Berita

nasaruddin umar/net

MENGENAL FIKIH KEBHINEKAAN (36)

Belajar dari Pribadi Ibnu Rusyd

JUMAT, 02 OKTOBER 2015 | 08:16 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

BAGI orang yang pernah bela­jar Ilmu Fikih, khususnya Fikih Perbandingan Mazhab, maka pasti mengenal Ibnu Rusyd, yang bernama lengkap Abu al-Walid Muhammad ibnu Ahmad Ibn Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ahmad ibnu Rusyd, yang di Eropa lebih dikenal dengan Averroes. Ia lahir di Cordo­va, Spanyol sekarang, pada tahun 520H/1126M. Buku fikihnya yang sangat terkenal ialah Bidayah al-Mujtahid (dua jilid), kitab yang amat komprehen­sif membandingkan berbagai pendapat para ulama fikih tentang berbagai masalah keagamaan. Ia so­sok ilmuan multi disiplin tetapi sangat tawadhu. Ia tidak ingin melihat umat berbeda pendapat karena persoalan non-dasar (fru'iyyah). Ia juga tidak ingin menghakimi para ulama yang terlibat di dalam kete­gangan perdebatan fiqhiyyah pada masanya. Ia menyadari bahwa ketegangan antargolongan pada masanya disebabkan karena sentimen mazhab dan aliran.

Ia menulis kitabnya Bidayah al-Mujtahid yang sesungguhnya bertujuan untuk melentur­kan pandangan para ulama fikih pada masanya yang terkotak-kotak sebagai akibat fanatisme mazhab. Kalangan pengikut Imam Abu Hanifah mengunggulkan pendapat imamnya. Demikian pula para pendukung Imam Malik, Imam Syafi', dan Imam Ahmad ibn Hanbal. Para murid atau pengikut salahsatu imam tidak segan-segan menjelek-jelekkan pendapat dan pengikut ma­zhab lain. Ibnu Rusyd berusaha meredekan ketegangan dengan menulis ‘buku pintar’ un­tuk mempertemukan berbagai pengikut ma­zhab. Kitab Bidayah al-Mujtahid bisa dikatakan semacam 'Fikih Kebhinnekaan' pada masanya.

Dalam suatu masalah (maudhu') ia menguraikan sebab musabbab yang menyebabkan ter­jadinya perbedaan pendapat para ulama. Ia tidak tampil menghakimi para ulama yang berbeda pendapat tetapi mencoba untuk mempertemukan wawasan yang yang berbeda di antara mereka. Ia sangat berhati-hati di dalam menilai penda­pat Imam Abu Hanifah yang lebih moderat bah­kan cenderung 'liberal', Imam Ahman ibn Hanbal yang lebih ketat, Imam Malik yang lebih tekstual, dan Imam Syafi' yang konsisten dengan penda­patnya yang moderat. Kehadiran kiat Bidayah al-Mujtahid ikut merekatkan solidaritas umat. Ia juga menjembatani antara kalangan konserfatif yang sering diwakili oleh Imam Al-Gazali dan go­longan Mu’tazilah, meskipun juga ia pernah di­tuding memiliki pendapat yang rancu (Ingat wa­cana Tahafut al-Falasifah dan Tahaft al-Tahafut). Dalam kondisi di mana masyarakat terjadi pem­bengkakan kualitas, pasti ketegangan dan dialog panas sering terjadi. Namun jika tidak segera did­inginkan maka hal itu akan cenderung destruktif. Di silah Ibnu Rusyd berusaha menghimpun dan menyatukan umat dengan kemampuan kearifan yang dimilikinya.


Ibnu Rusyd sendiri pernah menjabat hakim di Sevilla dan Cordova pada masa Khalifah al-Manshur Ibnu Rusyd, walapun pada akhirnya ia dibenci oleh khalifah karena ketajaman pen­anya. Ia muliti talenta. Terampil menjadi peja­bat, cekatan di medan perang, dan mendalami banyak disiplin ilmu, seperti kedokteran, hu­kum, matematika-tasawuf, dan filsafat. Ia me­mang seorang "kutu buku" sejak kecil dan lahir dari genetik cerdas baik dari pihak ayah mau­pun ibunya. Keturunannya juga banyak tercatat sebagai ilmuan tersohor.

Keunggulan Ibn Rusyd dalam bidang keil­muan dibuktikan dengan parktek keseharian Ibn Rusyd. Di pagi hari ia peraktek sebagai dokter dan ilmuan kimia-biologi, di siang hari ia per­aktek sebagai ahli fikih dan memberi bantuan hukum kepada masyarakat. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya