Berita

ilustrasi/net

Masak, Selevel Kuli Saja Kita Harus Impor dari China Sih?

JUMAT, 03 JULI 2015 | 10:32 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Publik media ramai mengomentari kabar eksodusnya tenaga kerja China ke Tanah Air. Tweeps mengingatkan pemerintah mencegah masuknya tenaga kerja asing ke dalam negeri.

Warga pemilik akun media sosial kaget mendengar rumor warga nega­ra China akan eksodus ke Indonesia menjadi tenaga kerja, akun @dar­ma2 khwatir eksodus warga China ke Indonesia akan menciptakan konflik sosial di masyarakat.

"Kasihan pekerja Indonesia nggak kebagian rejeki di negeri sendiri kalau sampai pemerintah membi­arkan tenaga kerja China datang," cuitnya.


Akun @hendrasubrata berpenda­pat, pemerintahan Jokowi melaku­kan kesalahan besar kalau sampai membiarkan buruh warga negara asing bekerja bebas di dalam neg­eri. "Ingat hanya pekerja ahli yang boleh diijinkan kerja di Indonesia," katanya.

Akun @jsiahnan khawatir akan muncul konflik etnis kalau tenaga kerja dari China dibiarkan datang ke Indonesia. "Kok setingkat kuli harus impor dari China, aneeeh," katanya.

Akun @kurniawanhendriloe­biz mengingatkan, mental dan peri­laku pekerja China berbeda dengan negara Asia dan Eropa. Kata dia, orang China biasanya tidak mau pulang ke negara asal kalau sudah berhasil hidup enak di negara lain. "Ketika proyek selesai TKI China dijamin susah kembali ke negaranya. Mereka akan berpikir membentuk kawasan baru dengan suku mereka sendiri," ingatnya.

Akun @whoamai menengarai diberlakukan perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) sebagai pemicu minat buruh China eksodus ke Tanah Air. "Eksodus warga China sulit dicegah selama petugas keimigrasian masih suka terima suap," katanya.

Akun @somaysapusapu menga­takan, warga negara China tahun depan bakal semakin mudah datang ke Indonesia, setelah pemerintah mem­buat aturan bebas visa kunjungan bagi turis asal China. "Penyalahgunaan bebas visa kunjungan akan terjadi secara massif," ujarnya.

Akun @edwintedjo bilang, tidak diberi kebebasan datang saja banyak warga negara China datang secara diam-diam ke Indonesia. "Coba liat di glodok banyak imigran China yang nggak bisa bahasa Indonesia, mereka itu nggak ada yang men­jamah, apalagi sudah dilegalkan dengan izin," bebernya.

Akun @ibnu.nahwitama mewan­ti-wanti pemerintah memperketat penjagaan di setiap pintu masuk ke Indonesia, khususnya bandara. "Pengawasan kependudukan dan imigrasi juga perlu ditingkatkan," katanya.

Berbeda, akun @hadifianwidja­ja tak keberatan Indonesia mengim­por pekerja kasar dari China. Dia berharap, tenaga kerja lokal tidak takut kalah bersaing dengan tenaga kerja China. "Jutaan TKI kita kirim ke Malaysia, tapi Malaysia nggak protes. Jadi kita jangan protes kalau buruh asing mau datang ke sini," komennya.

Akun @deddy.chan yakin pemer­intah Jokowi tidak akan gegabah mengijinkan warga negara China bekerja di Indonesia. Dia menduga, hanya orang iseng yang menyebar rumor eksodusnya pekerja China ke Indonesia. "Makanya buruh lokal jangan suka demo dan nuntut THR. Mau pekerjaannya dikasih sama orang China?" tanyanya.

Akun @aminman mengatakan, kalau etos kerja orang Indonesia masih seperti sekarang, jangan heran kalau nanti para Investor lebih cend­erung memakai jasa tenaga kerja asing, khususnya tenaga kerja asal China. "Kuli China itu kerja rajin dan ulet. Di sini buruh kerjanya sebentar, lebih senang main hand­phone, nongkrong sambil ngerokok, haha," kelakarnya.

Perbincangan hangat di media sosial kini seputar isu eksodus tenaga kerja China ke Indonesia berawal dari pemberitaan tentang banyaknya tenaga kerja China di proyek pembangunan pabrik se­men di Lebak, Banten. Dari situ, isu berkembang hingga eksodus tenaga kerja dari sebuah pabrik di Manokwari, Papua.

Pemerintah Jokowi dituding mem­buka keran pekerja asing China dan mempersempit nasib pekerja dalam negeri seiring dengan meningkatnya kerjasama infrastruktur dengan mereka. Sejumlah berita penan­datanganan proyek kerjasama pun ditautkan dengan kabar eksodus.

Bak bola salju, isu tersebut meng­gelinding hingga ke Afrika. Ada yang mengaitkan video dokumenter BBC tentang dominannya tenaga kerja China di Angola. Proyek-proyek infrastruktur di sana, tak menyediakan tempat bagi warga setempat.

Pertanyaan besar pun muncul: apak­ah nasib Indonesia bakal sama sep­erti Angola? Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menjawab pertanyaan di atas dengan tegas. Dia memastikan tak ada eksodus atau banjir pekerja asal China di Indonesia.

"Tidak benar ada eksodus kar­ena kami cukup selektif menge­luarkan izin. Semua IMTA (Izin Memekerjakan Tenaga Asing) yang kami keluarkan untuk kedua pabrik itu sifatnya sementara (masa kerja hanya 6 bulan). Setelah itu mereka harus angkat kaki. Lagipula, para TKA itu kan hanya kerja di tahap konstruksi," tegas Hanif.

Politisi PKB itu membeberkan da­ta untuk dua perusahaan yang diso­rot yakni, PT Cemindo Gemilang hanya menerbitkan 17 izin pekerja asing dan PT Cimona, menerbitkan 432 izin untuk 6 bulan kerja. Meski begitu, Hanif mengaku mendapat laporan jumlahnya lebih banyak di lapangan. Saat ini, dia sedang memverifikasinya. Jika benar, maka mereka bakal dideportasi. ***

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

BSI Tutup 2025 dengan Syukur dan Spirit Kemanusiaan

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:11

KUHP Baru Hambat Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Kamis, 01 Januari 2026 | 18:10

TNI AL Gercep Selamatkan Awak Speedboat Tenggelam di Perairan Karimun

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:58

BNPB Laporkan 1.050 Huntara Selesai Dibangun di Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:55

Indonesia Menjadi Presiden HAM PBB: Internasionalisme Indonesia 2.O

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:51

Prabowo Ungkap Minat Swasta Manfaatkan Endapan Lumpur Bencana Aceh

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:46

YLBHI: Pasal-pasal di KUHP Baru Ancam Kebebasan Berpendapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:39

Satgas Pemulihan Bencana Harus Hadir di Lapangan Bukan Sekadar Ruang Rapat

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:19

Saatnya Indonesia Mengubah Cara Mengelola Bencana

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Purbaya Klaim Ekonomi Membaik, Tak Ada Lagi Demo di Jalan

Kamis, 01 Januari 2026 | 17:11

Selengkapnya