Berita

greg sheridan/net

Greg Sheridan: Kabinet Kerja Jokowi Mengecewakan

MINGGU, 28 JUNI 2015 | 13:20 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Penyebab utama ketidakmampuan Joko Widodo memperlihatkan prestasi yang gemilang sejauh ini adalah karena dirinya tidak memiliki kekuasaan yang mutlak untuk menentukan susunan Kabinet Kerja.

Menteri-menteri yang duduk di Kabinet Kerja direkomendasi oleh Ketua Umum PDI Perjuangan dan pemilik kekuasaan lain yang berada di belakang kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2014.

"Kabinet ini mengecewakan," tulis kolumnis Greg Sheridan pada kolomnya di The Australian edisi Kamis lalu (25/6).


"Kinerja buruk diperlihatkan (menteri-menteri) yang diditunjuk oleh partai politik, dan mereka kelihatannya sulit untuk diganti," tulis Sheridan lagi.

Sambung Sheridan, perekonomian Indonesia cidera akibat penurunan harga komoditas. Bila pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di bawah 4,5 persen untuk waktu yang panjang, maka Jokowi akan berada dalam persoalan yang bisa membuat putus asa.

Walaupun misalnya situasi ekonomi tidak seburu itu, tetapi saja Jokowi memperlihatkan bahwa dirinya tidak pada level yang bisa menjalankan tugas manajemen politik. Aset politik yang dimilikinya selama ini, popularitas, pun akhirnya memudar.

Sheridan juga membandingkan perlakuan Jokowi dan SBY yang digantikannya terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Walaupun saat berkuasa SBY juga harus melakukan politik kompromistis yang normal, tetapi dia selalu melindungi KPK. Sementara di era Jokowi, Polri yang memiliki hubungan dekat dengan Megawati, menekan KPK.

Selain itu, Jokowi juga dinilai hampir tidak memiliki ketertarikan terhadap kebijakan luar negeri di luar retorika nasionalisme. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi tidak punya hubungan langsung dengan Jokowi dan tidak efektif dalam menjalankan tugas. Retno Marsudi, menurut Sheridan, ditunjuk Mega untuk menduduki posisi Menlu. [dem]

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

UPDATE

Prabowo Tetap Hadiri Peluncuran Buku Bahlil Meski Sedang Flu

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:26

KPK Panggil Pengelola Wisma Atlet Buntut Kasus Korupsi Bea Cukai

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:23

Sudaryono Diyakini Mampu Benahi Tata Kelola Program MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:20

Jangan Cepat Puas, Pengangguran Turun tapi Kualitas Pekerjaan Masih jadi PR

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:14

KPK Panggil Petinggi PAN Rejang Lebong di Pengembangan Kasus Bengkulu

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:04

Belum Ada Rencana Reshuffle, Istana Utamakan Isi Jabatan yang Kosong

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:54

BPK: Opini WTP Bukan Tujuan Akhir, Tata Kelola Harus Terus Diperkuat

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:42

Spoiler One Piece Chapter 1190: Duel Gaban vs Imu Memanas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:22

Istana Benarkan Destry Damayanti Masuk Bursa Gubernur BI

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:17

Daftar Harga Pertamax Terbaru di SPBU Pertamina Seluruh Indonesia

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:03

Selengkapnya