Berita

ilustrasi/net

Dunia

Mengenal Makna Mendalam dari Budaya Sapa "Peluk-Cium" Masyarakat Kolombia

MINGGU, 06 SEPTEMBER 2015 | 07:46 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

. Kesan "horor" soal Kolombia akibat isu-isu negatif yang dilekatkan pada negara tersebut akan musnah seketika bila kita mulai berinteraksi dan hidup bersama dengan masyarakat Kolombia.

Kolombia yang telah bangkit dan berkembang dari masalah kekerasan dan kejahatan kartel narkoba di masa lalu ternyata memiliki masyarakat yang melestarikan budaya "ramah". Budaya ramah tersebut tercermin dari tindakan dan kebiasaan masyarakat Kolombia dalam kehidupan sehari-hari.

"Setiap bertemu atau mengucapkan selamat tinggal kepada teman atau keluarga, kita (warga Kolombia) bisa menyapa dengan cara memeluk dan mencium pipi kanan sambil bertanya kabar," kata mahasiswa Universitas Nasional Kolombia, Joam David dalam perbincangan santai dengan RMOL di Bogota pada Sabtu (5/9).


Menurutnya, tidak ada yang aneh dengan kebiasaan peluk-cium semacam itu. Joam mengatakan bahwa ia bisa melakukannya dengan teman atau keluarga, baik perempuan maupun laki-laki.

"Gestur semacam itu bisa dikatakkan sebagai bagian dari sopan-santun dan moral orang Kolombia. Di keluarga, kebiasaan seperti itu menunjukkan rasa penerimaan, percaya diri, cinta, kasih sayang, dan juga kepercayaan," jelasnya.

"Sementara di kalangan teman, gestur tersebut merupakan cara kita untuk membuat orang lain merasa disambut, menunjukkan niat baik, menanamkan kepercayaan, dan menunjukkan bahwa kita tidak membahayakan," sambung Joam.

Hal senada juga dituturkan mahahiswi lainnya dari Universitas Externado, Juanita Riveros.

"Terkadang, kata-kata tidak cukup untuk menunjukkan bagaimana perasaanmu. Jadi, saya dan masyarakat Kolombia pada umumnya lebih nyaman menunjukkan perasaan kita dengan bahasa tubuh, seperti memeluk dan mencium," jelas Juanita.

Menurutnya, justru terasa aneh bila bertemu dengan teman dan keluarga tapi tidak menyapanya dengan memeluk dan mencium pipinya.

"Hal itu akan membuat mereka mengira bahwa kita sedang marah atau tidak mengharapkan kedatangannya," sambungnya.

Masyarakat Kolombia sendiri pada umumnya sangat menghargai pertemanan. Menurut mahasiswi lainnya, Valeria. Menurutnya, tegur-sapa yang dilakukan oleh masyarakat Kolombia dengan cara memeluk dan mencium merupakan cara untuk menjaga pertemanan.

"Biasanya, untuk bisa menjadi teman, kamu memerlukan waktu lama untuk berinteraksi. Tapi yang menarik di Kolombia, kamu cukup berbicara dengan ramah selama lima menit dengan orang lain, maka sekita kamu akan menjadi teman. Jadi ketika hendak berpamitan, kamu akan otomatis memeluk dan menciumnya. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya orang tersebut bagi hidupmu," jelas Vale.

"Kamu akan sangat terbiasa disapa orang yang belum kamu kenal saat berjalan. Mereka biasa menyapa kamu dengan ucapan selamat pagi, selamat, siang,  atau selamat malam," sambungnya.

Menurutnya, warga Kolombia sangat menjunjung tinggi kebebasan berekespresi, termasuk dalam mengekspresikan kasih sayang di depan publik. Karena itu, kata Vale, tidak ada yang salah dengan menunjukkan kasih sayang. Termasuk dalam cara menyapa teman dan keluarga seperti itu.

"Bahkan kami sangat terbiasa menunjukkan rasa kasih sayang di depan umum. Karena itu tidak heran bila sering dijumpai pasangan kekasih tengah bermesraan, berpelukan, berciuman atau berpangku di tempat umum, seperti di jalan, di sekolah, di universitas, di stasiun atau di dalam kendaraan umum," tandasnya. [rus]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya