Berita

Herman Darnel Ibrahim/net

Indonesia Tidak Butuh Nuklir Hingga Tahun 2100

JUMAT, 14 AGUSTUS 2015 | 13:57 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Penggunaan nuklir sebagai sumber energi nasional merupakan langkah akhir. Menurut mantan Anggota Dewan Energi Nasional, Herman Darnel Ibrahim, alasannya adalah berdasarkan hasil kajiannya dan beberapa kolega dari asosiasi internasional, apa yang diperlihatkan oleh model neraca suplai-konsumsi yang dibuatnya menyimpulkan pandangannya. Dari hitung-hitungan neraca tersebut, sampai tahun 2100, Indonesia tidak butuh nuklir.

"Sebab, kita masih ada batubara, gas, dan renewable energy. Ini hitungan rasional dan bisa dipertanggungjawabkan," kata Herman dalam seminar 'Mengungkap Ketertutupan Rencana Pembangunan PLTN di Indonesia' di kampus Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, Kamis (13/8) kemarin.

Ia menegaskan bahwa kesimpulan tersebut diambilnya dengan mempertimbangkan tiga aspek penting, yakni: security, environment, dan economy. "Lebih prioritas pemerintah fokus pada pengembangan (riset) energi terbarukan yang ramah lingkungan," jelasnya.


Untuk memperkuat argumennya, ia mencontohkan Jepang ketika terjadi peristiwa di Fukushima. Lanjut ia, dari sisi security, Indonesia belum mampu menghadapi tekanan dan dinamika global, misalnya ancaman embargo.

Lanjutnya, dari sisi economy, apabila terjadi kecelakaan, dari sisi manajemen resiko akan berpotensi membuat bangkrut suatu negara. "Jepang ketika Fukushima menderita kerugian sekitar 5 ribu triliun!" tegasnya.

Herman menekankan bahwa dirinya tidaklah menolak nuklir sebagai energi. Akan tetapi, meminta semua pihak rasional dan berhati-hati memutuskan suatu kebijakan yang akan berdampak pada keseluruhan rakyat Indonesia.

"Sejak kejadian Fukushima, level kesukaan saya terhadap PLTN menjadi nol. Terus terang saya tidak menolak PLTN, tetapi jujur saya tidak mendukung PLTN jika diterapkan," ujarnya.

Sementara, pakar nuklir eksperimental, Iwan Kurniawan mengkritik keras wacana pembangunan Reaktor Daya Eksperimental (RDE) yang akan dibangun di wilayah Serpong. Seperti diketahui, persetujuan pembangunan RDE akan dikerjakan oleh kontraktor konsorsium Jerman-Indonesia yang pembiayaannya oleh pemerintah Indonesia sekitar Rp 1,6 triliun.

Argumen Iwan dilandasi fakta bahwa Rusia hanya mempunyai desain RDE yang tidak pernah mereka bangun di negaranya sendiri. "Seakan-akan Indonesia hanya menjadi "kelinci percobaan" ilmuwan Rusia," ketusnya.

Menurutnya, di dunia, hanya China dengan HTR-10 yang terbukti telah membangun. Rusia melalui Rosatomm yang mempunyai saham di Nukem Jerman hanya punya desain dan tidak pernah membangun RDE itu sendiri.

"Sekali lagi, ini sama saja Indonesia dijadikan kelinci percobaan, dan jika terjadi apa-apa, siapa yang bertanggung jawab?" tanyanya.

Ia bilang, energi nuklir merupakan fasilitas dengan tingkat keamanan tinggi. Dirinya mengungkapkan bahwa akan sangat berbahaya Indonesia tidak punya rencana yang jelas dan terukur atas pembangunan dan penggunaan energi nuklir karena dampak negatif yang mungkin ditimbulkan akibat penggunaan nuklir sangat luar biasa.

Menurutnya, Indonesia tidak punya arah yang jelas. Rencana BATAN ingin membangun PLTN mini di wilayah terpencil dianggapnya irasional. Ketidakjelasan arah ini, katanya, sama saja kita membuat bom atom di beberapa wilayah. "Kesimpulan saya, RDE itu dirty bomb," terangnya.

Di akhir paparannya, Iwan mengharapkan Presiden Jokowi bersedia menjadi pemrakarsa agar semua pihak yang berkepentingan bisa duduk bersama dan terbuka membahas isu PLTN di Indonesia.

Menurutnya, persepsi pro dan kontra baiknya ditiadakan, karena esensinya adalah ilmiah. "Dalam konteks ini, Presiden harusnya menjadi pemrakarsa agar semua pihak bisa duduk bersama membicarakan masalah ini. Buka saja, semua terbuka," tukasnya. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Legislator Gerindra Dipanggil Majelis Kehormatan Usai Viral Main Game saat Rapat

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:19

Emas Antam Ambruk, Satu Gram Dibanderol Rp2,81 Juta

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:10

Di Forum BRICS, Sugiono Kenang Empat TNI Gugur dalam Misi Perdamaian Lebanon

Jumat, 15 Mei 2026 | 12:02

Pengamat: Kombinasi Sentimen Global Bikin Rupiah Tersungkur

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:29

Jakarta Masih Ibu Kota Kabar Baik untuk Masa Depan Indonesia

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:23

ARUKKI Surati Ketua KPK, Minta Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Diperiksa

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:16

Jemaah Haji Lansia dan Sakit Tetap Raih Pahala Meski Beribadah di Hotel

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:09

Resmi Masuk RI! Ini Spesifikasi dan Harga MacBook Neo, Laptop Termurah Apple

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:03

PKB Gagas Reformasi Perlindungan Santri Lewat Temu Nasional Ponpes

Jumat, 15 Mei 2026 | 11:01

Di Balik Pelemahan Rupiah, Ada Tekanan Besar pada Ekonomi Domestik

Jumat, 15 Mei 2026 | 10:51

Selengkapnya