Pengadaan bus Scania Transjakarta kembali diperÂmasalahkan. Merek bus yang digunakan pada bus TranÂsjakarta gandeng ini dinilai tak sesuai spesifikasi.
Saat dipesan, awalnya bus diklaim mampu menampung 140 orang, namun bus yang kini beroperasi di jalanan ibukota ini hanya mampu menampung 39 dan 41 penumpang.
Diketahui, stiker uji KIR yang tertera di bus gandeng Scania, hanya boleh mengangkut 39 penumpang, padahal bus ini diklaim menampung hingga 140 orang. Temuan ini sebelumnya diungkapkan oleh salah seorang warga pengguna Transjakarta. Penumpang itu menuturkan, setidaknya ia melihat ada dua bus Scania yang stiker KIR-nya menyatakan bus tersebut sebenarnya bukan merupakan bus gandeng, melainkan bus angkutan barang.
Penentuan kapasitas penÂumpang yang mampu diangkut sebuah kendaraan ini telah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2012. Ada beberapa hal yang menÂjadi acuan penentuan kapasitas kendaraan, terutama kendaraan umum. Atas hal ini, pemprov dan dishub pun dinilai lalai, sehingga stiker uji KIR bus saat ini menjadi polemik.
"Dari spesifikasinya sudah tidak jelas begini, bagaimana keselamatan penumpang juga diutamakan. Makanya nggak heran bus Transjakarta yang ada selama ini mogok, terbakar dan rusak. Pemprov dan Dishub DKI harus segera mengambil langkah soal ini," ucap Edwin, salah satu penumpang Transjakarta.
Terkait hal ini, pengamat transportasi Azaz Tigor NaingÂgolan mengatakan, pengadaan bus Transjakarta Scania buatan Swedia itu tidak akan membantu kinerja Transjakarta, bila tidak dibarengi pembenahan pengeloÂlaan bus Transjakarta.
"Walaupun bus Scania, tapi PTTransjakarta tetap seperti sekarang ini kinerjanya, tidak melakukan pengawasan dalam perawatan dan pembinaan. Maka kecelakaan lalin (lalu lintas) oleh armada Transjakarta tetap akan terjadi, bahkan meningkat," katanya.
Terkait polemik kapasitas angÂkut bus Transjakarta merek ScaÂnia, Tigor mengatakan, seharusÂnya pihak Transjakarta selektif soal pengadaan bus ini. Pemprov jangan lagi mau dibohongi dan diakal-akali pihak lain, sehingga bisa membahayakan warga ibuÂkota sebagai penumpang.
"Sekarang bagaimana kalau benar-benar kapasitasnya hanya 39 orang, kemudian bus terlanjur mengangkut hingga 140 orang? Justru akan over capacity dan menyebabkan bus kelebihan beban, hingga berujung kerusaÂkan, bahkan hingga kecelakaan," ujarnya.
Terhadap operator khususnya mengenai pengemudi, Tigor juga menegaskan, saat ini masih banyak dijumpai sopir yang ugal-ugalan di jalan. "Masalah kecelakaan itu kan bukan hanya faktor kondisi kendaraannya, tapi juga pengawasan dan pemÂbinaan pada sopirnya agar tidak ugal-ugalan," tegasnya.
Sejak awal, pihaknya meÂnyayangkan pembelian 20 unit bus Scania untuk Transjakarta oleh Pemprov DKI Jakarta saat perayaan ulang tahun Kota Jakarta (22/6). Scania sendiri merupakan merek bus dengan teknologi tinggi dan tentu saja kualitasnya lebih bagus dibandÂing bus Zhongtong. Namun, kualitas bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia tidak sesÂuai kualifikasi BBM untuk bus Scania.
Meski begitu, Direktur Utama PTTransjakarta Antonius KoÂsasih berdalih, perbedaan kaÂpasitas penumpang karena ada kesalahan administrasi dalam pengajuan KIR bus TransjaÂkarta. Ia menilai hal itulah yang membuat pada stiker-stiker bus Scania tercantum, bahwa kendaraan tersebut peruntukÂkannya untuk angkutan barang dan kapasitasnya pun hanya 39 hingga 41 orang.
"Sampai saat ini kami menÂduga itu keliru, antara jumlah orang dengan jumlah tempat duduk. Karena itu, jumlahnya sama dengan jumlah penumpÂang duduk. Saat ini sedang diurus oleh karoseri Laksana dan juga United Tractor selaku agen pemegang merek Scania," ungkapnya.
Kosasih memastikan 20 unit bus gandeng Transjakarta Scania itu aman mengangkut ratusan orang penumpang, meski dalam papan KIR hanya tertulis 39 atau 41 orang penumpang. MenuÂrutnya, gross vehicle weight (GVW)/berat kotor kendaraan bus Scania adalah 26 ton. Lalu berat kosong bus adalah 19,3 ton.
Diduga Ada Sabotase
Gubernur DKI Jakarta BaÂsuki Tjahaja Purnama (Ahok) menuding, ada pihak-pihak yang sengaja mempersoalkan kapasiÂtas penumpang bus Transjakarta Scania. Dia merasa, hasil uji KIR terhadap Transjakarta ScaÂnia penuh permainan.
"Ini seperti sengaja dibuat seoÂlah kesalahan, sabotase, mau cari gara-gara karena sekarang bus lain kita nggak mau beli," tuding bekas politisi Senayan ini.
Menurut Ahok, tidak ada bus gandeng merek apapun yang bisa memasang 111 kursi. KursÂinya tentu hanya bisa dipasang 30-an. Sisanya pasti penumpang harus berdiri. "Boleh nggak berdiri? Boleh, tinggal dihitung 111 kira-kira gitu. Boleh nggak angkut sampai 140 kalau busnya kurang? Dijejelin orang begitu penuh. Toh dilakukan juga. Yang penting busnya nggak terbakar, suspensinya bagus dan nggak mogok," imbuhnya.
Meski demikian, Ahok berÂjanji menginvestigasi masalahan ini. Namun sekali lagi ia yakin, kejadian ini tidak lepas dari rasa iri pihak-pihak yang merasa terÂsaingi dengan kehadiran bus yang sudah memenuhi standar ini.
Ahok menilai, dalam kasus ini hanya ada kesalahan adÂministrasi dalam stiker uji KIR. Karena sesuai kenyataan, bus gandeng yang ada sesuai dengan spesifikasi dengan kapasitas penumpang 111 orang.
"Dulu bus tingkat dibongkar gara-gara nggak memenuhi standar menurut versi dirjen (Kemenhub), chassis (rangka) nggak cocok dipersoalkan. Tapi bus China yang Weichai, bisa beli ribuan," ujarnya.
Ahok pun tidak memperÂmasalahkan kesalahan adminisÂtrasi yang terjadi. Menurutnya yang terpenting bus ini tidak mudah terbakar dan mogok, sepÂerti yang ada saat ini. Diakuinya, persoalan seperti ini bukan yang pertama kali dialaminya dalam pengadaan bus.
Beberapa waktu lalu, DKI perÂnah menerima bantuan corporate social responsibility (CSR) lima unit bus tingkat wisata dari MayÂapada Group. Hanya saja, Dirjen Perhubungan Darat KementeÂrian Perhubungan menolak bus bermerek Mercedes Benz itu beroperasi karena chassis bus tersebut tidak memenuhi standar. Sehingga kini, bus tingkat terseÂbut dibongkar kembali.
Hingga kini, Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta AnÂdri Yansyah mengaku pihaknya segera melakukan pengecekan soal stiker uji KIR. Ia menÂegaskan, tak akan memberikan toleransi kepada anak buahnya yang terbukti bermain dalam kepengurusan uji KIR pada lokasi pengujian kendaraan bermotor (PKB).
"Yang nggak benar harus ditegasin. Kalau dikasih tolerÂansi melulu, nggak beres-beres lagi. Makanya saya bilang kalau teman-teman media punya bukti, kasih tahu saya. Memang kalau dilihat kasat mata, Scania Ok. Bus sebesar itu harusnya bisa masukin 140 hingga 160 orang. Masa cuma muat 49 orang? Pokoknya segera dilakukan pengecekan," tegasnya. ***