Berita

Sofyan Djalil/net

Wawancara

WAWANCARA

Sofyan Djalil: Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Hanya Persoalan Temporer...

SENIN, 31 AGUSTUS 2015 | 10:19 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Goncangan ekonomi global saat ini tidak akan berpen­garuh signifikan pada kelanjutan pembangunan in­frastruktur dalam negeri.

Demikiankeyakinan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas Sofyan Djalil yang disampaikan kepada Rakyat Merdeka, Jumat (28/8).

Padahal sejumlah pembangu­nan infrastruktur Indonesia tidak terlepas dari investasi dan pinja­man internasional, di antaranya China.


Untuk itu, bekas Menteri Koordinator Perekonomian itu meminta agar Kepala Daerah tidak takut melakukan tender. Para penegak hukum juga di­minta lebih profesional supaya tidak menghambat pembangu­nan.

"Orang baru tender sudah dipanggil (penegak hukum), se­hingga banyak pejabat sekarang tidak melaksanakan apapun," paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya;

Bukankah devaluasi yuanakan berpengaruh pada kelanjutan pembangunan infrastruktur?
Saya pikir sih nggak. Pelemahan yuan itu barangkali bagian dari strategi pemerintah China untuk menciptakan com­petitiveness.

Bagaimana dengan investasi mereka?
Bantuan internasional dan investasi internasional mereka tidak akan terpengaruhi.

Apa saja proyek infrastruktur dalam negeri yang pernah sukses kerja sama dengan China?
Kalau di masa lalu kita punya jembatan Madura (Suramadu), itu adalah kerja sama atau pin­jaman internasional dari China. Kemudian waduk Jatigede, atau proyek-proyek lain yang juga dikerjakan dari pinjaman internasional dari China. Tapi ke depan kita juga punya alokasi cukup besar angkanya.

Jadi tidak ada pengaruh­nya?
Tidak ada pengaruhnya. Karena China punya resource yang luar biasa besar. Sudah cukup aktif bergerak melakukan in­vestasi di luar China. Baik investasi G to G maupun Pto Patau private. Pemerintah dengan pemerintah atau perusahaan China yang melakukan investasi di berbagai belahan dunia.

Dalam konteks Bappenas, apa yang akan dilakukan un­tuk memastikan kelangsungan investasi tersebut?
Yang kita bicarakan dalam konteks Bappenas adalah G to G. Itu yang kita masukkan dan mendapatkan jaminan pemer­intah ke pinjaman pemerintah. Kalau swasta kita ciptakan yang kompetitif dan mereka sangat tertarik, entah itu listrik, in­frastruktur dan lain-lain.

Saat ini kondisi rupiah me­lemah. Bagaimana Anda me­nyikapinya?
Melemahnya rupiah itu kita harus melihat bahwa ini hanya persoalan temporer.

Kenapa Anda yakin ini tem­porer?

Karena kalau kita lihat ekono­mi dunia sekarang ini ada yang disebut dengan nama business cycle. Dulu begini (memeragakan grafik naik turun ekonomi dengan jari, red), sekarang makin begini (grafik fluktuasi atau naik turunnya lebih runcing,red). Makanya ada profesor menulis buku yang sangat provokatif, sekarang ini kita harus bersaha­bat dengan boom and bust, be friendly with boom and bust.

Alasannya?

Karena periode boom and bust terjadi makin sering. Kita memang mengalami penurunan ekonomi pada hari ini. Tapi recovery-nya akan cepat nanti. Begitu juga ketika kita lagi boom, jangan juga kita lalai. Yang penting struktur ekonomi kita makin hari makin bagus.

Bagaimana dengan kondisi dalam negeri. Banyak kepala daerah kabarnya takut melaku­kan tender, anggaran ratusan triliun masih mengendap di bank, ini bagaimana?
Nah itu yang harus kita ker­jakan bersama. Maka Presiden memanggil seluruh Gubernur, Kapolda, dan Kajati. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan PTPN di Sei Mangkei

Kamis, 30 April 2026 | 22:15

Gubernur NTB Tolak Cabut Laporan Aktivis Kemanusiaan

Kamis, 30 April 2026 | 21:41

APBN Tekor Rp240,1 T, Kemenkeu Tiadakan Konferensi Pers

Kamis, 30 April 2026 | 21:37

DPR Soroti Peran Strategis Proyek Danantara bagi Industri dan Lapangan Kerja

Kamis, 30 April 2026 | 20:41

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

Kamis, 30 April 2026 | 20:21

Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, PLN-UNOPS Dorong Utilisasi EBT Nasional

Kamis, 30 April 2026 | 20:16

Apa Itu Sinkhole yang Muncul Kebun Warga Gunungkidul Yogyakarta?

Kamis, 30 April 2026 | 19:46

Sejarah Outsourcing dari Zaman Kolonial hingga Jadi Tuntutan di Hari Buruh 2026

Kamis, 30 April 2026 | 19:32

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

Kamis, 30 April 2026 | 19:27

Komisaris PT Loco Montrado Dicecar KPK soal Pengembalian Kerugian Negara Rp100 Miliar

Kamis, 30 April 2026 | 19:25

Selengkapnya