Berita

Nofi Candra/net

Bila Perlu KPK Tangani Kebijakan Impor Sapi

RABU, 12 AGUSTUS 2015 | 14:35 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Pemerintah dinilai gagal dalam merespon kebutuhan pasar, sehingga menyebabkan kelangkaan dan melonjaknya harga daging sapi di pasaran. Pemerintah juga dinilai salah dalam mengambil kebijakan impor sapi.

Anggota Komite II DPD RI, Nofi Candra mengatakan, kebijakan impor yang berubah-ubah membuat pedagang dan pengusaha nakal bisa saja memainkan harga pasar.

"Kuat dugaan adanya indikasi penimbunan atau penahanan stok yang dilakukan oleh para pengusaha. Hal ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah," sebut Nofi di Jakarta, Rabu (12/8).


Jika indikasi penahanan stok sapi siap potong ini bisa dibuktikan, lanjut Nofi, Polri harus bertindak dan harus mempidanakan pihak-pihak yang terlibat. Karena menyalahi UU Perdagangan No. 7/2014 dan UU Pangan No. 18/2012.

"Langkah hukum ini harus tegas diambil oleh kepolisian dan menjadi perhatian serius bagi pemerintah untuk menimbulkan efek jera bagi pelakunya," jelasnya.

Adanya indikasi ini, kata Nofi, juga disampaikan oleh Presiden Jokowi sebagaimana yang dikutip dari situs setkab. Artinya hal ini sudah menjadi rahasia umum ketika terjadi kelangkaan daging sapi di pasar. Polri harus benar-benar mendalami dugaan tindakan pidana ini.

"Kebijakan Kemendag yang akan mengimpor 50 ton sapi siap potong untuk menekan harga bisa dijadikan solusi jangka pendek. Namun kebijakan impor ini tidak boleh menjadi program jangka panjang karena tidak akan menyelesaikan masalah di hulu," lanjutnya.

Senator asal Sumbar itu, juga mengatakan jika Kemendag hanya memikirkan impor untuk solusi masalah ini, maka Kemendag tidak siap dengan program swasembada sapi di Indonesia. Artinya Kemendag tidak bisa sejalan dengan janji-janji kampanye Presiden Jokowi. "Jika kondisi ini terus terjadi sampai tiga bulan ke depan bisa jadi ini merupakan intrik pengusaha impor agar pemerintah menaikkan kebijakan impor sapinya," ungkapnya.

Nofi mengingatkan jangan sampai ada main mata antara Kemendag dengan pengusaha impor sapi untuk menguntungkan salah satu pihak. Kalau benar ada mafia impor sapi, maka tidak cukup institusi Polri saja yang bertindak. KPK juga harus bertindak proaktif untuk menyelidiki dan mengawasi supaya tidak ada permainan antara pengusaha impor sapi dengan oknum di Kemendag.

Ia menambahkan, Presiden Jokowi harus bisa berkomitmen untuk mengatasi masalah ini agar tidak menjadi permasalahan yang terus berulang. Kelangkaan ini bisa saja terjadi karena pemerintah tidak mempunyai program pembibitan sapi sebagaimana zaman Orde Baru di tapos. Belum lagi adanya ketidakjelasan program bantuan sapi kepada masyarakat. Program bantuan sapi yang ada tidak berhasil sebagaimana yang diharapkan. Artinya program pemerintah ini harus dioptimalkan realisasinya supaya bisa dirasakan dampaknya oleh masyarakat. Keseriusan pemerintah dalam menghadapi permasalahan kelangkaan sapi siap potong ini harus diiringi dengan pemberian bantuan langsung kepada peternak sapi.

"Pemerintah juga harus meningkatkan bantuan kepada peternak dan memberikan subsidi pakan ternak organik. Kalau langkah-langkah ini tidak dilakukan oleh pemerintah, maka target swasembada sapi hanya menjadi isapan jempol dan janji kampanye yang jauh panggang dari api," demikian Nofi. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Buyback Emas Antam Meroket Rp55.000, Satu Gram Dibanderol Rp2,45 Juta

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:57

Harga Minyak Dunia Merosot Imbas Keputusan Trump

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:56

IHSG Terbang 1,6 Persen Menuju 6.000, Rupiah Ikut Menguat

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:44

PKS: Koalisi Prabowo Akan Tetap Konstruktif Jaga Persatuan Bangsa

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:40

Pengusaha Heri Black Dicecar KPK soal Kontainer Berisi Sparepart di Pelabuhan Tanjung Emas

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:29

10 Kader Ramaikan Bursa Caketum PB SEMMI di Kongres IX Banten

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:17

Berkas Lengkap, Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Disidang

Jumat, 12 Juni 2026 | 09:08

Korea Pimpin Reli Bursa Asia

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:54

Galeri 24 Dorong Literasi Investasi Emas Masyarakat di Jakarta Fair 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:47

Manfaatkan Program Nikah Massal dan One Stop Nikah Solution dari Kemenag, Daftar Sekarang!

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya