Wakil Ketua MPR RI Mahyudin mengkhawatirkan Indonesia hanya menjadi pasar negara lain ketika Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) diberlakukan pada akhir tahun ini. Penduduk Indonesia yang besar menjadi potensial market negara lain.
"Kita gagah-gagahan memasuki era MEA. Padahal Indonesia hanya menjadi potensial market. Berapa penduduk Malaysia? Berapa penduduk Singapura? Indonesia yang berpenduduk besar menjadi potensial market dari negara lain," kata Mahyudin ketika berbicara di Universitas Asyafiiyah, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat (Senin, 21/9).
Politikus Partai Golkar itu memberi contoh defisit perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok. Dalam perdagangan kedua negara, Indonesia defisit miliaran dolar AS. "Maka, kurs rupiah pun merosot, mencapai Rp 14.000 lebih," ujarnya.
Mahyudin mengapresasi langkah pemerintah mengatasi gejolak rupiah ini dengan mengeluarkan kebijakan jangka pendek dan jangka panjang untuk memperkuat rupiah. Menurutnya, menghadapi MEA para mahasiswa perlu mendalami ideologi Pancasila sehingga memiliki nasionalisme yang kuat. "Kita bangun rasa nasionalisme. Kita bangkitkan kebanggaan pada Tanah Air. Buat diri kita bangga terhadap Indonesia. Kalau nasionalisme itu tidak ditumbuhkan, Indonesia hanya menjadi pasar bagi negara lain," tegasnya.
Dalam konteks itu, Mahyudin setuju dengan kebijakan pemerintah yang meletakkan perguruan tinggi di bawah Kementerian Riset. "Perguruan tinggi memang harus berorientasi risert, tidak hanya mencetak sarjana. Dengan riset maka akan memotivasi kalangan muda bangkit membawa Indonesia menjadi negara yang dibanggakan. dan menumbuhkan rasa cinta Tanah Air," katanya.
Kedatangan Wakil Ketua MPR Mahyudin ke Universitas Asyafiiyah adalah dalam rangka membuka sosialisasi Empat Pilar MPR kerja sama antara MPR dan Fakultas Ekonomi Universitas Asyafiiyah. Sosialisasi diikuti sekitar 450 mahasiswa dan menampilkan nara sumber dua anggota MPR, Abdul Malik Haramayn dari Fraksi PKB dan Hardisoesilo dari Fraksi Golkar.
[sam]