Berita

foto:net

Nusantara

Pemerintah Harus Tahu, Inilah Penyebab Pengungsi Sinabung Tetap Nekat Masuk Zona Merah

JUMAT, 19 JUNI 2015 | 13:58 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Status erupsi gunungapi Sinabung di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara saat ini masih berstatus 'awas' alias level IV. Artinya, warga tidak boleh berada di radius 10 kilometer dari gunungapi.

Namun, para pengungsi Sinabung tetap nekat masuk ke zona merah yang ditetapkan harus steril oleh pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) seiring meningkatnya status Sinabung menjadi Awas. Tidak sedikit pengungsi yang pulang pergi ke ladang (kebun) yang terletak pada radius 7 kilometer dari puncak kawah, dengan alasan untuk memetik panen.

Ketua Program Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kota Medan, Susanto Ginting mengatakan, sikap nekat yang ditunjukkan oleh pengungsi lebih disebabkan kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi jika hanya mengharapkan bantuan dari pemerintah.


"Pemerintah hanya membantu mereka untuk makan dan minum saja, sementara untuk kebutuhan sehari-hari anak mereka ke sekolah tidak ditanggung," katanya seperti dikabarkan medanbagus.com, Jumat (19/6).

Menurut Susanto, pemerintah seharusnya tidak hanya berpatokan pada pemenuhan kebutuhan logistik berupa makanan dan minuman saja. Namun bantuan yang diberikan juga harus didasarkan pada faktor sosial.

"Warga Karo itu setiap pagi selalu ke kedai kopi. Disitu mereka berinteraksi sosial dengan yang lainnya. Kalau mereka tak punya uang bagaimana mereka ke kedai meski sekedar minum teh saja. Ini hal kecil tapi menjadi salah satu faktor yang membuat mereka nekat pulang ke ladang untuk memetik buah kopi mereka," ujarnya.

Persoalan-persoalan kecil seperti ini menurut Susanto sudah menjadi keluhan bagi para pengungsi. Sebab, pemerintah sejauh ini hanya memperhatikan kebutuhan pokok mereka dengan mensuplai makanan dan minuman.

"Apa dengan makan dan minum di tenda pengungsian itu cukup? Tidak. Para pengungsi juga butuh biaya untuk kebutuhan sekolah anak mereka," demikian Susanto. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya