Berita

Orang Urakan dan Perubahan

Cara Berpikir Saudagar Makelar Dan Priyayi Harus Dibuang
SABTU, 22 AGUSTUS 2015 | 11:36 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

DI zaman Mataram dan raja-raja tempo dulu kekuasaan melekat jadi urusan pribadi, dan dengan sendirinya harta kerajaan juga melekat jadi milik pribadi penguasa. Sedangkan keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kepentingan rakyat dilakukan secara tidak transparan serta jauh dari jangkauan rakyat.

Makanya tiap zaman sebenarnya punya cerita dengan tokoh-tokoh di dalamnya yang membawa perubahan untuk mendobrak nilai-nilai seperti itu.

Sukarno, Ali Sadikin, Abdurrahman Wahid, dan banyak yang bilang termasuk pula Dr Rizal Ramli, adalah contoh-contoh orang urakan yang out of the box, yang dengan kontroversinya menghasilkan perubahan.


Dunia juga dipenuhi oleh tokoh-tokoh kontroversi.

Sejarah dipenuhi oleh puluhan ribu orang yang telah membuat perubahan penting. Bagaimana pun di antara mereka ada tokoh-tokoh yang muncul sebagai mercusuar kebesaran, baik untuk kebaikan maupun sebaliknya.

Jokowi yang menyukai blusukan juga merupakan tokoh yang tidak suka formalisme. Gayanya yang menyentuh langsung hati rakyat sangat jauh berbeda dengan gaya para pembesar negeri ini yang umumnya sangat berjarak dengan rakyat.

Indonesia dalam situasi bernegara dan berbangsa yang penuh kerawanan seperti saat ini sesungguhnya butuh lebih banyak orang-orang urakan yang cara berpikirnya out of the box, zaman abnormal membutuhkan cara berpikir yang tidak normatif untuk dapat keluar dari krisis.

Bagaimanakah mungkin panggung sejarah republik ini bisa ikut diisi oleh orang seperti Sukarno kalau ternyata Sukarno waktu itu lebih memilih hidup tenang dengan menjadi ambtenar dengan gaji besar dan hidup yang nyaman?

Dia justru tidak memilih comfort zone melainkan lebih menjalani miserable zone untuk menjadi lentera yang menerangi kegelapan bangsa.

Demikian pula Hatta, anak saudagar kaya, sarjana ekonomi lulusan Belanda, yang hampir separuh dari hidupnya dijalaninya di pengasingan hingga dikucilkan di Boven Digul (Papua), -- kelaparan, penuh ancaman penyakit mulai dari malaria, terkaman buaya, dan binatang buas lainnya.

Begitu pun dengan Datuk Ibrahim Gelar Tan Malaka yang bersekolah guru di Harlem, Belanda, dan kembali ke tanah air lebih memilih menjadi kepala kuli di Bayah, Banten dan mengajar rakyat bukan saja supaya tidak buta huruf tetapi juga supaya tidak buta terhadap sejarah untuk mencapai Indonesia merdeka.

Intinya, telah banyak contoh perubahan muncul dari cara berpikir out of the box dan kekuatan karakter serta visi, ini terjadi bukan saja di bidang politik, tetapi juga di bidang ilmu pengetahuan dan peradaban.

Cara berpikir usang yang mengenyampingkan keterbukaan atau transparansi sudah waktunya dibuang.

Cara berpikir priyayi dan cara berpikir makelar yang suka menyembunyikan dan memanipulasi kepentingan rakyat untuk keuntungan dan kepentingan pribadi serta kelompoknya sudah saatnya untuk dibasmi. [***]

Penulis merupakan pengasuh rubrik Vox Populi Harian Rakyat Merdeka

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

JK Menjelma Imam Besar Bagi Kelompok di Luar Kekuasaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:17

KPK Benarkan Panggil Pengusaha Rokok Haji Her, Tapi Mangkir dari Pemeriksaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:02

Komisi X DPR Tekankan Kesejahteraan Guru dalam Revisi RUU Sisdiknas

Rabu, 08 April 2026 | 10:00

Iran Sebut Trump Setuju Penuhi 10 Syarat Gencatan Senjata

Rabu, 08 April 2026 | 09:56

IHSG Balik ke Level 7.000-an, Rupiah Menguat Usai Tersungkur ke Rekor Terendah

Rabu, 08 April 2026 | 09:54

Akselerasi Penyehatan, Adhi Karya Lakukan "Bersih-Bersih" Neraca

Rabu, 08 April 2026 | 09:40

Manuver JK Tak Perlu Dikhawatirkan

Rabu, 08 April 2026 | 09:33

Imparsial: Sudah Mendesak Dilakukan Revisi UU Peradilan Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:32

Berkas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilimpahkan ke Oditurat Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:21

KPK Soroti Dugaan Aliran Fasilitas ke Faisal Assegaf

Rabu, 08 April 2026 | 09:04

Selengkapnya