Berita

foto:net

Bisnis

Jepang Berminat Bangun Pabrik Komponen di Indonesia

SABTU, 10 OKTOBER 2015 | 07:36 WIB | LAPORAN:

Gubernur Perfektur Okayama, Ryuta Ibaragi menyampaikan minat perusahaan industri Jepang untuk menanamkan modal di Indonesia.

Dalam kunjungannya ke Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Jakarta, kemarin (Jumat, 9/10), Gubernur Ibaragi mengatakan perusahaan yang selama ini memasok produsen mobil Mitsubishi berminat untuk mendirikan pabrik komponen di Indonesia.

Ibaragi menyebutkan, saat ini ada 422 perusahaan di wilayah Prefektur Okoyama yang investasi ke luar Jepang.


"Di Indonesia sendiri ada beberapa perusahaan-perusahaan besar kami yang melakukan investasi di Indonesia," katanya melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (101/10).

Minat investasi perusahaan Jepang ke Indonesia, kata Ibaragi, sebetulnya sangat besar. Hanya saja, ia menyampaikan beberapa catatan dari investor Prefektur Okoyama tentang iklim investasi di Indonesia, antara lain mengenai persoalan pengupahan yang tidak dapat diprediksi.

Ia juga menuturkan, dari beberapa hari kunjungan ke Tanah Air, masyarakat Indonesia sangat terbuka terhadap perusahaan-perusahaan Jepang.

"Untuk MRT, kami menyampaikan terima kasihnya atas kepercayaan pemerintah Indonesia pada perusahaan Jepang. Tentu kepercayaan tersebut tidak akan disia-siakan dan akan dijaga sebaik mungkin," ujarnya.

Franky menambahkan, perusahaan-perusahaan Jepang mendapat prioritas dalam fasilitasi investasi. Pasalnya, investasi Jepang yang ada di Indonesia merupakan salah satu komponen utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

"Kami siap mengawal investasi dari Jepang. Dengan adanya Marketing Officer wilayah Jepang serta kantor perwakilan BKPM di Tokyo, idealnya dapat dimanfaatkan oleh pengusaha-pengusaha Okoyama," katanya.

BKPM mencatat, untuk semester I 2015, Jepang menduduki ranking tiga realisasi penanaman modal asing (PMA) terbesar dengan 1,6 miliar dolar AS setelah Malaysia (2,6 miliar dolar AS dan Singapura (2,3 miliar dolar AS). Di bawahnya, yakni Korea Selatan (0,8 miliar dolar AS) dan Amerika Serikat (0,6 miliar dolar AS).[wid]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya