Berita

sya'roni/net

Politik

Jokowi Gagal, Tidak Ada Kebijakan Besar Hentikan Asap

RABU, 28 OKTOBER 2015 | 14:21 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pemerintahan Presiden Joko Widodo telah gagal menangani bencana asap. Indikasinya korban yang berjatuhan makin banyak dan jangkauan asap makin meluas bahkan sudah memasuki Pulau Jawa.

Penilaian tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal  Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika) Sya'roni kepada Kantor Berita Politik, Rabu (28/10).

Meski korban banyak berjatuhan dan jangkauan asap makin meluas, sebut Sya'roni, pemerintah tidak jua menetapkan bencana asap sebagai bencana nasional. Terkesan pemerintah menganggap remeh. Alih-alih itu Presiden Jokowi malah memanfaatkan bencana asap untuk 'mencuri' panggung dengan blusukan ke titik-titik kebakaran hutan.


"Buktinya, blusukan Jokowi hasilnya nol besar. Sebaran asap makin meluas dan korban nyawa juga mulai berjatuhan. Mestinya Presiden Jokowi bertindak tegas seperti yang dilakukan pemerintah Singapura, menarik produk-produk dari perusahaan yang diduga sebagai penyebab kebakaran," imbuh Sya'roni.

Jokowi, masih kata Sya'roni, tidak boleh pandang bulu. Perusahaan apapun yang terbukti membakar lahan harus ditindak.

"Jokowi jangan terbelenggu oleh rasa balas budi, misalnya perusahaan pembakar merupakan donatur kampanye pilpres. Kepentingan publik lebih penting daripada hanya memuaskan donatur kampanye. Kalau pun benar ada aliran dana kampanye pasti tidak ada klausul hitam di atas putih yang membolehkan membakar lahan," katanya mengingatkan.

Menurut Sya'roni, Jokowi harus segera menetapkan bencana asap sebagai bencana nasional. Jokowi jangan lagi menjadikan bencana asap sebagai area pencitraan. Presiden tidak harus blusukan ke titik-titik api, tetapi yang terpenting adalah menetapkan kebijakan besar untuk menghentikan bencana.

"Penting juga agar Jokowi menindak tegas seluruh perusahaan yang diduga membakar lahan," tukas Sya'roni.[dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Pelaku Kekerasan Seksual di Gili Trawangan Dibekuk di Bali

Rabu, 29 April 2026 | 16:19

Tak Terlantar Lagi, Keluarga Pasien RSUD Banggai Laut Bisa Pakai Rumah Singgah

Rabu, 29 April 2026 | 16:10

KPK Ungkap Ada yang Ngaku-ngaku Bisa Atur Kasus Bea Cukai

Rabu, 29 April 2026 | 16:09

Update Laka KA di Bekasi Timur: 15 Meninggal, 91 Luka-luka

Rabu, 29 April 2026 | 16:05

Anggota DPRD Jabar Bongkar Dugaan “Mahasiswa Gaib” di Kampus

Rabu, 29 April 2026 | 15:56

PLN Perkuat Posisi Indonesia sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Digital

Rabu, 29 April 2026 | 15:44

5 Kg Sabu Gagal Dikirim ke Solo dari Malaysia

Rabu, 29 April 2026 | 15:42

Kemenhaj Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Bus Jemaah Haji di Madinah

Rabu, 29 April 2026 | 15:37

PT KAI Harus Perkuat Sistem Peringatan Dini untuk Cegah Kecelakaan

Rabu, 29 April 2026 | 15:27

Prabowo Tegaskan RI Negara Paling Aman: yang Mau Kabur, Kabur Aja!

Rabu, 29 April 2026 | 15:25

Selengkapnya