Berita

Rizal Djalil/net

Wawancara

WAWANCARA

Rizal Djalil: Tanpa Ngerusak Hutan, Negara Wajib Sediakan Lahan Untuk Infrastruktur

SENIN, 22 JUNI 2015 | 08:26 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Minggu lalu Presiden Jokowi meresmikan Jalan Tol Cikopo-Palimanan. Beliau menyatakan bahwa pembe­basan lahan untuk jalan tol tersebut membutuhkan waktu 6 tahun, sedangkan pembebasan lahan untuk Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta W II membutuhkan waktu 15 tahun. Terkesan sekali bahwa Presiden tidak happy dengan kenyataan tersebut, sekaligus Presiden meng­inginkan percepatan penyelesaian pembebasan lahan untuk proyek-proyek infrastruktur lainnya.

BPK melakukan pemeriksaaan se­cara rutin dan berkesinambungan mengenai program infrastruktur, termasuk di antaranya pembe­basan lahan. Sekaligus memberi­kan rekomendasi dalam rangka percepatan penyediaan lahan untuk proyek infrastruktur. Pada Senin 15 Juni 2015 bertempat di IPB, Bogor, BPK memfasili­tasi Rapat Koordinasi dengan topik: permasalahan penyediaan lahan untuk proyek-proyek in­frastruktur yang bersentuhan dengan kawasan hutan. Dalam Rakor tersebut hadir para pet­inggi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, para pengusaha yang beroperasi di kawasan hutan, pakar kehutanan, para dosen dan mahasiswa Fakultas Kehutanan.

Anggota IV BPK, Prof. Dr. Rizal Djalil yang membidangi infrastruktur, energi, sumber daya alam, pertanian, kehu­tanan, serta maritime menjelas­kan urgensi acara tersebut. Dia juga menjelaskan perhatian BPK terhadap berbagai proyek in­frastruktur pemerintah. Berikut petikannya:


Mengapa Anda menganggap penting membahas topik lahan untuk proyek infrastruktur secara khusus?
Ya, tugas BPK memang melakukan pemeriksaan keuangan, tapi di samping itu, BPK juga berperan mendorong percepatan pembangunan khususnya di bi­dang infrastruktur. Pemerintahan Jokowi telah mencanangkan untuk membangun 1.000 km jalan tol, 49 bendungan dan 1 juta hektar irigasi. Ini pekerjaan yang sangat luar biasa dan akan memberikan dampak ekonomi yang sangat luas bila program ini berhasil diwujudkan, untuk itu semua pihak harus men­dukung termasuk BPK RI.

Masalah kehutanan kita sebesar apa sebenarnya?
Tingkat kerusakan hutan kita sebenarnya jauh lebih rendah (8,4%) dari Negara-negara lain, bahkan Malaysia lebih tinggi tingkat kerusakannya (14%).

Bisa dijelaskan posisi hutan kita sekarang?
Dari sisi luas hutan posisi Indonesia nomor 8 di dunia yaitu dengan luas 120,7 juta hektar, itu artinya kita salah satu penyum­bang oksigen terbesar di dunia. Hutan tersebut terdiri dari Hutan Lindung (29,6 juta Ha), Hutan Konservasi (21,9 juta Ha), Hutan Produksi (29,2 juta Ha), Hutan Produksi Terbatas (26,8 juta Ha) dan Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi (13,1 juta Ha).

Berapa sebenarnya hutan yang sudah dimanfaatkan untuk proyek infrastruktur sampai dengan tahun 2014?

Total hutan yang sudah diman­faatkan untuk proyek infrastruk­tur sampai tahun 2014 adalah sekitar 347 ribu Ha.

Apakah jumlah tersebut memberikan dampak negatif terhadap kelestarian hutan secara keseluruhan?
Oh tidak sama sekali, jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan total kawasan hutan kita. Kita harus memberikan apresiasi ke­pada teman-teman Kementerian Kehutanan yang telah berupaya menjaga dan mengawal hutan kita sehingga tetap lestari.

Kabarnya justru pelangga­ran tata kelola hutan banyak dilakukan oleh pengusaha di sektor pertambangan?
Berdasakan audit BPK, ter­dapat 115 Perusahaan pertam­bangan di kawasan hutan yang tidak memiliki izin dari Menteri Kehutanan.

Sikap BPK bagaimana mengenai masalah ini?
Ya, kami sudah menyampai­kan kepada Menteri Kehutanan dan pihak terkait untuk diproses sesuai dengan perundang-un­dangan yang berlaku.

Apalagi yang menjadi per­hatian BPK terkait penyediaan lahan untuk infrastruktur?
Kami juga memberikan perha­tian terhadap perubahan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan, khususnya perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2010 dan Nomor 24 Tahun 2010 yang mengakomodir penyediaan lahan untuk waduk dan irigasi. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Pimpinan Baru OJK Perlu Perkuat Pengawasan Fintech Syariah

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:25

Barang Ilegal Lolos Lewat Blueray Cargo, Begini Alurnya

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:59

Legitimasi Adies Kadir sebagai Hakim MK Tidak Bisa Diganggu Gugat

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:36

Uang Dolar Hingga Emas Disita KPK dari OTT Pejabat Bea Cukai

Jumat, 06 Februari 2026 | 02:18

Pemda Harus Gencar Sosialisasi Beasiswa Otsus untuk Anak Muda Papua

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:50

KPK Ultimatum Pemilik Blueray Cargo John Field Serahkan Diri

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:28

Ini Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV-2025

Jumat, 06 Februari 2026 | 01:08

KPK Tetapkan 6 Tersangka OTT Pejabat Bea Cukai, 1 Masih Buron

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:45

Pengamat: Wibawa Negara Lahir dari Ketenangan Pemimpin

Jumat, 06 Februari 2026 | 00:24

Selengkapnya