Berita

as hikam/net

AS Hikam Skeptis Omongan Menteri Yasonna untuk Perkuat KPK

KAMIS, 18 JUNI 2015 | 10:57 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Secara harfiah omongan Menkumham Yasonna Laoly tentang revisi UU KPK tentu baik-baik saja dan masuk akal. Sebelumnya Yasonna mengatakan bahwa tidak ada UU yang sempurna, sehingga revisi terhadap sebuah UU pun, dalam hal ini UU KPK, adalah hal yang wajar. Bahkan, masih menurut Yasonna, jika ada pihak yang menganggap revisi UU sebagai pelemahan KPK, maka hal itu termasuk berprasangka buruk.

"Omongan seperti ini sudah sangat klise gaya politisi yang mencoba menutupi niat atau motif dan memanipulasi logika serta norma hukum untuk kepentingan tertentu," ujar pakar politik senior Muhammad AS Hikam lewat akun facebooknya sesaat lalu (Kamis, 18/6).

Dalam hal revisi UU KPK ini, hemat AS Hikam, ada beberapa pertanyaan yang meski dijawab. Pertama, seberapa urgenkah revisi tersebut dalam konteks peran dan fungsi KPK saat ini dan di masa depan? Kedua, apakah revisi tersebut muatannya akan lebih memperkuat tupoksi KPK atau melemahkannya? Ketiga, siapa yang mempunyai gagasan dan kepentingan revisi tersebut, dan bagaimana respon pihak KPK sendiri secara kelembagaan? Keempat, bagaimana reaksi publik mengenai gagasan revisi UU KPK.


"Dalam pandangan saya, jawaban nomor pertama dan kedua cenderung negatif. Jawaban atas pertanyaan ketiga juga jelas, bahwa ide tersebut lebih cenderung datang dari pihak-pihak yang selama ini dikenal sebagai pendukung pelemaha KPK. Sedangkan jawaban keempat juga cenderung negatif," ungkap AS Hikam.

Lanjut dia, revisi UU KPK lebih merupakan bagian integral dari rangkaian gerakan pelemahan lembaga antirasuah tersebut. Kiprah KPK yang dalam kurun waktu relatif pendek telah berhasil membongkar berbagai kasus korupsi kakap yang melibatkan elite politik dan pemilik modal di negeri ini, tentu sangat memukul kemapanan dan kenyamanan mereka. Terutama para politisi dan parpol tentu paling terpukul dengan kiprah KPK yang tidak bisa mereka kendalikan, kontrol, dan bahkan tekan. Kasus-kasus korupsi kakap yang melibatkan pimpinan parpol dan politisi di Parlemen (pusat dan daerah), bukan saja merugikan pribadi-pribadi yang masuk bui, tetapi juga berkontribusi besar dalam keterpurukan partai mereka dalam Pileg, Pilpres, dan Pilkada.

"Padahal kiprah KPK sudah mengalami berbagai ganjalan dan pelemahan sistematis terus menerus, sementara pemerintah baru di bawah Presiden Jokowi juga masih belum benar-benar menampakkan komitmen nyata untuk mendukung KPK. Bahkan dari kasus kriminalisasi tokoh-tokoh KPK seperti Abraham Samad, Bambang Wijoyanto, serta kemudian Novel Baswedan, banyak pihak yang kian memandang Presiden Jokowi tidak konsisten dengan platform politik ketika menjadi capres," ungkapnya.

Belum lagi, sambung AS Hikam, fakta bahwa Menteri Yasonna adalah politisi PDIP, parpol besar yang juga mempunyai rekor kasus korupsi yang cukup tinggi.

"Saya sangat skeptis bahwa omongan Yasonna Laoly di atas merupakan sebuah komitmen memperkuat KPK melalui revisi. Sebaliknya, saya lebih yakin bahwa omongan di atas tak lebih dari retorika klise untuk mengelabui publik dan membelokkan (distorting) pandangan mereka dari sebuah proyek besar yang bernama pelemahan KPK secara terstruktut, sistematik, dan massif," imbuhnya.

"Jika Presiden Jokowi nanti mendukung revisi UU yang disemangati oleh upaya pelemahan KPK, maka semakin terbukti keraguan publik yang kini sudah muali bersemi terhadap komitmen beliau terhadap pemberantasan korupsi sesuai doktrin Nawa Cita itu," tukas AS Hikam menambahkan. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Galang Kekuatan Daerah, Reynaldo Bryan Mantap Maju Jadi Caketum HIPMI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:13

Anak Muda Akrab dengan Investasi, tapi Tanpa Perencanaan Finansial

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:59

Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, DPR Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Heatstroke

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:46

Dolar AS Menguat 5 Hari Beruntun Dipicu Lonjakan Minyak dan Efek Perang Iran

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:33

Sindikat Internasional Digrebek, Komisi XIII DPR Minta Pemerintah Serius Berantas Judol!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:19

STOXX hingga DAX Ambles, Investor Eropa Dibayangi Risiko Inflasi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:03

Pesanan Hukum terhadap Nadiem Bernilai Luar Biasa

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:44

Volume Sampah di Bogor Melonjak Imbas MBG

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:37

Industri Herbal Diprediksi Berkembang Positif

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:23

Adi Soemarmo Masuk Tiga Besar Embarkasi Haji Tersibuk

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:16

Selengkapnya