Berita

ilustrasi/net

Teror Kantor ESDM Merupakan Ancaman Terhadap Negara

SABTU, 12 SEPTEMBER 2015 | 22:02 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Tugas pokok dan fungsi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memang tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat. Namun implementasi kebijakan yang diputuskan kementerian Sudirman Said itu menyangkut nasib dan masa depan bangsa Indonesia.

"Alur kebijakannya bersifat strategis karena menyangkut cadangan dan ketersediaan energi serta kehidupan masyarakat," sebut pengamat energi dari Masyarakat Energi Nasional, Fajar Budianto di Jakarta, Sabtu (12/9).

Fajar sekilas mencermati teror penembakan kantor Kementerian ESDM merupakan ancaman terhadap negara. Sebab, kementerian tersebut masuk lingkungan kerja negara sangat strategis.


Banyak sekali kepentingan yang melibatkan berbagai pihak seperti negara, swasta dan negara luar, termasuk broker. "Ruang lingkup kerja ESDM pada umumnya berhubungan dengan objek vital dan strategis, tentunya itu menyangkut ketahanan dan kedaulatan negara," jelasnya.

Karena itu, menurut Fajar, jika ada anggapan bahwa teror penembakan Kementerian ESDM sebagai ancaman terhadap negara, kemungkinannya tetap ada. "Penembakan itu teror, pelakunya orang suruhan dari kelompok yang kepentingannya sudah terganggu," ujarnya.

Apalagi, pemerintah rencananya mau menerbitkan perubahan atas peraturan Presiden Jokowi, peraturan menteri, dan peraturan pemerintah yang mengatur tentang migas. Penerbitan peraturan ini alternatif atas belum terbitnya RUU Minerba yang masih dibahas di DPR.

Untuk itu, Fajar mengapresiasi rencana pemerintah mengolah sendiri hasil migas nasional agar bisa dinikmati rakyat Indonesia. Selama ini, migas Indonesia justru banyak dinikmati negara luar seperti Singapura, negera yang sama sekali tak punya sumber daya alam.

"Ini faktual dan bisa dibayangkan, hasil migas kita dinikmati negara yang gara-garanya hanya punya kilang mumpuni. Sedangkan rakyat kita, apalagi daerah penghasil migas sedikit menikmati," mirisnya.

Ironisnya, beber dia, hijrahnya hasil migas Indonesia ke Singapura ditukangi oleh anak bangsa sendiri. "Antek-anteknya ya orang-orang kita sendiri, itu yang lazim disebut mafia itu," ungkapnya.

Fajar menambahkan, pantasan saja rencana pemerintah Presiden Jokowi membuat kilang dengan teknologi lebih mumpuni dari Singapura selalu dicerca dengan alasan kemahalan secara ekonomi.

"Harga mahal ya memang segitu karena tujuan penggunaannya tidak dikalkulasi untuk 1-2 tahun saja, 1-2 dasawarsa bahkan 5-8 dasawarsa ke depan," tegas Fajar, sambil mengharapkan pemerintah tidak ciut terhadap ancaman apapun untuk menuju kedaulatan Indonesia yang utuh. [sam]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya