Berita

bambang brodjonegoro/net

Menkeu: Pelambatan Ekonomi Serius, Media Perlu Bantu Pemerintah

SABTU, 01 AGUSTUS 2015 | 10:46 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pelambatan ekonomi global adalah hal yang serius, dan berdampak terhadap kondisi ekonomi nasional. Hampir semua negara di dunia mengkoreksi target pertumbuhan ekonomi. Media massa di Indonesia diharapkan bersedia membantu pemerintah membangun kepercayaan diri dan optimisme.

Demikian antara lain disampaikan Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro ketika menggelar pertemuan dengan Forum Pemimpin Redaksi di kediamannya di Jalan Widya Chandra, Jakarta, Jumat malam (31/1).

Menkeu Bambang membandingkan krisis yang sedang terjadi di dunia tahun ini dengan krisis di tahun 2008. Di tahun 2008, sebutnya, krisis diawali oleh kehancuran sejumlah lembaga keuangan raksasa di Amerika Serikat. Sementara di tahun 2015 ini tidak ada krisis di sektor keuangan.


"Melainkan (krisis 2015) karena ekonomi dunia menuju keseimbangan baru,” sebutnya.

Dia menambahkan, sempat terjadi penguatan signifikan antara 2008 sampai 2014 di sejumlah emerging market seperti Republik Rakyat China, India, Brazil, Turki juga Indonesia.

Tetapi ternyata booming itu hanya berlaku temporer. Amerika Serikat kembali mengubah pendekatan moneteris dengan menaikkan suku bunga dolar AS. Akhirnya, dolar AS yang sejak krisis 2008 berada di emerging market kembali AS.

Adapun mengenai penurunan harga komoditas yang kerap disebutkan sebagai penyebab pelambatan ekonomi nasional, Menkeu Bambang mengatakan bahwa penurunan harga komoditas itu hanya salah satu ekspresi dari pelambatan ekonomi global.

Karena Indonesia pada dekade terakhir dimanjakan oleh permintaan komoditas, maka ketika terjadi pelambatan ekonomi di negara-negara yang selama ini membutuhkan komoditas dari Indonesia dengan sendirinya permintaan komoditas menurun.

Menanggapi permintaan Menkeu Bambang agar media membantu membangun kepercayaan dan optimisme itu kalangan pemimpin redaksi media nasional yang menghadiri pertemuan mengatakan bahwa media massa selalu berdiri di pihak kebaikan bagi bangsa dan negara.

Masalahnya adalah, secara kasat mata tidak terlihat adanya kordinasi yang mantap di kalangan tim ekonomi pemerintah dalam menghadapi situasi krisis yang digambarkan Menkeu Bambang tadi.

Pendapat ini disampaikan antara lain oleh Pemimpin Redaksi Berita Satu Primus Dorimulu dan Pemimpin Redaksi MetroTV Suryopratomo.

Pemerintah disarankan untuk memperkuat kordinasi khususnya di sektor ekonomi dan memperlihatkan hal itu dengan menempatkan kebijakan-kebijakan sektor dalam satu paket yang saling terkait dan terarah. [dem]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya