Berita

JELANG MEA 2015

Pimpinan MPR Khawatir Indonesia Hanya Jadi Pasar

SENIN, 21 SEPTEMBER 2015 | 20:09 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Wakil Ketua MPR RI Mahyudin mengkhawatirkan Indonesia hanya menjadi pasar negara lain ketika Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) diberlakukan pada akhir tahun ini. Penduduk Indonesia yang besar menjadi potensial market negara lain.

"Kita gagah-gagahan memasuki era MEA. Padahal Indonesia hanya menjadi potensial market. Berapa penduduk Malaysia? Berapa penduduk Singapura? Indonesia yang berpenduduk besar menjadi potensial market dari negara lain," kata Mahyudin ketika berbicara di Universitas Asyafiiyah, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat (Senin, 21/9).

Politikus Partai Golkar itu memberi contoh defisit perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok. Dalam perdagangan kedua negara, Indonesia defisit miliaran dolar AS. "Maka, kurs rupiah pun merosot, mencapai Rp 14.000 lebih," ujarnya.


Mahyudin mengapresasi langkah pemerintah mengatasi gejolak rupiah ini dengan mengeluarkan kebijakan jangka pendek dan jangka panjang untuk memperkuat rupiah. Menurutnya, menghadapi MEA para mahasiswa perlu mendalami ideologi Pancasila sehingga memiliki nasionalisme yang kuat. "Kita bangun rasa nasionalisme. Kita bangkitkan kebanggaan pada Tanah Air. Buat diri kita bangga terhadap Indonesia. Kalau nasionalisme itu tidak ditumbuhkan, Indonesia hanya menjadi pasar bagi negara lain," tegasnya.

Dalam konteks itu, Mahyudin setuju dengan kebijakan pemerintah yang meletakkan perguruan tinggi di bawah Kementerian Riset. "Perguruan tinggi memang harus berorientasi risert, tidak hanya mencetak sarjana. Dengan riset maka akan memotivasi kalangan muda bangkit membawa Indonesia menjadi negara yang dibanggakan. dan menumbuhkan rasa cinta Tanah Air," katanya.

Kedatangan Wakil Ketua MPR Mahyudin ke Universitas Asyafiiyah adalah dalam rangka membuka sosialisasi Empat Pilar MPR kerja sama antara MPR dan Fakultas Ekonomi Universitas Asyafiiyah. Sosialisasi diikuti sekitar 450 mahasiswa dan menampilkan nara sumber dua anggota MPR, Abdul Malik Haramayn dari Fraksi PKB dan Hardisoesilo dari Fraksi Golkar. [sam]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya