Berita

ilustrasi/net

X-Files

Perusahaan Sawit Milik Saratoga Ikut Bakar Lahan

General Manager-nya Ditahan Polisi
SELASA, 20 OKTOBER 2015 | 09:06 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

RMOL.  Tersangka kasus pembakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan terus bertambah, baik kalangan perorangan maupun korporasi.
 
Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Anang Iskandar mengungkapkan, kepolisian telah menetapkan 240 tersangka kasus pembakaran hu­tan dan lahan. Mereka terdiri dari 223 tersangka perorangan dan 17 tersangka dari korporasi.

Dari jumlah itu, sebanyak 85 tersangka ditahan. Terdiri dari 80 tersangka perorangan dan lima tersangka korporasi. "Ada tersangka dari perusahaan asing yang sudah ditahan polisi. Satu perusahaan berada di Riau dan satu perusahaan lagi di Sumatera Selatan," ujar bekas Kepala Badan Narkotika Nasional itu.


Dalam mengusut kasus pembakaran hutan dan lahan ini, kepolisian bekerja sama dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

Direktur V Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, Brigjen Yazid Fanani menambahkan, tersangka dari kalangan korporasi yang ditahan selevel manajer maupun pejabat yang bertanggung atas operasional perusahaan. "Level manajemen perusahaan," tandasnya.

Yazid mengatakan 57 kasus pembakaran hutan dan lahan sudah dilimpahkan ke penuntut umum. "(Kasus) empat perusahaan masuk ke (pelimpahan) tahap satu," sebutnya.

Kasus yang masih tahap penyidikan sebanyak 218. Penyidikan dilakukan terhadap 113 peroran­gan dan 48 perusahaan. Sedangkan 26 kasus masih penyelidikan.

Kapolda Riau Brigadir Jenderal Bambang Dolly Bambang Hermawan mengungkapkan tersang­ka kasus pembakaran hutan dan lahan sebanyak 44 orang. Salah satu tersangka dari korporasi adalah FK. Tersangka ditangkap di wilayah Sumatera Barat. "Dia tidak kooperatif," katanya.

FK adalah Frans Katimonangan, General Manager PT Langgam Inti Hibrindo (LIH). Ia dianggap bertanggung jawab atas pembakaran 533 hektar lahan. Terdiri dari 333 lahan ko­song dan 200 hektar lahan sudah ditanami sawit. Perkebunan PT LIH berada di Desa Kemang, Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, Riau.

PT LIH adalah perusahaan sawit yang sahamnya dimi­liki Saratoga Sentra Business (SSB) dan Provident Capital Indonesia (PCI). SSB adalah perusahaan milik Sandiaga Uno. Terbukti membakar lahan, Kementerian LHK membeku­kan izin PT LIH bersama dua perusahaan di Sumatera Selatan; PT PT Tempirai Palm Resources dan PT Waringin Agro Jaya.

Di Kalimantan, pengusutan kasus yang sama juga terus di­lakukan. Kepala Humas Polda Kalbar Ajun Komisaris Besar Arianto mengungkapkan kepoli­sian sedang mengusut 33 kasus.

Empat kasus masih tahap penyelidikan. Delapan belas kasus sudah ke penyidikan. Tujuh kasus sudah dilimpahkan berkas perka­ra. Sedangkan empat kasus sudah sampai ke tahap penuntutan.

Penyidik menetapkan 25 orang tersangka dalam kasus ini. Termasuk tersangka dari korporasi yakni PT Kayung Agro Lestari (KAL) dan PT SKM yang berada di Ketapang. Kemudian PT PJP di Kubu Raya. Perusahaan modal asing (PMA) PT Rafi Kama Jaya yang beroperasi di Melawi sudah jadi ter­sangka kasus pembakaran hutan dan lahan yang menyebabkan kabut asap.

Untuk mencegah pembakaran hutan dan lahan untuk pembu­kaan perkebunan dan ladang, Polda Kalbar mengerahkan para Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas). "Dimotori Babinkamtibmas, kita memo­bilisasi warga untuk bersama-sama menanamkan sikap anti pembakaran lahan dan hutan," kata Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto.

Pengerahan itu dianggap efekif karena Babinkamtibmas sehari-hati bersinggungan dengan masyarakat. "Kita ingin masyarakat sadar bahwa membakar hutan dan ladang itu salah dan merusak lingkungan," ujarnya.

Seminggu sekali, kata Arief, Babinkamtibmas mengadakan apel siaga anti kebakaran hutan yang diikuti masyarakat dari ting­kat RT maupun RW. Masyarakat perlu dilibatkan karena luasnya kawasan yang harus dijaga.

Masyarakat juga dilibatkan dalam memadamkan hutan dan lahan terbakar. "Peralatan kita masih minim. Tanpa dibantu masyarakat, sulit untuk meman­tau dan memadamkan kebakaran yang luas," tandas Arief. ***

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

Mengenal Bupati Rejang Lebong M Fikri yang Baru Terjaring OTT

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:15

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

UPDATE

Prabowo Cap Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis Sebagai Aksi Terorisme

Kamis, 19 Maret 2026 | 20:16

Motif Penyerang Aktivis KontraS Inisiatif atau Perintah Atasan?

Kamis, 19 Maret 2026 | 20:15

Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 Hijriah Jatuh pada 21 Maret 2026

Kamis, 19 Maret 2026 | 19:51

Pemerintah Siapkan Skema WFH PNS hingga Swasta, Berlaku Usai Idulfitri

Kamis, 19 Maret 2026 | 19:24

Waspada, Ratusan Suspek Virus Campak Ditemukan di Sumut

Kamis, 19 Maret 2026 | 19:20

Hilal 1 Syawal Belum Terlihat di Jawa Barat

Kamis, 19 Maret 2026 | 19:07

Bank Mandiri Berangkatkan Lebih dari 10.000 Pemudik Lebaran 2026

Kamis, 19 Maret 2026 | 19:05

Megawati Curhat ke Prabowo Lawatan di Arab Saudi dan UEA

Kamis, 19 Maret 2026 | 18:42

MUI: Jangan Paksakan Idulfitri Berbarengan

Kamis, 19 Maret 2026 | 18:29

MUI Imbau Umat Tunggu Hasil Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:41

Selengkapnya