Berita

ilustrasi/net

Kearifan Lokal Solusi Atasi Kebakaran Hutan

SENIN, 19 OKTOBER 2015 | 20:54 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

DPR mengapresiasi langkah pemerintah‎ yang telah melibatkan dunia internasional dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Tapi, keterlibatan tersebut tidak boleh berakibat pada penekanan kepada Indonesia.

"Kita tidak bisa menutup diri, namun tidak boleh ada tekanan internasional yang dapat membuat citra Indonesia negatif. Dunia juga mesti memahami bahwa Indonesia ini sumber oksigen yang besar, yang bisa menghasilkan pencegahan terhadap perubahan iklim luar biasa yg sedang terjadi," kata Anggota Komisi I DPR RI Syaefullah Tamliha di Jakarta, Senin (19/10).
‎
Anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu mengingatkan pemerintah agar melakukan evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan untuk mencegah kebakaran hutan terutama berkait dengan perlindungan terhadap masyarakat adat.


"Kebakaran hutan terjadi karena hilangnya kearifan lokal. Kebakaran di lahan gambut selama ini teratasi karena masyarakat adat mengedepankan kearifan lokal dan hanya membakar dengan teknik tertentu dan dilakukan menjelang hujan," jelas Tamliha yang menyelesaikan program S-2 di bidang lingkungan dan melakukan penelitian tentang kKearifan Lokal terhadap Kebakaran Lahan dan Hutan' itu.

Pemerintah, menurut dia, tidak bisa hanya menyalahkan perusahaan sawit yang membuka lahan. Ia menilai, perusahaan-perusahaan sawit itu hanya terkena ekses dari munculnya kebakaran.

Menurut Tamliha, jika memang terbukti melanggar pemerintah bisa saja memberikan sanksi berupa denda kepada perusahaan sawit. Namun, yang paling penting justru bagaimana pemerintah memberikan perlindungan kepada masyarakat adat agar mereka bisa bertahan hidup tanpa harus menimbulkan kebakaran atau bencana lebih luas.

"Kita tidak bisa melarang masyarakat adat membuka lahan dengan membakar hutan, mereka warga Indonesia yang berhak hidup seperti warga Indonesia yang lain. Sementara ini raskin sebagai bantuan untuk bertahan hidup sebagai contoh hanya sampai di ibukota kabupaten. Jadi harus ada undang undang tentang masyarakat adat yang melindungi mereka. Solusinya adalah pengayoman terhadap masyarakat adat," demikian Tamliha.

Diketahui, perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) di Provinsi Riau mengaku merugi sekitar Rp 7,2 triliun terutama akibat berkurangnya produktivitas, dan bertambahnya biaya operasional akibat asap melanda sejak dua bulan terakhir.[dem]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya