Berita

johan o silalahi/net

Reshuffle Prematur, Presiden Jokowi Bertaruh Jabatan

JUMAT, 14 AGUSTUS 2015 | 12:05 WIB | OLEH: JOHAN O. SILALAHI

POLEMIK terkait reshuffle kabinet yang telah menyita energi bangsa dan negara dalam kurun waktu enam bulan terakhir berujung anti-klimaks.

Akhirnya yang diganti hanya tiga Menko, yang jelas-jelas bukan pelaksana lapangan dan bukan pengambil kebijakan kementerian yang berhubungan langsung dengan publik. Mereka hanya melakukan koordinasi dan memberikan pengaturan atau arahan.

Adapun Menteri yang diganti hanya Menteri Bappenas yang tupoksinya hanya sebagai perencana, serta Menteri Perdagangan yang menjadi tumbal karena kebetulan hanyalah sosok yang ditempatkan jadi Menteri dengan melanggar asas the right man, at the right place.


Sebagai gula-gula bagi PDIP sebagai the ruling party, maka yang juga diganti adalah Sekretaris Kabinet yang juga hanya berfungsi sebagai dinamisator dalam lingkungan internal kabinet kerja serta lingkungan istana.

Sementara menteri-menteri yang bermasalah, sederetan menteri-menteri yang kerjanya hanya melakukan pencitraan semu, para menteri yang selama ini tidak mampu menjadi aset, motor dan integrator bagi pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla malah dipertahankan.

Sesungguhnya secara defacto, bisa dikatakan yang dilakukan Presiden Jokowi dan Wapres JK adalah reshuffle yang prematur, reshuffle kabinet setengah hati yang pasti akan dilanjutkan dengan reshuffle kabinet jilid 2 yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Presiden Jokowi cukup berani mempertaruhkan jabatan kepresidenannya dengan memilih mempertahankan menteri-nenteri yang sudah jelas terbukti tidak mampu menyelesaikan berbagai permasalahan kompleks yang diwariskan pemerintahan terdahulu. Bukan hanya mempertaruhkan jabatannya, sesungguhnya Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla juga otomatis mempertaruhkan nasib dan masa depan bangsa Indonesia yang sedang memasuki turbulensi awan kelam yang diwariskan oleh pemerintahan sebelumnya.

Bahkan masih ditambah lagi dengan ancaman badai ekonomi yang mengancam China dan dunia. Ibarat bermain catur, maka langkah buying time dengan reshuffle kabinet setengah hati yang dilakukan oleh Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla ini beresiko 'skak mat' bagi Jokowi-JK.

Reshuffle prematur ini bukan saja tidak menyelesaikan masalah, malah akan menimbulkan masalah baru yang membuat semakin ruwet dan kompleks masalah bangsa dan negara. Jika semangatnya para Menko baru adalah menjadi motor dan integrator yang berkwalitas, tetapi mereka memimpin para menteri pengambil kebijakan lapangan yang memang tidak mampu menjadi motor dan integrator, maka sesungguhnya Jokowi-JK mencoba mencampurkan minyak dengan air. Minyak tetaplah minyak, air tetaplah air. Hukum besi kehidupan ini akan segera diuji dalam beberapa waktu kedepan.

Jika memang benar tiga orang Menko yang baru dilantik adalah orang hebat, apakah mereka mampu mengubah seketika para menteri di bawahnya untuk juga menjadi hebat seperti mereka? Atau sebaliknya, yang terjadi adalah kesimpangsiuran kebijakan, miskomunikasi dan mismanajemen karena memang kelemahannya adalah para menteri pelaksana lapangan, sehingga arahan dan koordinasi dari Menko akan dilaksanakan berbeda di lapangan oleh para menteri karena memang keterbatasan kapabilitas para Menteri tersebut.

Seperti kata pepatah, emas tetaplah emas, loyang tetaplah loyang. Presiden Jokowi dan Wapres JK mulai menghitung hari, melakukan reshuffle kabinet secara total atau mempertaruhkan jabatan kepresidenan dan nasib seluruh bangsa Indonesia. [***]

Penulis adalah Presiden Negarawan Center

Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Relawan Gigit Jari Gegara Jokowi Batal Wantimpres

Senin, 09 Februari 2026 | 02:01

UPDATE

Vatikan Tolak Gabung Board of Peace, Ingin Konflik Palestina Diselesaikan PBB

Rabu, 18 Februari 2026 | 16:18

Korban Bencana Sumatera Dapat Bantuan Perabot dan Ekonomi hingga Rp8 Juta

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:56

KPK Panggil Petinggi PT Niogayo Bisnis Konsultan terkait Suap Pajak

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:36

Pemeriksaan Mantan Menhub Budi Karya di KPK Dijadwal Ulang

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:24

Pajak: Gelombang Protes dan Adaptasi Kebijakan Pusat

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:20

Tujuh Jukir Liar di Pasar Tanah Abang Diamankan

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:17

Tiga Bos Swasta di Kasus Korupsi Proyek Kantor Pemkab Lamongan Dipanggil KPK

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:15

Sambut Ramadan, Prabowo Sedekah 1.455 Sapi untuk Tradisi Meugang Aceh

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:07

Sembako Diaspora Malaysia untuk Warga Aceh Tertahan di Bea Cukai

Rabu, 18 Februari 2026 | 15:02

85 Negara Anggota PBB Kecam Upaya Israel Ubah Status Tanah Tepi Barat

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:54

Selengkapnya