Berita

ilustrasi/net

Presiden Besar, Menteri Besar...

Reshuffle Harus Jadi Tonggak Perubahan Ekonomi Indonesia
SELASA, 11 AGUSTUS 2015 | 08:32 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

AMERIKA pernah punya presiden dengan keterbatasan fisik yang kemudian mengubah krisis besar jadi peluang perubahan. Franklin Delano Roosevelt presiden Amerika selama empat periode ini lumpuh sampai akhir hidupnya akibat polio. Dia mencalonkan diri jadi presiden (1932) dengan janji kampanye yang dia buktikan, yaitu menyelamatkan negara dari krisis besar (great depression) yang merupakan bencana ekonomi terjelek abad 20.

Roosevelt mengatasi cacat fisiknya dengan memakai kruk dan penyangga kaki. Tahun 1920 dia gagal jadi wapres dari Demokrat, setelah sebelumnya jadi senator negara bagian New York dan kemudian gubernur New York (1928).

Dia terpilih dengan suara terbanyak dan konsekwen serta berhasil mewujudkan rencana ekonomi inovatifnya yang dia sebut New Deal, antara lain dia bikin bendungan hidroelektrik di wilayah yang paling menderita akibat krisis untuk menciptakan listrik dan lapangan pekerjaan, serta menempatkan ribuan orang untuk pekerjaan umum. Kebijakan lainnya yang juga jadi warisan sampai sekarang adalah Social Security Act, tabungan pensiun nasional.


Singkatnya kebijakan Roosevelt adalah kebijakan yang pro rakyat. Di alam Amerika yang kapitalistik itu Roosevelt jadi contoh pemimpin yang menyatukan kata dengan perbuatan.

Waktu Perang Dunia II (1939-1945) bakal meletus Roosevelt bersiap atas kemungkinan Amerika terbawa perang. Dia bikin pertemuan rahasia dengan Winston Churchill (PM Inggris), keduanya bekerjasama kalau Amerika terpaksa berperang. Sejarah kemudian mencatat Amerika ikut berperang setelah Jepang menghancurkan Pearl Harbor, pangkalan militer Amerika di Hawaii.

Apa yang dilakukan Roosevelt untuk menghadapi perang? Dalam waktu singkat dia membangun industri militer. Komplek-komplek industri militer dia dirikan dengan melibatkan seluruh rakyat. Ibaratnya pekerjaan ini dia lakukan dalam waktu "satu malam" dan tidak pernah terjadi lagi dalam sejarah.

Waktu Roosevelt meninggal 12 April 1945, perang belum selesai, tetapi kemenangan Amerika sudah terlihat di depan mata. Warisan pembaruan ekonomi dan sosialnya untuk Amerika sampai sekarang masih ada.

Bagaimana dengan Indonesia? Jokowi pernah punya visi besar yang diwarisi Sukarno, Tri Sakti. Tetapi cita-cita ini kandas dia wujudkan dan sekarang hanya tinggal jadi jargon belaka akibat politik transaksional para elit pendukung Jokowi sendiri.

Perekonomian Indonesia yang kini sedang mengarah kepada krisis dan juga adanya rencana reshuffle kabinet idealnya dapat dijadikan tonggak peluang oleh Jokowi untuk melakukan perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.

Sebagai pengusung ide besar Tri Sakti, sebenarnya Jokowi pun bisa menjadi great president (mirip-mirip Roosevelt), kalau dia mau menyatukan kata dan perbuatan, membuktikan janji-janji kampanyenya untuk berpihak kepada rakyat.

Langkah ini bisa dia mulai dengan memilih menteri-menteri yang punya visi besar mengenai Indonesia dan yang mampu mewujudkan visi besar itu.

Misalnya dengan menempatkan figur yang tepat untuk posisi Menko Perekonomian, yang berkompeten, berintegritas, dan punya reputasi pro kepada rakyat. Karena fokus pemulihan Indonesia hari ini adalah masalah ekonomi.

Untuk menjadi great president Jokowi butuh great minister untuk mewujudkan visi-visi besar mengenai Indonesia, bukan menteri-menteri dengan mental pesuruh yang mengabdi kepada kepentingan para elit. [***]

Penulis merupakan pengasuh rubrik Vox Populi Harian Rakyat Merdeka

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

JK Menjelma Imam Besar Bagi Kelompok di Luar Kekuasaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:17

KPK Benarkan Panggil Pengusaha Rokok Haji Her, Tapi Mangkir dari Pemeriksaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:02

Komisi X DPR Tekankan Kesejahteraan Guru dalam Revisi RUU Sisdiknas

Rabu, 08 April 2026 | 10:00

Iran Sebut Trump Setuju Penuhi 10 Syarat Gencatan Senjata

Rabu, 08 April 2026 | 09:56

IHSG Balik ke Level 7.000-an, Rupiah Menguat Usai Tersungkur ke Rekor Terendah

Rabu, 08 April 2026 | 09:54

Akselerasi Penyehatan, Adhi Karya Lakukan "Bersih-Bersih" Neraca

Rabu, 08 April 2026 | 09:40

Manuver JK Tak Perlu Dikhawatirkan

Rabu, 08 April 2026 | 09:33

Imparsial: Sudah Mendesak Dilakukan Revisi UU Peradilan Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:32

Berkas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilimpahkan ke Oditurat Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:21

KPK Soroti Dugaan Aliran Fasilitas ke Faisal Assegaf

Rabu, 08 April 2026 | 09:04

Selengkapnya