Berita

Azyumardi Azra: Tindakan ISIS Bukan Jihad

RABU, 15 JULI 2015 | 05:15 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Fonomena penyebaran paham radikal oleh kelompok terorisme menamakan dirinya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Indonesia harus terus dipantau dan diwaspadai oleh pemerintah dan komponen bangsa ini.

Kemunculan ISIS sebenarnya buah dari ketidakstabilan politik dan keamanan di negara-negara Timur Tengah. Yang dilakukan ISIS bukan jihad, jadi tak layak ditiru.

"Jika merujuk teori sosiologi politik, takkala negara lemah semisal politik dan keamanan tidak stabil,   saat itulah aktor dan kelompok non-negara menguat untuk menguasai wilayah yang vakum dari kekuaasaan negara. Ini bisa menggambarkan lahirnya ISIS ini," ujar mantan Rektor  UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra kepada media, Selasa (15/7).


Menurutnya ISIS lahir dari ketidakstabilan politik, sosial dan agama. Ketika gelombang demokrasi itu sampai ke Suriah maka bercabanglah kelompok oposisi yang sebagian murni gerakan pro demokrasi dan lebih banyak lagi adalah kelompok militan radikal dengan mengusung semangat sektariasnisme keagamaan yang menyala-nyala yakni ISIS ini.

"ISIS menjadi brutal dan menimbulkan simpati segelintir muslim lintas benua dari Eropa sampai Indonesia karena mereka pintar menggunakan kata kunci yang populer di kalangan muslim, khususnya jihad dan khalifah. Padahal kebrutalan ISIS ini jelas tidak bisa disebut jihad, karena jihad yang mereka lakukan  menyimpang," ujar Azyumardi.

Sementara itu istilah Khalifah sendiri menurutnya adalah istilah yang banyak mengandung nuansa romantisme dan idealisme tentang sistem dan kelembagaan politik islam. Banyak kalangan muslim yang tanpa pengetahuan yang memadai tentang konsep dan praktek Khalifah yang mempersepsikan dan meyakini khalifah sebagai sistem, bentuk dan praksis politik Islam paling sahih, ideal dan terbaik yang perlu diperjuangkan terus menerus. Inilah yang terjadi di Indonesia.

Karena konsep khalifah yang dianggap tidak sesuai dengan kaedah sesungguhnya sesuai apa yang dianut segelintir umat muslim maka berbagai pihak di Indonesia diminta untuk tetap senantiasa perlu mencermati dan mewaspadai penyebaran ajaran dan rekrutmen ISIS secara komprehensif dan bekelanjutan.

Walaupun potensi keberhasilannya relatif kecil, gagasan dan praksis ISIS dapat menimbulkan dampak dan ancaman serius terhadap kehidupan politik, agama, sosial dan budaya di Indonesia.

"Hampir bisa dipastikan kelompok kecil radikal yang selama ini aktif di Indonesia yang tidak lain adalah pemain-pemain lama seperti veteran JI, MMI atau JAT yang bisa saja menggunakan nama lain seperti Anshar Al-Dawlah Al-Islamiyah dan sebagainya. Ini yang harus diwaspadai," paparnya mengingatkan.

Padahal menurutnya mayoritas umat Islam Indonesia yang tergabung dalam
NU, Muhammadiyah, MUI baik dari di tingkat nasional dan daerah beserta
ormasnya secara terbuka telah menolak ISIS.

"Mereka telah sepakat ISIS merupakan penyimpangan dari Islam Rahmatan Lil Alamin. Penolakan itu bukan pernyataan politik, tapi berdadsarkan hujjah atau dalil keagamaan melalui iftihad dab fatwa ulama dan juga lembaga.badan pengurus fatwa," katanya.

Sementara itu Guru Besar Hukum Internasional di Universitas Indonesia,
Prof. Hikmahanto Juwana mengatakan bahwa  upaya-upaya pencegahan dan
penindakan terhadap paham radikal yang dilakukan oleh Badan Nasional
Penanggulan Terorisme (BNPT) dinilai sudah tepat.

"BNPT sudah lakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk mencegah masuknya faham-faham radikal ini," kata Hikmahanto.[dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya