Berita

mahyudin/net

Tanpa Empat Pilar, Potensi Besar Indonesia Bisa Hancur

KAMIS, 30 JULI 2015 | 12:14 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Kesuburan dan potensi pertanian yang dimiliki Indonesia harus disyukuri dan dimanfaatkan secara maksimal. Jangan sampai potensi pertanian Indonesia dirusak, meski dengan alasan kebutuhan lahan. Pasalnya, dimasa mendatang potensi pertanian yang dimiliki Indonesia akan menjadi modal besar dalam persaingan ekonomi global.

Ledakan jumlah penduduk yang akan terjadi di masa datang menyebabkan kebutuhan bahan pangan akan terus meningkat. Dengan begitu harga bahan pangan pun akan turut merangkak naik. Sementara Indonesia bisa menjadi produsen bahan pangan terbesar dunia.

Begitu kata Wakil Ketua MPR RI Mahyudin saat membuka acara sosialisasi Empat Pilar MPR RI di lembaga pendidikan Al Ma'mun Education Centre (Amec) Bojongsari, Depok Jawa Barat, pada Kamis (30/7). Seperti dalam rilis Humas MPR, ikut hadir dalam acara tersebut Anggota MPR Fraksi Partai Golkar Hardi Soesilo, dan Anggota MPR Fraksi Partai Gerindra El Nino M Husin.


Empat Pilar MPR terdiri dari; Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara; UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara dan Ketetapan MPR RI; NKRI sebagai bentuk negara; dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Dengan lahan pertanian yang luas dan hasil panen yang besar, menurut Mahyudin, Indonesia berpotensi menjadi salah satu lumbung pangan dunia. Karena itu, mulai saat ini perubahan lahan pertanian menjadi perumahan dan industri harus dikurangi.

"Sektor pertanian memiliki masa depan yang sangat cerah. Karena kebutuhan akan pangan pasti akan terus bertambah," ujarnya.

Pada kesempatan itu Mahyudin mengingatkan agar seluruh siswa selalu berpegang pada Empat Pilar. Ini penting karena hanya dengan Empat Pilar Indonesia akan terus utuh, tidak terpecah belah.
 
"Untuk menghancurkan Indonesia tidak perlu dengan bom, dan cukup dirusak generasi mudanya  saja, maka bangsa Indonesia akan hancur dengan sendirinya," demikian politisi Golkar ini. [rus]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya