Berita

Rini Soemarno/net

Kalau Ada Reshuffle, Netizen Minta Menteri Rini yang Pertama Ditendang

SELASA, 16 JUNI 2015 | 15:39 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Isu reshuffle dalam kabinet pemerintahan Jokowi-JK terus menguat. Bahkan kalangan penggiat dunia maya (netizen) mayoritas menginginkan Presiden Jokowi untuk mengganti pembantunya yang tidak cakap dalam bekerja.

"Publik banyak kecewa dengan pemerintahan Jokowi-JK dan meminta Presiden untuk melakukan resufle," kata Pemimpin Redaksi Monday Magazine dalam dialog publik 'Menanti Resufle' di kawasan Blok M, Jakarta, Selasa (16/6).

Berdasarkan riset di media sosial, menteri yang paling mendapat persepsi negatif yaitu, Menteri BUMN Rini Soemarno (93 persen), Menko Perekonomian Sofyan (77,1 persen), Seskab Andi Widjojanto (73 persen), Menkumham Yasonna Laoly (72 persen), dan Menko Polhukam Tedjo Edhi Purdijatno ( 71 persen).


Nafi menambahkan dalam keterangannya, sentimen negatif yang didapatkan Rini Soemarno karena sering kali mengemukakan gagasan yang tidak populis dan menyulut kegeraman publik. Dia mencontohkan, seperti keinginan menjual Gedung Kementerian BUMN hingga mewacanan pelarangan jilbab panjang di Kementerian BUMN.

Di tempat sama, pengamat politik Sukron Jamal menilai, kabinet yang mendapat persepsi positif adalah Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti yang memiliki gaya kepemimpinan yang progresif, cepat, tidak kaku dan ceplas-ceplos.

"Ini dapat menggugah kesadaran masyarakat bahwa pemerintah Jokowi serius membawa Indonesia menjadi poros maritim dunia," kata dia.

Sukron menyebut, banyak peraturan yang dibuat Menteri Susi berguna untuk menyelematkan dan melindungi kekayaan laut Indonesia. "Di tengah cibiran banyak pihak, Susi membuktikan bahwa omongannya yang pernah dilontarkan bukan gertak sambal," kata dia.

Sebab, kaya dia, banyak kapal-kapal asing pencuri ikan benar-benar diledakkan dan ditenggelamkan.

"Pemakain pukat Harimau oleh nelayan lokal diperketat agar tidak merusak ekosistem. Beliau juga suseks membongkar praktik perbudakan dan perdagangan manusia di Benjina yang melibatkan perusahaan ikan asal Thailand," tukas Sukron. [rus]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Galang Kekuatan Daerah, Reynaldo Bryan Mantap Maju Jadi Caketum HIPMI

Sabtu, 16 Mei 2026 | 08:13

Anak Muda Akrab dengan Investasi, tapi Tanpa Perencanaan Finansial

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:59

Cuaca Ekstrem di Arab Saudi, DPR Ingatkan Jemaah Haji Waspadai Heatstroke

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:46

Dolar AS Menguat 5 Hari Beruntun Dipicu Lonjakan Minyak dan Efek Perang Iran

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:33

Sindikat Internasional Digrebek, Komisi XIII DPR Minta Pemerintah Serius Berantas Judol!

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:19

STOXX hingga DAX Ambles, Investor Eropa Dibayangi Risiko Inflasi

Sabtu, 16 Mei 2026 | 07:03

Pesanan Hukum terhadap Nadiem Bernilai Luar Biasa

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:44

Volume Sampah di Bogor Melonjak Imbas MBG

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:37

Industri Herbal Diprediksi Berkembang Positif

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:23

Adi Soemarmo Masuk Tiga Besar Embarkasi Haji Tersibuk

Sabtu, 16 Mei 2026 | 06:16

Selengkapnya