Berita

mahyuddin

Wakil Ketua MPR: Lawan Liberalisasi dan Kekuatan Asing yang Merugikan

SENIN, 21 SEPTEMBER 2015 | 01:20 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Pelatihan untuk pelatih Sosialisasi Empat Pilar bagi 100 dosen perguruan tinggi agama Islam wilayah Kopertais III Yogyakarta yang berlangsung sejak Kamis (19/9) resmi di tutup. Penutupan Training of trainers (ToT) itu dilakukan oleh  Wakil Ketua MPR RI Mahyudin ST, MM pada Minggu (20/9) malam. Mahyudin menutup kegiatan Tot bagi  perwakilan 14 perguruan tinggi agama Islam Yogyakarta itu dengan mengucap Hamdallah, dilanjutkan pelepasan tanda peserta TOT.

Dalam sambutannya Mahyudin antara lain mengharapkan, para peserta bisa mensosialisasikan materi yang diperoleh selama ToT kepada mahasiswa. Karena memang, itulah  salah satu alasan mengapa ToT diselenggarakan bagi para dosen. Dosen dianggap sebagai pelaku perubahan, khususnya bagi mahasiswa.

Pancasila kata Mahyudin diyakini menjadi pemersatu bagi bangsa Indonesia. Pengakuan seperti itu juga pernah disampaikan DN Aidit, salah satu pemikir dan pelaku G 30 S PKI. Karena itu Aidit yakin, untuk meruntuhkan Indonesia harus menggantikan Pancasila dengan ideologi yang lain. Dan dengan alasan bahwa Indonesia sudah bersatu, maka Aidit pun melakukan propaganda untuk mengganti Pancasila.


"Pancasila sudah ada sejak lama, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diambil dari nilai luhur bangsa Indonesia. Karena itu sampai kapanpun, pancasila akan selalu sesuai bagi bangsa Indonesia, dan tidak bisa digantikan dengan ideologi lainnya," kata Mahyudin.

Indonesia kata Mahyudi tidak pantas dijajah oleh Belanda.  Karena wilayah negara Belanda tidak seluas Indonesia, penduduknya pun  biasa saja.  Artinya bisa dikalahkan oleh orang Indonesia. Namun, Belanda sangat pandai dalam memecah belah. Sehingga pasukan Belanda dapat menguasai Indonesia.

Indonesia bisa dikalahkan Belanda karena masyarakat  Indonesia  tidak berpegang pada Pancasila. Sehingga mereka  menjadi lebih mudah diadu domba. Kondisi ini sama seperi zaman Sriwijaya dan Majapahit. Ketika itu keduanya adalah kerajaan besar, namun akhirnya hancur karena tidak memiliki persatuan.  

"Saatnya kita menentang dan melawan kekuatan asing yang hendak menghancurkan Indonesia. Salah satunya seperti IMF dan paham  liberalisasi yang dibawanya. Kita tidak boleh berdiam dan harus berani melawan, karena semua itu berlawanan dengan Pancasila", kata Mahyudin menambahkan. [zul]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya