Berita

Ignasius Jonan/net

Wawancara

WAWANCARA

Ignasius Jonan: Saya Usul Harus Ada Keppres Untuk Pangkas Dwelling Time

SENIN, 22 JUNI 2015 | 08:40 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Lamanya proses dwelling time yang bikin Presiden Jokowi marah, sebenarnya bukanlah persoalan rumit. Kepress pembentukan Otoritas Pelabuhan seba­gai koordinator pelaksana one stop service, adalah solusinya.
 
Sebagaimana diketahui, Presiden Jokowi pekan la­lu mengamuk di Pelabuhan Tanjung Priok karena operator di lapangan dianggap tak mampu mempersingkat dwelling time (waktu bongkar muat kontainer di pelabuhan) sesuai target yang ditetapkan.

Menurut Jokowi, di negara lain bongkar muat kontainer dari kapal sekaligus mengurus doku­men bisa beres paling lambat dua hari. Sedangkan di sini bisa sampai 20 hari.


"Nggak jelas. Ini harus di­jelaskan. Berapa hari? Saya marah karena jawaban dari op­erator nggak jelas. Muter-muter. Saya tanyakan sampai tiga kali, instansi mana yang mengham­bat, tidak juga dijawab. Untung saat itu belum puasa, jadi masih boleh marah," kata Jokowi saat meresmikan pelabuhan Tanjung Batu, Belitung, Provinsi Bangka Belitung, Sabtu (20/6).

Terkait persoalan ini, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengatakan, pihaknya sudah mengusulkan solusi. Yaitu, dike­luarkannya Keputusan Presiden (Keppres) untuk mengubah sistem dwilling time.

"Sebenarnya ini (dwelling time) bukan persoalan yang rumit. Saya mengajukan agar dikelu­arkan Keppres dari sebelumnya harus melewati 18 kementerian, diubah menjadi one stop service atau layanan perizinan satu atap. Dengan demikian, proses dwillingtime akan menjadi lebih cepat," kata Jonan kepada Rakyat Merdeka.

Inilah wawancara lengkap dengan Menteri Jonan di sela-sela kesibukanya menyiapkan peresmian Pelabuhan Tanjung Batu di Bengkulu, Sabtu dinihari (20/6).

Presiden Jokowi mengin­struksikan untuk menurunk­an dwelling time, komentar Anda?
Ini kan tugas Kemenko (Maritim) yang harus selesaikan. Kalau dari kita, Kemenhub sudah usulkan kalau mau (lebih singkat-red) dwelling time itu 18 kementerian dan lembaga, termasuk operator Pelindo, itu otoritas pelabuhanya dijadikan koordinator.

Untuk menunjuk koordina­tor supaya dipatuhi 18 instansi itu, apa yang diperlukan?
Harus ada Keppres-nya, su­paya ada dasar yang bisa mengatur lembaga yang lainnya di situ. Kan saya sudah usul berkali-kali, kalau itu dibikinkan (Keppres), maka Kepala Otoritas Pelabuhan jadi koordinator. Jadi satu atap, nah baru bisa jalan.

Kayak Samsat (Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap) kalau jalan sendiri-sendiri, cuma rundingan ayo janjian, nggak bakal teratur. Kalau satu­nya telat, nggak bisa dihukum. Bagaimana caranya menghukum itu yang telat.

Dengan adanya sistem one stop service itu, kira-kira berapa lama waktu yang bisa terpangkas?
Saya yakin kalau ada itu (sistem layanan satu atap) dampak­nya akan besar (bagi penyelesa­ian dwelling time) yang saat ini masih 5,5 hari.

Menurut Anda, apa sih penyebab dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok kok lama?
Dulunya Pelindo kan juga regulator, waktu masih jadi Unit Pengelola Pelabuhan. Lalu berubah jadi Perum, kemu­dian jadi badan usaha. Harusnya ngikut, karena yang atur kan mestinya jadi satu di otoritas pelabuhan. Jadi otoritas pelabu­han kurang efektif saja.

Selain itu, apa ada usulan lain?
Ini saya tawarkan saja ke Kemenko Maritim, saya kan ng­gak bisa ambil langkah. Kayak Samsat atau BKPM(Badan Koordinasi Penanaman Modal), semua pelayanan dikendalikan dan dikontrol sama satu instansi saja. Semua instansi yang terkait dikirim ke sana, dikasih honor yang sama, jalan pasti.

Lah sekarang katanya rata-rata dwelling time sudah 5,5 hari. Bahkan bisa 4 hari kalau mau dijalankan seperti itu. Otoritas Pelabuhan ditunjuk jadi koordi­nator, ada Keppres-nya. Semua yang di pelabuhan harus dik­oordinir oleh mereka jadi satu. Jadi kalau ada yang telat atau apa, bisa ketahuan. Siapa yang telat dan siapa yang tidak bisa dihukum.

Anda tidak menegur Pelindo 2?
Kementerian Perhubungan itu cuma fasilitator saja. Saya mau kirim surat ke Menteri BUMN, ya mohon diimbau lah supaya Pelindo atur lagi tuh kontainer-kontainer yang berhari-hari nginep di situ supaya tidak num­puk di Pelabuhan. Dibawa kelu­arlah tuh kontainer supaya pe­manfaatan lahan di situ bergerak terus. Nah ini pasti Pelindo harus mikir secara bisnis. Kurang lebih itu saja. ***

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya