Berita

rizal ramli/net

Kegaduhan ala Rizal Ramli Sangat Dibutuhkan Publik dan Bikin Pemerintah Berwibawa

KAMIS, 05 NOVEMBER 2015 | 09:19 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Di era keterbukaan dan demokrasi saat ini, ada semacam anomali yang belakangan menjadi perbincangan. Yaitu soal kegaduhahan. Tiba-tiba "gaduh" menjadi diksi yang cukup negatif, dan dipakai untuk menyudutkan.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Segitiga Institute, Muhammad Sukron. Menurut Sukron, hal ini cukup aneh sebab Indonesia bukan lagi bawah kendali otoritarianisme. Di bawah rezim otoriter model Orde Baru, yang menjadikan stabilitas sebagai kunci, mungkin kegaduhan bisa dipersoalkan, bahkan dipenjarakan.

"Tapi ini era demokrasi. Demokrasi memang tidak identik dengan kagaduhan, namun demokrasi memberi jalan setiap orang untuk bicara dan bertindak di ruang publik secara bertanggungjawab," kata Muhamamd Sukron kepada Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu (Kamis, 5/11).


Hal yang lebih ironis, lanjut Sukron, ketika ada pejabat publik membuat gebrakan untuk membuat Indonesia lebih baik, ada kelompok status quo yang selama ini menikmati fasilitas dan akses kuasa yang kadang-kadang didapat dengan cara koruptif, kolutif dan nepotistik yang menggunakan diksi "kegaduhan" untuk menyudutkan sang pejabat.

"Contoh Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli. Gebrakan-gebrakan dia ini bukan kegaduhan, tapi terobosan untuk kesejahteraan rakyat. Tentu mengguncang status quo yang selama ini dimanjakan kekuasaan," kata Sukron.

Bila tetap mau dipaksakan, Sukron membedakan ada dua jenis kegaduhan. Kegaduhan pertama adalah kegaduhan substansial. Inilah kegaduhan yang dibutuhkan publik, dan juga menjadikan pemerintahan terlihat jelas berpihak pada masyarakat yang selama ini tak menikmati hasil pembangunan.

"Kegaduhan model ini sangat dibutuhkan publik, dan bahkan membuat pemerintah kian berwibawa," ungkap Sukron.

Kegaduhan jenis kedua, lanjut Sukron, adalah kegaduhan yang dilakukan para pejabat yang selama ini tidak berpihak pada rakyat. Kelompok inilah yang ketika mau dijamah oleh penegak hukum misalnya, lalu menuduh penegak hukum juga bikin gaduh.

"Padahal kegaduhan ini bermula dari dirinya. Mereka adalah pejabat yang terus KKN dan merugikan rakyat, membela kepentingan asing, dan hanya mengurus kepentingan diri dan kelompoknya," demikian Sukron. [ysa]

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Tom Holland dan Zendaya Bakal Rehat Setelah Spider-Man Brand New Day

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:52

IAW: Ada Dugaan Intervensi Kasus Dedi Congor

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:51

Sidang Perdana Praperadilan Febrie Adriansyah Digelar 18 Agustus

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:42

Prabowo Tinjau Deretan Inovasi BRIN, dari Air Minum Darurat hingga Teknologi Nuklir

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:35

Komisi III DPR Minta Polisi Ungkap Pemasok Senpi di Yayasan Sekolah Jaksel

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:28

Partisipasi Bermakna di Black Box Regulasi Kesehatan

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:15

Amplop Berisi 14 Ribu Dolar Singapura Memang Dikembalikan, tapi Isinya Berkurang

Kamis, 06 Agustus 2026 | 19:02

Prabowo Tekankan Pentingnya Sains dan Teknologi bagi Masa Depan Bangsa

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:54

Isu Pergantian Kapolri Bisa Merugikan Presiden jika Tidak Hati-Hati

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:53

Food Station Masih Andalkan Laba Bersih dari PSO

Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:30

Selengkapnya