Berita

mohammad sobary/net

Bisnis

Budayawan Curigai YLKI Sarat Kepentingan Pribadi

SENIN, 26 OKTOBER 2015 | 08:34 WIB | LAPORAN:

Budayawan Mohammad Sobary menilai sikap Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia yang menentang pernyataan Panglima TNI soal Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) terlalu memihak kepentingan asing. Sobary mencurigai, sikap YLKI lebih mencerminkan kepentingan pribadi yang memimpin lembaga tersebut. 

"Memihak atau tidak tergantung pada ideologi pribadi-pribadi yang memimpin. Mereka yang akhirnya menentukan sikap lembaganya," ujar Sobary di Jakarta.

Sobary sangat heran, YLKI seakan tutup mata dan pura-pura tidak tahu bahwa FCTC itu dicampuri kepentingan asing.


"Yang lebih dahsyat mereka (YLKI) lebih memihak aturan FCTC, aturan saing, dan pura-pura tidak menyadari adanya campur tangan kepentingan asing yang sangat merugikan kepentingan bangsa kita, ternyata ada saja orang Indonesia yang tidak bersedia memihak kepentindan Indonesia," sindir Sobary.
 
Ia mengingatkan, sikap YLKI yang melecehkan kelompok petani, juga merupakan bentukk ekerasan. Namun, ia mengingatkan agar petani tidak bersikap berlebihan terhadap kelompok seperti YLKI.

"Sayang tenaga dan pikiran kita untuk melawan orang begitu. Harus diperhatikan betul, pernyataan jawaban mereka cerminan sikap lembaga apa pribadi? Bisa saja sikap pribadi dan kepentingan pribadi diselubungi sikap lembaga," tandas Sobary.

Peneliti Puskindo, Zamhuri menyatakan, setidaknya ada empat ancaman bila FCTC diratifikasi. Pertama, pelarangan terhadap rokok aromatik seperti rokok kretek. Larangan ini dipastikan Indonesia akan kebanjiran rokok putih di tengah kematian rokok kretek yang asli Indonesia dengan  kandungan hamper 100 persen lokal.

 Kedua, FCTC juga mengatur pemutusan rantai hubungan suplai tembakau. Aturan ini melarang penanaman hingga perdagangan di seluruh negara yang meratifikasi FCTC. Ketiga, FCTC mengharuskan negara menggenjot cukai hingga 80 persen agar konsumsi rokok rendah. Keempat, adanya larangan bagi lembaga negara untuk berinterkasi dengan IHT.

Ini jelas pelanggaran HAM. IHT adalah industri legal yang memiliki hak sama dengan warga negara lain," ujarnya. 

Karena itu, menurut Zamhuri, FCTC tidak cukup dicurigasi sebagai cara asing menguasai IHT di Indonesia, namun harus ditolak.[wid]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya