Berita

Muhaimin Iskandar/net

Wawancara

WAWANCARA

Muhaimin Iskandar: Reshuffle Bukan Agenda Serius, Yang Penting Ekonomi Membaik

KAMIS, 09 JULI 2015 | 09:07 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Elite partai politik pendukung pemerintah kerap mend­esak Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinet. Tapi tidak dengan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar.

Bagi bekas Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi itu, reshuffle kabinet atau tidak reshuffle, tidak terlalu pent­ing. Reshuffle hak prerogatif Presiden. Yang penting itu kon­disi ekonomi membaik.

Untuk itu, Cak Imin panggilan akrab Muhaimin Iskandar meng­harapkan Presiden Jokowi lebih fokus menyelesaikan masalah ekonomi dalam negeri yang tak kunjung membaik.


Apa alasan Cak Imin tak be­gitu mendesak reshuffle kabinet? Apakah PKB khawatir jatah menterinya dikurangi? Simak wawancara dengan Muhaimin Iskandar berikut ini:

Bukankah reshuffle kabinet itu penting demi perbaikan ekonomi?
PKB selaku bagian dari pe­merintah menyesalkan ekonomi tidak membaik. Semua harus bekerja keras, mencari jalan tengah untuk menyelesaikan masalah ekonomi ini.

Mau reshuffle atau nggak, itu tidak penting. Reshuffle bagi PKB bukan agenda serius. Yang penting Presiden memi­liki sense of conditioning terh­adap permasalahan ekonomi.

Memangnya kondisi per­ekonomian saat ini seperti apa?
Belum membaik. PKB itu bagian pemerintah. Jadi, kon­disi apapun yang terjadi pada masyarakat sangat dirasakan sekali oleh PKB. Setiap nega­rawan wajib memiliki sense of conditioning atau sense of crisis, yang segera mencari win-win solution.

Menteri dari PKB, apa su­dah bekerja maksimal untuk rakyat?
PKB yang memiliki wakil di Kabinet Kerja tentu akan berusaha bekerja untuk rakyat. Dalam sebuah koalisi tentu men­jadi biasa bila ada satu waktu kompak, tapi lain waktu berjalan sendiri. PKB ingin menjalankan fungsi amanat di tengah kondisi yang cukup tidak enak, yang kadang ada yang mau sendiri-sendiri.

Apa yang ingin Anda laku­kan?

Saya berjanji segera mengum­pulkan para menteri dan pejabat negara atau kepala daerah asal PKB untuk menginventarisir permasalahan masyarakat seka­ligus mencari dan menemukan solusi.

PKB harus kerja keras un­tuk menjahit dan merajut tali kebangsaan agar menemukan solusi terbaik bagi bangsa dan negeri ini.

Kinerja menteri secara keseluruhan bagaimana?
Saya menilai kementerian di bidang ekonomi belum bekerja secara maksimal. Hal tersebut menurut saya cukup merisau­kan. Kurs dolar tinggi terhadap rupiah, pengangguran mening­kat, daya beli turun, berdampak kepada penjualan, melambat daya jual produk.

Seharusnya bagaimana dong?
Menurut saya sudah seharus­nya ada terobosan cepat untuk mengatasi hal tersebut. Salah sa­tunya, investasi jangan dihambat dengan isu merakyat, akibatnya investasi menjadi melambat.

Kondisi politik dalam negeri saat ini, bagaimana?
Saya mengeluhkan kondisi partai politik saat ini. Menurut saya sekarang ini tidak benar-benar memberikan solusi bagi masyarakat, bahkan cenderung retorik.

Memangnya parpol saat ini seperti apa?
Saya menilai saat ini arah parpol cenderung dinamis. Mereka sering tidak tertebak. Maunya sendiri-sendiri. Agenda nggak jelas.

Parpol ada kalanya kompak bareng, ada kalanya bersaing nggak karuan. Sangat tematis, sporadis dan pragmatis. Saya berharap parpol mewujudkan kerja sama politis yang bagus. PKB berkomitmen untuk men­jadi parpol yang konsisten.

Apa pandangan PKB men­genai pemilu?
Saat ini bagi PKB, pemilu tidak lagi memperebutkan kekuasaan dan posisi. Namun lebih kepada bagaimana mengisi dan mewarnai kekuasaan.

Ini yang sulit. Saya minta kepada teman-teman di PKB yang berada di posisi pemer­intah untuk mengisi kekua­saan itu untuk kepentingan rakyat. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Pimpinan Baru OJK Perlu Perkuat Pengawasan Fintech Syariah

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:25

Barang Ilegal Lolos Lewat Blueray Cargo, Begini Alurnya

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:59

Legitimasi Adies Kadir sebagai Hakim MK Tidak Bisa Diganggu Gugat

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:36

Uang Dolar Hingga Emas Disita KPK dari OTT Pejabat Bea Cukai

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:18

Pemda Harus Gencar Sosialisasi Beasiswa Otsus untuk Anak Muda Papua

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:50

KPK Ultimatum Pemilik Blueray Cargo John Field Serahkan Diri

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:28

Ini Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:08

KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Pejabat Bea Cukai, 1 Masih Buron

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:45

Pengamat: Wibawa Negara Lahir dari Ketenangan Pemimpin

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:24

Selengkapnya