Mudah-mudahan gaya Presiden Jokowi yang mengenakan seragam militer saat menerima tamu di Istana Negara hanya insiden semata.
Harapan itu disampaikan pengamat komunikasi dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati saat dihubungi redaksi, Rabu (17/6).
Devie berharap, alasan Jokowi tetap mengenakan seragam TNI AD untuk efisiensi waktu, benar adanya.
"Saya berharap ini hanya insiden saja, untuk menghormati tamu-tamunya," ungkap dia.
Devie juga berharap, mudah-mudahan ini upaya Jokowi membuat ritual baru di Istana Negara agar menjadi rileks. Tidak ada pakaian tertentu di Istana.
"Kalau itu cara pikirnya, besok-besok Pak Jokowi juga harus pakai seragam polisi dan pakaian oblong, agar lebih rileks," imbuhnya.
Terakhir, Devie meminta, Jokowi yang 'doyan' berseragam militir tidak dikait-kaitkan dengan pengambilalihan kekuasaan oleh militer.
"Sebenarnya enggak ada yang salah dengan militer. Tapi simbol-simbol ini jangan sampai memantik memori publik ke masa lalu," ujarnya.
Devie pun menambahkan, insiden ini jangan terlalu diperdebatkan apalagi dipolitisasi, karena tidak terlalu penting.
Seperti diwartakan, Presiden Jokowi menerima Ketua Umum PP Muhammadiyah di Istana Negara kemarin (Selasa, 16/6), dengan mengenakan seragam militer. Pihak Istana mengatakan, Jokowi tidak sempat ganti baju setelah menghadiri latihan perang TNI AD di Baturaja, Sumatera Selatan. Begitu mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jokowi langsung menuju Istana.
Dalam sebuah pertemuan di Istana Negara 4 Juni lalu, pengamat militer Universitas Pertahanan, Salim Said sudah mengkritik kebiasaan Presiden Jokowi mengenakan seragam militer. Salim dengan keras mengingatkan bahwa Jokowi berasal dari warga sipil, namun sebagai Presiden, Jokowi adalah penguasa tertinggi TNI, meski tanpa mengenakan seragam. "Saya ingatkan Pak Jokowi dengan hormat dan rendah hati, jangan membiasakan menggunakan pakaian militer. Beliau (Jokowi) itu kan sipil," kata Salim.
[rus]