanya dalam nawacitanya yakni program poros maritim. Selain itu saya juga mendengar Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri juga tidak setuju. Lalu kalau Megawati saja tidak setuju saya yakin Wapres juga tidak setuju.

Jadi siapa sebenarnya yang punya kepentingan?
Itulah, jadi ini siapa sebe­narnya yang punya kepentingan. Lalu kenapa kemarin itu ada dua negara yang mengajukan proposal (proyek kereta cepat Jakarta Bandung) dan kenapa proposal yang diajukan oleh Jepang itu yang jauh lebih ren­dah ketimbang Cina, malah kok tiba-tiba memilih Cina. Harga yang diajukan Cina itu jauh lebih mahal, dan mereka juga mensyaratkan seluruh tenaga ahli dan tenaga kerjanya dari dari Cina, lalu tenaga kerja kita gimana? Tenaga kerja disuruh gigit jari doang? Padahal kalau mau dinilai Jepang itu jauh lebih murah, dan lebih berpengala­man dalam bidang kereta api, daripada Cina. Dan dia tidak ada persyaratan tenaga kerjanya harus didatangkan dari sana.

Ada kecurigaan ini didikte oleh Cina?
Kalau dulu ada namanya poros Jakarta-Peking, eh seka­rang malah ada poros ekonomi Jakarta-Beijing yang lebih ber­bahaya lagi karena menyangkut sektor ekonomi.

Bagaimana Anda menilai kebijakan Menteri BUMN yang lebih condong ke Cina?

Ya inilah yang ingin saya pertanyakan itu ke Ibu Rini Soemarno (Menteri BUMN), siapa sih yang pengaruhi bu Rini ini? Saya tidak yakin itu seorang Menteri BUMN murni. Ini pasti ada orang lain dibelakang atau disekelilingnya yang memen­garuhi. Lalu mem-fait acomply Presiden Jokowi, hingga akh­irnya Presiden seperti terpaksa.

Sudah banyak yang meng­kritik, tetap saja proyek kereta cepat dilanjutkan...

Ya kalau pemerintah tetap melanjutkan ini pastinya rakyat akan makin marah. Sekarang saja rakyat sudah banyak yang marah. Ekonomi sedang lemah, apa perlu sih kereta cepat. Karena antara Jakarta-Bandung ini sudah ada pesawat, ada kereta api, ada tol Cipularang. Andai kata kereta cepatnya Jakarta-Surabaya itu masih sedikit agak masuk akal.

Lantas apa langkah DPD ke depan?
Dari segi politik saya akan melakukan komunikasi politik terus dengan berbagai pihak untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa (proyek kere­ta cepat) ini merugikan.

Imbauan Anda kepada pe­merintah?
Ya pemerintah kembalilah ke jalan yang benar, batalkan proyek itu. Yang harus digarap itu justru tol laut untuk mewu­judkan poros maritim. ***

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Pecah Rekor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:12

Kritik Pandji Tak Perlu Berujung Saling Lapor

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:05

AHY Gaungkan Persatuan Nasional di Perayaan Natal Demokrat

Selasa, 13 Januari 2026 | 10:02

Iran Effect Terus Dongkrak Harga Minyak

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:59

IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Melemah ke Rp16.872 per Dolar AS

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:42

KBRI Beijing Ajak WNI Pererat Solidaritas di Perayaan Nataru

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:38

Belajar dari Sejarah, Pilkada via DPRD Rawan Picu Konflik Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:31

Perlu Tindakan Tegas atas Konten Porno di Grok dan WhatsApp

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:30

Konflik Terbuka Powell dan Trump: Independensi The Fed dalam Ancaman

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:19

OTT Pegawai Pajak Momentum Perkuat Integritas Aparatur

Selasa, 13 Januari 2026 | 09:16

Selengkapnya