Berita

jokowi-sby/net

Pengamat Politik: Jokowi Pura-Pura Tidak Tahu Atau Takut PDIP

JUMAT, 19 JUNI 2015 | 15:34 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Tidak adanya keselarasan antara Presiden Jokowi dengan Menkumham Yasonna Laoly terkait revisi UU KPK membuat publik bertanya-tanya. Pasalnya, kalau Jokowi sudah jelas menolak revisi, Yasonna malah ngotot ingin melakukan perubahan.

Demikian disampaikan pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID) Jajat Nurjaman kepada redaksi, Jumat (19/6).

"Kalau memang benar Jokowi sudah menyatakan menolak merivisi UU KPK, kenapa dia tidak berani bersikap tegas kepada Yasonna. Apa karena Yasonna menteri titipan dari PDIP lantas Jokowi jadi takut, atau jangan-jangan penolakan Jokowi tersebut hanya pura-pura supaya tidak disalahkan," kata Jajat.


Ia menilai, upaya pelemahanan KPK merupakan kemunduran dari semangat pemberantasan korupsi di Indonesia. Sehingga wajar jika publik mempertanyakan keseriusan pemerintahan Jokowi dalam memberantas korupsi. Apalagi partai pengusung Jokowi yakni PDIP adalah partai terkorup di Indonesia, bisa saja polemik ini muncul karena PDIP ingin menghancurkan KPK.

Jajat lanjut menjelaskan, jangan sampai tingkah Jokowi adalah fotokopi dari SBY saat mengatasi persoalan UU Pilkada.

"Apa yang terjadi saat ini mirip dengan yang terjadi pada masa era pemerintahan SBY, ketika menterinya mengusulkan perubahan di parlemen, pada akhir laga SBY tampil bak pahlawan kesiangan dengan mengeluarkan Perppu. Mungkin Jokowi juga akan mengikuti jejak SBY dan menjadi pahlawan di akhir polemik revisi UU KPK" tutup Jajat.

Sebelumnya, Menteri Yasonna mengatakan revisi UU KPK adalah usulan DPR, bukan Pemerintah. revisi ini sudah masuk ke dalam daftar panjang Prolegnas periode 2015-2019. Namun Yasonna menilai RUU KPK ini perlu dimasukan dalam Prolegnas prioritas 2015 karena UU KPK saat ini dapat menimbulkan masalah dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi.

"Perlu dilakukan peninjauan kembali seperti penyadapan yang tidak melanggar HAM, dibentuk dewan pengawas, pelaksanaan tugas pimpinan, dan sistem kolektif kolegial," ujar Yasonna di Gedung DPR Selasa (16/6) kemarin. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya