Berita

nasaruddin umar/net

MENGENAL FIKIH KEBHINEKAAN (1)

Apa Itu Fikih?

SABTU, 29 AGUSTUS 2015 | 09:07 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

SECARA harfiah fikih (fiqh) berarti pemahaman. Sedangkan menurut ulama fikih mendefinisikan fikih se­bagai ilmu yang menerang­kan tentang hukum-hukum Tuhan yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadis. Hukum-hukum tersebut meliputi hubungan antara individu dalam keluarga, hubungan antara keluarga dan masyarakat, hubungan antara individu, masyarakat, dan negara. Fikih juga sering diar­tikan sebagai sekumpulan hukum syara' yang dibukukan dari berbagai madzhab dan dinukilkan dari fatwa-fatwa sahabat dan tabi’in.

Fikih selalu mengalami perkembangan seir­ing perkembangan zaman. Sebagai artikulasi dari hukum-hukum dasar yang bersumber dari Syari'ah, maka fikih cenderung memiliki berbagai corak yang sesuai dengan kondisi di mana fikih itu berkembang. Ada fikih yang bercorak budaya kontinental, cenderung memberikan pengakuan terhadap stratifikasi dan struktur masyarakat continental yang bertingkat-tingkat, seperti um­umnya fikih yang berkembang di kawasan Timur Tengah. Ada juga fikih yang bercorak maritim, yang lebih terbuka terhadap berbagai perbe­daan, seperti halnya kecenderungan fikih yang berkembang di negara-negara yang berkultur maritime seperti di Indonesia.

Fikih juga dipengaruhi oleh mazhab para pen­ganjurnya. Misalnya mazhab Maliki yang sangat berpengaruh di kawasan Saudi Arabiah, karena Imam Malik lahir, besar, dan mengembang­kan pikirannya di kawasan ini. Mazhab Syafi'i yang berkembang di kawasan Mesir karena Imam Syafi’ pernah lebih lama tinggal di sana. Indonesia dan kawasan Asia Tenggara yang lebih banyak menimba ilmu pengetahuan agama di Mesir juga memberi pengaruh besar mazhab Syafi' di kawasan Nusantara. Mazhab Abu Hanifah yang sangat moderat sesuai dengan kondisi masyarakat Turki yang lebih sekuler.


Indonesia memiliki kekhususan di banding negara-negara tetangganya seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand Selatan. Indonesia, khususnya diwakili oleh NUdan Muhammadiyah, tidak terlalu terikat oleh ma­zhab Syafi'i seperti halnya negara-negara kawasan Asia Tenggara lainnya. NU, sesuai dengan apa yang disimbolkan di dalam lambangnya berupa tali longgar dan menghimpun sembilan bintang seka­ligus. Bintang paling besar menyimbolkan Tuhan (Allah Swt), kemudian Nabi Muhammad Saw, lalu disusul empat bintang lainnya yang menyimbolkan Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi', dan Imam Ahmad ibn Hambal. Dari penampilan lam­bang NUsesungguhnya mengisyaratkan bahwa sejak awal berdirinya sudah melambangkan Fikih Kebhinnekaan.

Fikih sebagai pemikiran hukum yang bersum­ber dari pemahaman Al-Qur'an dan Hadis, tentu memang tidak bisa dipisahkan dengan Syari'ah. Namun Fikih dan Syari'ah itu sendiri tidak identik. Syari'ah adalah hukum dasar yang tidak bisa berubah sepanjang zaman, kapan pun dan di mana pun. Sedangkan Fikih lebih elastis dan fleksibel, bisa berubah menurut kondisi zaman dan tempat. Syari'ah lebih bersifat global dan universal, sedangkan Fikih lebih bersifat khusus dan fakultatif. Pengakuan adanya fikih Indonesia, Fikih Nusantara, Fikih Kebhinnekaan, atau mau disebut apa saja, tidak memberikan banyak pen­garuh terhadap persatuan dan kesatuan umat Islam yang dipersatukan oleh Syari’ah. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya