Berita

sya'roni/net

Politik

Negara Makin Genting, Saatnya Kocok Ulang Pimpinan DPR‎

SELASA, 15 SEPTEMBER 2015 | 15:46 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Sekarang saat yang tepat untuk kocok ulang pimpinan DPR. Pasalnya, Setya Novanto cs telah gagal membawa parlemen menjadi kekuatan penyeimbang eksekutif.

‎"Soal pertemuan dengan Donald Trump hanya masalah kecil yang dibesar-besarkan oleh politisi ‎PDIP. Kondisi negara sudah sangat genting, rupiah terus melorot tapi DPR sebagai wakil rakyat tetap membisu. Pimpinan DPR gagal membawa parlemen menjadi kekuatan penyeimbang," ujar Sekjen Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanik), Sya'roni, kepada Kantor Berita Politik RMOL, sesaat lalu (Selasa, 15/9).‎

H‎ampir semua kebijakan pemerintah, sebut Sya'roni, tidak pernah mendapatkan kritik yang tajam. Sementara itu D‎PR terus disibukkan dengan masalah internal seperti rencana pembangunan tujuh proyek DPR,  pertemuan dengan Donald Trumph, penaikan tunjangan DPR dan PAW politisi PDIP yang menjadi menteri.


‎"Semua yang diributkan itu tidak ada korelasinya dengan kesejahteraan rakyat," imbuh Sya'roni.‎

‎Menurut Sya'roni, banyak masalah kebangsaan yang semestinya mendapat respon dari DPR diabaikan begitu saja. Soal turunnya minyak dunia, misalnya, mestinya DPR mendesak pemerintah menurunkan harga BBM. Atau soal pelemahan rupiah, DPR sama-sekali tidak bersuara. Padahal kalau rupiah terus melemah, maka banyak rakyat yang akan menjadi sengsara.

‎"Lemahnya kepemimpinan DPR bisa jadi karena faktor latar belakang pribadi dan politik. Seperti Setya Novanto selama ini lebih berpengalaman sebagai bendahara, sehingga agak kurang lihai menjadi Ketua DPR. Atau Fadli Zon selama ini lebih dikenal sebagai pengamat, tiba-tiba menjadi Wakil Ketua DPR," papar Sya'roni.‎

‎Bukan hanya itu, lanjut Sya'roni, ketiga pimpinan DPR lainnya bekerja lebih karena faktor partai. Fahri Hamzah lebih sibuk mempertahankan partai dari opini negatif terkait terseretnya kader PKS dalam kubangan korupsi. Agus Hermanto merefleksikan sikap abu-abu Partai Demokrat.

S‎ementara Taufik Kurniawan mencerminkan PAN yang semenjak dipimpin Zulkifli Hasan menjadi bak 'gadis centil' yang ingin buru-buru dilamar, dan akhirnya PAN sudah resmi masuk gerbong pemerintah.

‎"Pimpinan DPR sekarang sudah tidak layak untuk dipertahankan lagi. Kocok ulang harus segera dilakukan meskipun nantinya ada kemungkinan politisi KIH akan menguasai kursi pimpinan itu tidak masalah," imbuh Sya'roni.‎

S‎ya'roni berharap dengan pergantian pimpinan DPR maka gerbong oposisi semakin militan dalam memperjuangkan aspirasi rakyat. Hal ini jauh lebih baik daripada menduduki kursi pimpinan tetapi tidak bisa berbuat banyak untuk rakyat.

‎Dengan begitu juga, oposisi yang ada saat ini bisa meniru gaya militansi PDIP ketika menjadi oposisi selama 10 tahun lalu. Meskipun di parlemen minoritas, tetapi semangat juangnya terus membara. Hampir semua kebijakan pemerintah SBY disambut kritik. Pansus atau panja sering dibentuk sebagai wahana mempertajam kritik ke pemerintah.

‎"DPR adalah tempat pertarungan ide-ide kebangsaan. Oleh karena itu dinamisasi di parlemen harus terus dilakukan. Diam-diam saja seperti ini sama saja menyia-nyiakan gaji besar yang sudah disediakan oleh rakyat kepada para wakilnya di Senayan," tukas Sya'roni.[dem]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Usai Raup Dana Jumbo, Danantara Diminta Transparan Soal Penyaluran Investasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:13

SLA Lampaui Target, Helita jadi Andalan Baru Layanan Digital Tangsel

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:09

Garda Bangsa: Program Pemerintah Dirasakan Masyarakat, Harus Dikawal

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:37

TVRI Jelaskan Proses, Cakupan, dan Distribusi Hak Siar FIFA hingga 2027

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:06

AMMSI: Penyesuaian Operasional MBG Perkuat Efisiensi Anggaran dan Tata Kelola Program

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:00

Ace Hasan Dorong Alumni UIN Jakarta Terus Berkontribusi untuk Bangsa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:24

Program 3 Juta Rumah Dipercepat, Pemerintah dan Danantara Bahas Meikarta hingga Inpres Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:08

Tiga Besar Fortune Southeast Asia 500, Pertamina: Motivasi Perkuat Ketahanan Energi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03

Saham Intel Melesat Usai Pernyataan Trump

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:32

Polisi Ungkap Rekayasa Perampokan di Menteng, Pelaku Dendam ke Korban Sejak 2020

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:05

Selengkapnya