Berita

Ilustrasi/net

Kental Nuansa Politik, Pansus Pelindo II Pasti Tak Sesuai Harapan Publik

KAMIS, 05 NOVEMBER 2015 | 20:00 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Nuansa politik sangat kental terlihat dalam pembentukan Pansus Pelindo II. Karena itu, Pansus tidak akan menghasilkan suatu keputusan yang berpihak kepada kepentingan publik.

‎‎‎"Saya pesismistis Pansus itu bisa menghasilkan keputusan sesuai harapan publik. Pembentukan pansus itupun terkesan terburu-buru kan. Tidak tau apa yang dikejar," kata pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Firdaus Syam, beberapa saat lalu (Kamis, 5/11). 

‎Belajar dari Pansus kasus Century, lanjut Firdaus, juga kini tak jelas rimbanya. Pansus century hanya panas di awal namun berakhir tanpa hasil apapun. Dan Pansus Pelindo tak akan jauh beda dengan pansus Century seba di dalam pansus muncul kepentingan sekelompok elit tertentu. 

‎Sehingga, kata dia, tak mengherankan publik bersikap apatis dengan keberadaan pansus itu. Publik tak lagi merasa bahwa Pansus Pelindo II mampu membongkar suatu kasus besar namun hanya diarahkan sesuai kepentingan segelintir elit.‎

‎"Pansus Pelindo akan bergulir menjadi bola liar yang terus mengambang. Nasibnya akan sama seperti pansus century. Saya kira publik tak perlu berharap banyak," katanya.‎

‎Menurutnya, tarik-menarik kepentingan di dalam pansus maupun tekanan dari partai politik tak dapat dihindari lagi. Hal itu terlihat dari sesama anggota pansus sudah mulai melihat gelagat dari arah pansus itu. 

‎Kata dia, seri terbaru perjalanan sejarah DPR akan diuji di pansus Pelindo. Karena tidak tepat ketika DPR menemukan suatu kasus di BUMN seperti Pelindo II langsung membentuk pansus. 

‎Ketidaktepatan Pansus Pelindo juga terlihat kinerja pansus selama ini yang terkesan membidik Lino terus meski ada target orang lain juga. Hal itu akan membuat preseden yang buruk kinerja pansus. 

‎"BUMN kita kan ada ratusan jumlahnya. Kalau separuh saja bermasalah DPR langsung bentuk pansus. Kalau sudah begitu DPR berubah saja jadi lembaga pansus," demikian Firdaus. ‎[ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Rupiah Undervalued: Cerita yang Terus Diulang

Senin, 27 April 2026 | 03:42

Truk Pengangkut Tembakau Terguling di Ruas Tol Jangli-Gayamsari

Senin, 27 April 2026 | 03:21

Pemerintahan Jokowi Berhasil Lakukan Kemiskinan Struktural

Senin, 27 April 2026 | 02:58

Menyorot Peran Indonesia dalam Stabilitas Asia Tenggara

Senin, 27 April 2026 | 02:35

Pakar Sebut Korporasi Kapitalis Penyebab Terjadinya Kemiskinan

Senin, 27 April 2026 | 02:12

Pemerintahan Jokowi Beri Jalan Lahirnya Fasisme

Senin, 27 April 2026 | 01:51

Bonus Rp1 Miliar untuk Pemain Persib Ternyata Berasal dari Maruarar Sirait

Senin, 27 April 2026 | 01:30

Strategi Memutus Rantai “Feederism” di Selat Malaka

Senin, 27 April 2026 | 01:12

Tiket Pesawat Tak Perlu Naik meski Harga Avtur Melonjak

Senin, 27 April 2026 | 00:45

Pelaku Penembakan di WHCD Dipastikan Beraksi Sendirian

Senin, 27 April 2026 | 00:42

Selengkapnya