Berita

Dias Rukmana Praja/net

HMI Ingatkan Presiden Jokowi dan Panglima TNI Soal Bahaya PKI

MINGGU, 16 AGUSTUS 2015 | 13:34 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Bangkitnya kembali gerakan dan kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan suatu hal yang tidak dihendaki oleh mayoritas rakyat Indonesia.

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta Timur, Dias Rukmana Praja menyatakan, hal tersebut tentu bukanlah suatu hal yang tanpa dasar. Bangsa ini pernah mengalami kenyataan kelam dan suram pada masa lalu, pada saat PKI mencoba untuk mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dias pun menyesalkan adanya atribut PKI di Karnaval Kemerdekaan di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Sabtu (15/8) kemarin. Dan hingga mulai menggeliatnya bahaya laten komunis di media sosial.


"Memang benar bahwa PKI telah lama mati, namun secara ideologi, ia masih tetap hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat. Terlebih sejak era reformasi bergulir, mereka secara leluasa bisa masuk ke berbagai macam pranata masyarakat, mulai dari organisasi swadaya masyarakat, partai politik, birokrasi pemerintahan, bahkan sampai ke organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan," ungkap Dias di Jakarta, Minggu (15/8).

Dias juga mempertanyakan dimana peran aparat TNI-Polri di Pamekasan, kok bisa kecolongan seperti itu. Menurutnya, ini sangat berbahaya sekali apalagi sudah sama-sama diketahui bahwa PKI adalah musuh bersama, terutama bagi HMI, PKI merupakan musuh nyata yg harus dibasmi.

"Kami juga mendesak serta mengingatkan Presiden Joko Widodo dan panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk mengevaluasi anak buahnya di Pamekasan sana agar tidak terulang kembali kejadian seperti itu. Kami juga berharap tidak ada kejadian seperti ini lagi di daerah lainnya di indonesia karena PKI sangat berbahaya untuk Keutuhan NKRI," papar Dias.

Tambah Dias, dirinya curiga ada pihak-pihak yang berusaha untuk mencabut TAP MPRS/XXXV/1966 tentang Larangan Komunisme dengan cara memanfaatkan situasi dan kondisi pemerintah saat ini. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Buyback Emas Antam Meroket Rp55.000, Satu Gram Dibanderol Rp2,45 Juta

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Merosot Imbas Keputusan Trump

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:56

IHSG Terbang 1,6 Persen Menuju 6.000, Rupiah Ikut Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:44

PKS: Koalisi Prabowo Akan Tetap Konstruktif Jaga Persatuan Bangsa

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:40

Pengusaha Heri Black Dicecar KPK soal Kontainer Berisi Sparepart di Pelabuhan Tanjung Emas

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:29

10 Kader Ramaikan Bursa Caketum PB SEMMI di Kongres IX Banten

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:17

Berkas Lengkap, Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:08

Korea Pimpin Reli Bursa Asia

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:54

Galeri 24 Dorong Literasi Investasi Emas Masyarakat di Jakarta Fair 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:47

Manfaatkan Program Nikah Massal dan One Stop Nikah Solution dari Kemenag, Daftar Sekarang!

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya