Berita

muhaimin dan jokowi/net

Politik

Setuju Dana Aspirasi, PKB dan PPP Tak Serius Mendukung Jokowi?

JUMAT, 26 JUNI 2015 | 08:36 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Penolakan Presiden Jokowi terhadap dana aspirasi DPR merupakan sikap yang penting untuk menyikapi parpol pendukung seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang ternyata sontoloyo, karena membela proyek 'genthong babi' itu.

Demikian disampaikan pakar politik senior Muhammad AS Hikam lewat akun facebooknya, Jumat (26/6).

Menurut AS Hikam, penolakan Presiden Jokowi merupakan sinyal bahwa kedua partai Islam yang ikut bergabung dalam koalisi Koalisi Indonesia Hebat (KIH) itu ternyata tidak memiliki visi yang sama dengan Presiden dan hanya mementingkan diri sendiri dan kelompok, tetapi mengabaikan Konstitusionalisme dan komitmen terhadap demokrasi.


"Bisa jadi, kedua partai itu memang sebenarnya tidak serius di dalam mendukung Pemerintahan Presiden Jokowi. Karena mereka hanya berorientas kepada kekuasaan dan bagaimana mempertahankan kekuasaan dengan cara apapun, termasuk yang menabrak Konstitusi maupun etika," imbuhnya.

Jika demikian, lanjut AS Hikam, Presiden Jokowi tidak perlu terlalu berbasa-basi terhadap keduanya. Sebab sebuah koalisi yang anggotanya malah menggerogoti dari dalam adalah seperti rayap yang akan menghancurkan pohon atau bangunan dari dalam.

Seperti diketahui, Fraksi PDIP, NasDem dan Hanura menolak dana aspirasi DPR sebesar Rp 11,2 triliun, atau Rp 15-20 miliar per anggota dewan setiap tahun. Namun belakangan, Demokrat 'ikut-ikutan' menolak dana yang disebut sebagai Usulan Program Pembangunan Daerah Pemilihan (UP2DP) itu.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago sudah dua kali menyatakan Presiden Jokowi tak setuju dengan dana aspirasi DPR. Namun, Tim Komunikasi Presiden Teten Masduki menyebut, Presiden Jokowi belum mengeluarkan sikap. "Belum (bersikap). Presiden akan minta pendapat Menteri Keuangan dulu," jelas Teten di Istana kemarin (Kamis, 25/6). [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Galang Kekuatan Daerah, Reynaldo Bryan Mantap Maju Jadi Caketum HIPMI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:13

Anak Muda Akrab dengan Investasi, tapi Tanpa Perencanaan Finansial

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:59

Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, DPR Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Heatstroke

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:46

Dolar AS Menguat 5 Hari Beruntun Dipicu Lonjakan Minyak dan Efek Perang Iran

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:33

Sindikat Internasional Digrebek, Komisi XIII DPR Minta Pemerintah Serius Berantas Judol!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:19

STOXX hingga DAX Ambles, Investor Eropa Dibayangi Risiko Inflasi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:03

Pesanan Hukum terhadap Nadiem Bernilai Luar Biasa

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:44

Volume Sampah di Bogor Melonjak Imbas MBG

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:37

Industri Herbal Diprediksi Berkembang Positif

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:23

Adi Soemarmo Masuk Tiga Besar Embarkasi Haji Tersibuk

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:16

Selengkapnya