Berita

Politik

Pilkada Tidak Akan Bisa Menolong Wong Cilik

SENIN, 27 JULI 2015 | 11:56 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Pilkada serentak yang akan dilaksanakan pada 9 Desember mendatang hanyalah pertarungan antar kepentingan kaum minoritas. Pasalnya, hal ini dibuktikan dengan masih dikuasainya para calon oleh orang-orang yang mempunyai modal baik itu pengusaha atau orang yang dipercaya oleh pengusaha untuk dijadikan penguasa.

Demikian disampaikan Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Jami Kuna dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Senin (27/7).

Dengan demikian, kata Jami Kuna, sehingga bukan untuk rakyat dia berkuasa melainkan untuk kepentingan para pengusaha (borjuasi). Kader kader partai pun banyak yang tidak dapat dukungan dari partainya karena tidak mempunyai modal sehingga kader partai hanya menjadi penonton di setiap momentum pesta demokrasi. Ditambah lagi, ketidakmauan partai dalam memberikan pendidikan politik terhadap rakyat karena orientasinya adalah uang sehingga nuansa pragmatisme makin rakus merongrong.


"Dan Ini adalah cara partai dan para politikus handalnya membuat agar rakyat apatis. faktor-faktor tersebut sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Nah, sudah dapat dipastikan rakyat lah yang akan dikorbankan," paparnya.

Mengapa demikian? menurut Jami Kuna, karena selama para calon yang ada sekarang ini masih berasal dari kalangan elit saja, maka amanah yang diembannya adalah amanah dari golongannya, bukan amanah untuk rakyat miskin yang merupakan golongan mayoritas.

"Sampai hari ini demokrasi kita adalah demokrasi politik yang imbasnya adalah seperti sekarang ini, dimana jabatan-jabatan strategis dihuni oleh golongan minoritas yang membawa kepentingan golongannya. Rakyat baik itu buruh, tani, nelayan dan kaum miskin serta mahasiswa lah yang dikorbankan. Penguasa hari ini tidak pernah benar-benar memikirkan nasib kita, mereka hanya sibuk untuk bagaimana caranya mengamankan dan menambah kekayaan. Maka dari itu kita harus sudah mulai menyusun dan menyiapkan kekuatan untuk membenahi nasib kita sendiri. Apakah bisa? Tentu bisa karena kita adalah rakyat mayoritas di negeri tercinta ini. Serta mendorong agar dibukanya akses ekonomi untuk masyarakat luas, artinya tidak hanya demokrasi secara politik melainkan demokrasi secara ekonomi," beber Jami Kuna menjabarkan. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Gus Ipul Cek Perkembangan Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama Manado

Jumat, 12 Juni 2026 | 00:14

Pegawai Imigrasi Jaksel Tingkatkan Kemampuan Jurnalistik dan Kehumasan

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:46

Pengawasan MBG Harus Diperkuat Usai Dadan Dkk Dicokok Kejagung

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:28

Pemerintah Sepakati Kerangka RAPBN 2027, Pertumbuhan Ekonomi Dibidik 6,5 Persen

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:02

Piala AFF U-19: Drama VAR Kubur Impian Garuda Muda ke Final

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:56

Mahasiswa Jabar Turun ke Jalan Suarakan RUU Polri dan BBM

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:24

PLN Berhasil Operasikan Tower Emergency, Sistem Kelistrikan Sumut Kembali Normal

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:14

Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tetap, Pertamax Naik Ikuti Harga Pasar

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

Target Pendapatan Dipatok Naik, DPR Restui Minuman Manis Kena Cukai

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

PLN Pulihkan Sistem Kelistrikan Sumatera Utara 72 Jam Lebih Cepat

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:02

Selengkapnya