Berita

muktamar nu ke 33

NU Bukan Organisasi Preman!

PWNU Riau Minta Muktamar Berjalan Konstitusional
KAMIS, 30 JULI 2015 | 15:46 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Riau, H.Tarmidzi Tohor meminta panitia dan PBNU tidak menerapkan cara-cara inkonstitusional dalam melaksanakan Muktamar ke-33 NU.

Karenanya dia meminta agar mekanisme ahlul halli wal aqdi (ahwa) tidak dipaksakan karena bertentangan dengan aturan organisasi yang tercantum di AD/ART NU.

Ia mengingatkan NU adalah organisasinya para ulama sehingga perlu dijaga perilaku organisasinya agar sesuai aturan dan tidak main paksa.


"Yang jelas NU ini organisasi ulama, bukan organisasi preman. Dari awal kita dari PWNU dan PCNU menolak ahwa. Para kiai dan tokoh NU juga demikian. Janganlah sistem itu dipaksakan," ungkap Tarmizi kepada wartawan, Kamis (30/7).

Tarmizi merasa heran dengan sikap elit PBNU yang terkesan memaksakan ahwa, termasuk melalui Munas yang syarat dengan rekayasa. Sementara sebagian besar pengurus daerah sudah jelas dan tegas menolak, bahkan sampai membuat surat tertulis.

"Kami sangat merasa dikecilkan dan dilecehkan oleh panitia dan PBNU. Karena kita berangkat ke Jombang nanti untuk bermuktamar itu mewakili aspirasi ratusan ribu bahkan jutaan warga NU. Maka suara kita diwakilkan lagi melalui ahwa," ungkapnya.

Tarmizi juga mencium gelagat panitia akan memanfaatkan lokasi muktamar yang terpencar dan berjauhan untuk kepentingan tertentu.

"Kita prihatin dan khawatir betul dengan kondisi persiapan dan pelaksanaan Muktamar nanti. Muktamar ini mau  mereka bawa kemana. Tatib saja disembunyikan. Belum lagi soal skenario yang direncanakan, termasuk potensi deadlock dan sebagainya?" paparnya.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya