Berita

Kapten Oliver Siburian/rmol

Karena Selamatkan Penumpang, Pilot Ini Tidak Digaji Selama 7 Bulan

Pilot Minta Lion Air Profesional
SABTU, 17 OKTOBER 2015 | 19:44 WIB | LAPORAN:

Pilot Lion Air, Kapten Oliver Siburian meminta pihak perusahaan berlaku adil dan memperjelas status kepegawaiannya di Lion Mentari Airline.

Pasalnya, meski masih berstatus sebagai pilot kontrak Lion Air, kapten pilot yang merintis karirnya dari 1989 itu sudah tujuh bulan tidak mendapatkan gaji. Ia juga terhitung sejak Maret 2015 tidak diberikan tugas untuk menerbangkan pesawat.

"Kalau diberhentikan silakan, tapi saya minta hak-hak saya. Seperti surat referensi dari perusahaan agar saya bisa bekerja di perusahaan penerbangan lain. Bukan sebaliknya digantung status kepegawaian saya," ujar Oliver saat ditemui Kantor Berita Politik RMOL di Jakarta, Sabtu (17/10).


Oliver menjabarkan alasan dirinya digantung pihal Lion Air. Kejadian itu, kisahnya, bermula ketika dia enggan menerbangkan pesawat Lion Air Boeing 737-900 ER dengan nomer penerbangan JT 602, rute Jakarta-Jambi pada 27 Desember 2014 lalu.

Dikisahkan Oliver bahwa saat itu dirinya telah melakukan prosedur penerbangan. Seperti koordinasi dengan flight operations tentang cuaca dan rute-rute yang akan dilalui. Termasuk berkoordinasi dengan teknisi pesawat, kru pesawat, kopilot, dan melakukan cek sebelum terbang.

"Pada saat start mesin nomer dua itu saya mengalami hot start. Itu temperatur-nya tidak dapat stabil dan temperatur mesinnya mau ke merah (hot start). Sedangkan kalau ke hot start kita harus mematikan mesin. Sesuai non normal checklist, kalau terjadi hot start mesin harus dimatikan. Kenapa? Karena kalau diteruskan pesawat akan terbakar dan meledak, overheating dia," jabar Oliver.

Oliver menjelaskan, normalnya sebelum terbang, pesawat harus didorong mundur dari parkiran dan harus melakukan start mesin. Prosedur penerbangan itu mengharuskan menyalakan mesin nomer dua yang ada di sebelah kanan pesawat telebih dahulu sebelum menyalakan mesin nomer satu.

Setelah terdapat kejanggalan pada mesin nomer dua, dirinya meminta bantuan teknisi untuk memeriksa keadaan mesin. Saat itu teknisi mesin meminta untuk mencoba menyalakan mesin nomer satu, lalu menyalakan mesin nomer dua.

"Start pertama gagal, saya laporkan ke teknisi. Ini terjadi hot startdan saya langsung mematikan mesin. Saya koordinasi dengan teknisi di bawah. Teknisi meminta untuk menyalakan mesin nomer satu. Mesin nomer satu berjalan normal, EGT (Exhaust Gas Temperature) normal. Lalu teknisi minta coba start mesin nomer dua. Begitu start nomer dua, sama prosesnya. EGT tidak dapat stabil dan hot start," ujar Oliver.

Atas kejadian itu, Oliver enggan menerbangkan pesawat tersebut karena salah satu mesin pesawat bermasalah. Bahkan setelah dirinya meminta mengganti pesawat Boeing 737-900ER dengan penggantinya. Ternyata, permasalahan serupa juga terjadi di pesawat Boeing pengganti tersebut.

"Teknisi bilang ganti pesawat saja dan setelah ganti pesawat, penumpang sudah masuk saya melakukan prosedur sebelum penerbangan dari awal. Saat menyalakan mesin nomer dua, kembali lagi terjadi hot start. Saya matikan mesin dan menyatakan kepada teknisi bahwa saya tidak berani menerbangkan pesawat kembali pada jadwal hari itu juga. Saya mencatatkan komplain pada Aircraft Flight Maintenance Log (AFML)," ujarnya

Pilot yang memiliki 11.300 jam terbang itu mengaku depresi lantaran insiden hot start tersebut berulang di pesawat Lion Air lain.

"Saya stres berat, tensi saya tinggi. Saya takut saja menerbangkan pesawat seperti itu. Kalau saya memikirkan bisnis is the first bisa saja saya paksa untuk terbangkan itu pesawat. Mesin dua nggak bisa dipakai, bisa gunakan mesin nomer satu. Saya nggak mau begitu. Kekhawatiran saya, nanti terjadi hal-hal fatal yang membahayakan keselamatan seluruh penumpang dan kru pesawat," kata Oliver.

"Penumpang saya 207 orang, saya lebih mengutamakan keselamatan dan saya punya otoritas untuk menyelamatkan seluruh penumpang saya. Kedua saya menjaga reputasi saya dan perusahaan, karena nanti ijin terbangnya bisa dicabut," tutup Oliver. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Kesiapan Listrik dan Personel Siaga PLN Diapresiasi Warga

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:51

Megawati Minta Kader Gotong-Royong Bantu Sumatera

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:35

Muannas Peringatkan Pandji: Ibadah Salat Bukan Bahan Lelucon

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:28

Saksi Cabut dan Luruskan Keterangan Terkait Peran Tian Bahtiar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:53

Rocky Gerung: Bagi Megawati Kemanusiaan Lebih Penting

Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:40

Presiden Jerman: Kebijakan Trump Merusak Tatanan Dunia

Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:53

Ostrakisme Demokrasi Athena Kuno: Kekuasaan Rakyat Tak Terbatas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:31

Megawati Resmikan Pendirian Kantor Megawati Institute

Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:53

Khamenei Peringatkan Trump: Penguasa Arogan Akan Digulingkan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:06

NST 2026 Perkuat Seleksi Nasional SMA Kemala Taruna Bhayangkara

Sabtu, 10 Januari 2026 | 17:36

Selengkapnya